The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Bonus! Chapter 40 : Epilog



Tempat, karakter, Organisasi, hal-hal lain yang terdapat di Novel ini hanyalah karangan Author saja, dan termasuk fiktif belaka, selamat membaca.


********


"Hah? apa-apaan ini?"


Dua orang laki-laki sedang duduk berhadapan bermain catur.


Erlan Ameera / Kitagawa Mizuki (32)


"Apakah begini caramu bermain catur, Andika? kalau begini terus bahkan Presdir Muzakki bisa saja menertawakan mu! bahkan Amanda pasti dapat mengalahkan mu dengan sangat mudah" Kata Erlan mengejek Putranya dengan dingin.


Andika Ameera / Kitagawa Kenzo (12)


"Huft! jangan semena-mena dong Yah! eh? Ayah! kau adalah Shinobi legendaris ke 8 kan? kau adalah pemimpin Verheaven! tapi, kenapa Shinobi sepertinya baru di bentuk di era ini? bahkan di kerajaan Carna saja baru lho?" tanya Andika yang kalah main catur 5× berturut-turut.


"Ceritanya panjang, kau sekarang fokus dengan belajar saja, urusan Carna dan Verheaven biar aku dan Amanda yang mengurusnya" Jawab Erlan dengan dingin lagi.


"Lalu, kenapa Paman Andra, secepat itu memberikan tahta Carna pada Ibu? padahal dia bisa saja lebih lama andil akan hal itu kan?" tanya Andika.


"Cerna dulu perkataanku tadi baru bertanya" kata Erlan tanpa melihat dan akan pergi.


"Ayah? mau kemana?" tanya Andika.


Erlan diam sambil mengambil jubahnya.


"Apakah... Ayah akan pergi? lagi?" tanya Andika.


"Jaga Adikmu" kata Erlan sambil melompat melalui jendela dengan secepat kilat.


"Dasar! lebih baik.. ku cari Yun-chan ah!" gumam Andika keluar dari ruang old room Ameera Family menuju aula istana dan pergi mencari adik bungsunya.


Andika terus berjalan menyusuri lorong-lorong yang megah dengan ukiran dan vas-vas yang berjejer rapi, tapi sebuah foto membuat langkahnya terhenti.


"Lho? ini kan... foto keluarga bersamaku, Ayah, Ibu, Amir dan Umar, juga Yun-chan saat acara penobatan Ayah di angkat menjadi Raja menggantikan kakek Daniel, iya ya... waktu itu Yun-chan... " batin Andika sambil membayangkannya dengan bergidik ngeri.


Flashback 5 tahun yang lalu...


Di Verheaven...


Erlan ada acara penobatan untuk kenaikan menjadi Raja resmi pemimpin Verheaven.


"Makanan kalian sudah siap" kata Amanda yang mempersiapkan sarapan, dia sengaja karena sedang senggang, jika ada pekerjaan, dia akan meminta pelayan untuk mengambil alih tugas memasak.


Erika membantu Amanda meletakkan makanan di meja.


"Oh ya! apakah ada di antara kalian bisa membangunkan Ayah kalian untuk Ibu?" tanya Amanda.


Amir Ameera (6)


"Maafkan aku Bu, aku harus menyiapkan perlengkapan kita" kata Amir.


Umar Ameera (6)


"Aku akan membantu Amir bu" kata Umar.


Erika Ameera / Kitagawa Yuna (5)


"Baik!" Erika langsung pergi ke kamar tidur yang biasanya Amanda dan Erlan tidur bersama.


Ceklek!


Terdapat Erlan yang tidur benar-benar pulas setelah sholat subuh.


"Papa! Wake up!" bisik Erika sambil menyentuh tangan Erlan dengan telunjuknya.


"Wake up!"


"Ish! Ish! Ish! Yun-chan, bukan gitu cara bangunin Ayah dengan cepat!" kata Andika sambil meletakkan segenggam krim cukur di tangannya dan melayangkan krim itu.


"He?" Erlan baru bangun dan masih ngelindur.


PLOK! Krim itu tepat mendarat di muka Erlan.


"Wadaw!!!!"


Akhirnya berlanjut dengan mereka yang sarapan bersama sampai akhirnya...


"Maaf ya, kalau Pin bros tanda kepemimpinan yang biasanya di gunakan pemimpin baru Carna, Verheaven, atau beberapa negara lainnya belum selesai di buat" kata Amanda.


"Sungguh? kapan bisa jadinya? acara penobatan yang akan di hadiri rakyat dan 5 pemimpin kota besar Carna akan dimulai pukul 10.00" kata Erlan.


