The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 28 : Kekhawatiran



"Oh ya, aku mau menyampaikan sesuatu, mau dengar?" tanya Rose.


Di Rosement....


Jam 23.00


Semuanya belum tidur karena Khawatir kecuali Toni.


Tit! Tit! suara pesan suara di telepon kantor yang di gunakan oleh semua Staf atau penjaga di Rosement untuk tetap menjaga keamanan Rosement.


Tit! Rahmat menekan pesan suara itu.


"Ya?" tanya Rahmat.


"Mas Vian sudah kembali! " kata Staf Rosement.


"Segera bawa dia masuk!" kata Rahmat.


Tit!


"Vian sudah kembali" kata Rahmat.


Mereka terbelalak, dan langsung menuju ke Vian.


Drap! Drap! Drap!


"Vian!" kata mereka.


Brrrm!! Motor Vian ia parkir kan di parkiran Rosement.


"Tumben banget pake motor gede? biasanya diantar supir Rosement pakai mobil" kata Toni sambil membawa bantalnya.


"Vian!! kamu darimana!?" tanya Nera.


"Sudahlah aku capek, Rahmat sudah ada makanan ngga?" tanya Vian.


DUAK!!! Kepala Vian di pukul oleh Vanora.


"A... Aduh!! kenapa Van!?" tanya Vian.


"Sudah pergi tidak memberi salam! seenaknya saja meminta macam-macam! jelaskan kemana tadi kau pergi cepat!" kata Vanora yang bahkan sudah membawa sapu lidi untuk melibas Vian.


"Ah, aku tadi hanya ada urusan, aku... capek" kata Vian yang matanya tiba-tiba kabur.


"Vi... Vian!?" tanya Amanda.


"Amanda?" tanya Vian dengan pelan.


BRUK! Vian terjatuh dan pingsan di tempat.


"Ke... Kenapa Vian, Amanda!?" tanya Vandro yang baru datang.


"Vian pingsan! cepat bawa ke Ruang rawat!" kata Amanda dengan panik.


"Tu... Tubuhku... tidak bisa bergerak " batin Vian.


Flashback On...


"Memangnya apa yang ingin kau beritahu?" tanya Vian.


"Memangnya kenapa?" tanya Vian.


"Sejujurnya saja, saat aku di dekatnya... aku merasa seperti aku memiliki malaikat pelindung, dan entah kenapa ia memiliki banyak keberuntungan juga meski dia memiliki emosi seperti manusia kebanyakan, tapi hatinya seperti malaikat, kau mungkin akan merasakannya nanti, Albert, mengingat mu yang terpaksa meminum Optik 294,1 hanya demi menghindar dari kami" kata Rose mengarah ke motornya.


"Kau, mau kemana? pistolnya?" tanya Vian.


"Pistol ini? dasar naif, ini pistol mainan, tentu aku akan kembali ke kelompokku, ingat! jaga dia baik-baik, jika ia orang yang sangat berharga bagimu, maka kau dan dia adalah orang yang sangat berharga bagiku" kata Rose sambil memakai Helmnya.


"Ok, sampai jumpa Albert" kata Rose sambil membawa motornya menjauh dari Gedung Rongsokan itu.


Flashback Off....


Jam 02.00 pagi...


"Hah! Hah! Hah!" Vian yang tiba-tiba begitu saja sadar.


"Di.. di ruang rawat inap? oh iya! semalam aku pingsan" kata Vian.


"Amanda!? nungguin aku? " batin Vian yang melihat Amanda tidur terduduk menemaninya.


"Hei? dah sadar maniak komputer?" tanya Randi yang masuk.


"Hah!? Randi?" tanya Vian.


"Kenapa kaget? kayak lihat hantu" kata Randi.


"Ma... Maaf, aku hanya kaget" kata Vian.


Randi datang membawa selimut, "Semalam, Amanda ngga mau keluar ruangan, pengen nemenin, kita semua juga agak heran"


"Apa.... Amanda sudah tahu identitasmu?" tanya Randi sambil menyelimuti Amanda dengan selimut.


"Hah!? maksudmu?" tanya Vian.


"Ya, kau pernah cerita kepadaku kalau Amanda mirip dengan seorang perempuan teman masa kecilmu" kata Randi.


Randi berpikir, "Namanya sama, dia bahkan bercerita padamu soal Erlan. Sedangkan kau sendiri itu Erlan, bukannya itu sudah jelas? tapi katamu wajahnya 75% berbeda dari yang dulu"


"Ingat, secara harafiah perkembangan seseorang akan berkembang, mengikuti wajahnya. Itu wajar!" kata Randi.


"Dan, apakah ia sudah tahu? identitasmu yang sebenarnya sebagai Erlan Ramanathan yang menyamar menjadi Sovian? hanya untuk menghindar dari organisasi itu?" tanya Randi.


"Ka-.... kalau begitu, kenapa ia tidak memberitahu aku? kalau ia tahu identitasku?" tanya Vian.


"Mungkin saja, ia ingin agar kau yang mengatakannya sendiri, dia takut kalau kau akan menyangkalnya"


"Aku, tidak tahu Randi, aku sudah banyak sekali menyakitinya dan berjanji akan kembali, dan dia sama sekali tidak pernah menggerutu, dan terus menunggu" kata Vian.


Vian mengernyit, "Soal wajah, kau salah Randi. Amanda memiliki tabiat wajah yang tidak dapat berubah karena punya unsur baby face, hal ini memang mustahil. Tapi ia mempunyai darah langka, pasti ada faktor lain yang menyebabkan hal tersebut terjadi"


Randi terdiam.


"Huh! gara-gara Vanora sih! jitak kepala aku! aku kan udah bilang minta makan! jadinya pingsan deh" kata Vian.


"Gara-gara siapa kau bilang?"


"Va... Vanora!?"