"Ya,... tapi, Nenek Asiyah, dialah yang membuatkan keperluan Pin bros para pemimpin, Shinobi, dan pemimpin kerajaan sebelumnya, dan dia sama sekali tidak ingin aku membiarkan dia membantunya" Jelas Amanda.


"Aku mengerti, tak apa" kata Erlan.


"Kalau begitu setelah makan cepatlah bersiap, aku akan mengambilkannya di tempatnya langsung, jika kalian sudah siap, pergilah ke Monumen Verheaven, semuanya sudah menunggu" kata Amanda sambil memakai jubahnya.


"Aku jadi ingat saat Penobatan Amanda menggantikan kepemimpinan Andra, aku pertama kali melihat nenek Asiyah, dia benar-benar tua" batin Erlan.


"Makasih, ayo cepat habiskan makanan kalian"


Di rumah bagian selatan Verheaven...


"Nyonya Asiyah, terimakasih" kata Amanda.


"Tidak perlu begitu Paduka Ratu, sudah tugas... uu, saya yang melakukannya"


"Beliau benar-benar bekerja keras, hasilnya bagus sekali" batin Amanda senang.


Amanda akhirnya langsung ke Monumen Verheaven, di sana sudah ada Daniel Paman Erlan, Andra, Zaki, Putra, Rafa, Vandro, Adimas, dan Azka, juga Alen adik tingkatnya yang telah menjadi Shinobi.


"Kak Andra!" kata Amanda.


"Lho? Erlan belum datang?" tanya Andra.


"Eh? aku tadi sudah bilang padanya akan ketemu di Monumen Verheaven, dia belum sampai?" tanya Amanda.


"Acara akan dimulai dan anak itu masih suka lelet? memang itu anak! mirip sekali dengan Ayahnya!" kata Daniel, dia sudah menganggap Erlan sebagai Putranya sendiri.


"Tenang Ayah, baiklah aku akan ke istana untuk memeriksa!" kata Amanda sambil berlari.


Meanwhile di istana...


Erlan sudah memakai baju seorang raja, dengan jubah, pin, dan perlengkapan lain-lain.


"Andika, Amir, Umar, Erika! Cepat atau kita akan terlambat!" kata Erlan.


Di Ruang keluarga...


"Kak! aku pengen bawa buku cerita ini! biarkan aku membawanya! ini hadiah dari kak Nisa!" kata Erika yang sedang berebutan dengan Andika, sedangkan Amir dan Umar sedang diam tak bisa membela salah satunya.


"Ngga! merepotkan saja! lagipula kau mau baca dimana coba?! udah lepas aja Yun-chan!" kata Andika yang menggunakan nama panggilan adiknya.


"Ngga mau!!!" kata Erika yang masih tetap memaksa.


Sedangkan di lapangan Monumen sudah banyak sekali dari warga Carna sampai Verheaven.


"Tak ku sangka, si Erlan maniak bola akan menjadi Raja" kata Nina.


"Ya, tidak ada yang tahu, kenapa Zeydan hanya sendiri? mana Nisa?" tanya Ariel.


"Nisa saking banyak kerjaan sekolah tidak ingin ikut dengan adiknya katanya" kata Nina.


"Yah, kau memang, biarkan sajalah" kata Ariel bersama Pasha anak laki-laki semata wayangnya.


"Tapi, dimana mereka? seharusnya sudah ada di Puncak Monumen kan?" tanya Nina.


Sementara itu...


"Letakkan saja!! Amir! Umar! bantu aku!!!" Seru Andika yang masih tarik-tarikan dengan Erika.


"Jangan! kakak kembar, bantu Eri saja!!" kata Erika.


"Sebaiknya, kak Andika ngalah aja! gak apa Erika ntar bawa" kata Amir.


"Ntar malah berat!! dan bikin repot!" kata Andika.


"Erika, ngalah yuk kalau gitu, ntar kalau repot siapa yang mau bawa coba?" tanya Umar.


"Pokoknya gak mau!!! kok kakak kembar dukung kak Andika sih?!" tanya Erika.


Buku itu di tarik dan semakin di tarik.


Buku itu semakin robek di tengahnya.


BREEET!! SRAAK!


Erika terjatuh karena buku itu robek, sedangkan Andika kaget karena itu.


"Kak Andika! Erika! kalian baik-baik saja?" tanya Amir.


"Erika sih, ngga ngalah" kata Umar.


"Duh Robek, maaf ya!" kata Andika.


Erika berdiri membelakangi ketiga kakaknya dengan memegang sobekan buku dan langsung berbalik menatap ketiga kakaknya dengan melotot.


"Eh? Ma... mata Hijau itu, itukan mata yang sama dengan milik Ibu. Mata Ibu berwarna hijau saat sedang mencari sesuatu, aku baru melihat yang seperti ini" batin Andika.


GRT! Mata Erika semakin melotot.


"E... Eri, jangan serem-serem dong!" kata Amir.


Tiba-tiba...


GUBRAK! CRANG! PRANG! GEDEBUK!


"Anak-anak! kalian dimana?" tanya Erlan yang mulai menyusul ke ruang keluarga.


BRUK! Andika, Amir dan Umar terlempar sampai menabrak dinding tepat di depan pintu ruang keluarga.


"A... Ayah!!! Tolong!" kata Amir.


"I.. itu!" Umar mulai tidak dapat bicara.


"Yun-chan marah dan menjadi sangat kuat! mulai tak terkontrol! dia bagaikan medusa!! hii!!!! dia kesini!!!" Seru Andika.


Erika muncul dengan melotot fokus menyeramkan pada ketiga kakaknya, tangannya membentuk teknik karate.


"Silent!?!?!? bagaimana bisa dia mengaktifkannya?!?" tanya Erlan langsung buru-buru ke arah ketiga Putranya.


"Ippon... Nukite" kata Erika langsung melompat dengan tekanan kaki dan ingin menusuk kakak-kakaknya dengan jurus karate yang pernah Amanda tunjukkan.


"Erika hentikan! kita bisa ter-... " Erlan muncul melindungi Putra-Putranya.


JLEB! Tusukan jari telunjuk Erika tepat mendarat di leher Erlan.


"GUH!!!"


"Hii!!!!"


Wajah Erlan langsung benar-benar pucat tak berwarna dan pingsan di tempat.


Sementara itu di Monumen Verheaven....


"Ck! Lama sekali" kata Zaki.


"Ana bahkan belum memberi kabar sama sekali" kata Andra.


"Kalau begitu,... Alen, tolong ya, hanya kau yang dekat dengan Amanda dan Erlan dulu" kata Putra.


"Baik! saya akan lakukan yang terbaik!" kata Alen.


"Baiklah, kalau begitu Andromeda, apakah kau bisa melakukannya?" tanya Andra.


"Akan ku lakukan yang terbaik!" kata Andromeda sambil melakukan jurus, mengambil pakaian, dan beberapa alat make up.


Acara akhirnya dimulai.


"Dengan ini... aku, Raja Daniel mengangkat secara resmi, Erlan Ameera menjadi pemimpin kerajaan Verheaven, dengan kepemimpinannya di anggap sah"


Banyak yang bersorak mendengar itu.


"Silahkan, maju untuk menyapa" kata Daniel.


"Apakah ini gak apa?" tanya Putra.


"Hanya ini cara yang ada, kita gak bisa ngulur waktu lagi" bisik Zaki.


Maju dan maju ke arah depan untuk menyapa para rakyat dari atas Monumen.


"Baiklah! Aku sebagai Erlan Ameera benar-benar terhormat dengan di tunjuk sebagai pemimpin Verheaven! terimakasih semuanya! terimakasih,... " Mengucapkan terimakasih diantara sorak-sorakan yang ada.


"Ha... Ha, Terima... kasih"


"Aku minta maaf ya kak Erlan dan kak Amanda... aku terpaksa menggantikan Kak Erlan, semoga urusan kalian di istana cepat kelar" batin Alen yang ternyata menggunakan jurus Mimesis untuk peniruan.


"Ya, lebih baik seperti ini"


Di Istana Carna...


"Astaghfirullah hal adzim, Ethan-kun! kenapa bisa begini?! kau pingsan!? mukamu pucat sekali" kata Amanda saat kaget melihat Erlan pingsan dengan wajah benar-benar pucat di depan pintu ruang keluarga.


"Siapa yang melakukan ini!? Eh!? I... Inikan Ippon Nukite!? dengan dorongan Mana, teknik karate yang menusuk lehernya dengan ujung jari telunjuk" kata Amanda saat memeriksa leher Erlan yang ada tanda bekas.


...____________...


"Entah kenapa aku merasakan Mana Silent, Yumna" kata Aika.


"Aku akan menyembuhkan Ethan-kun dengan teknik penyembuh" kata Amanda.


"Meski begitu, itu tak akan mengubah kenyataan bahwa dia akan pingsan selama 1 hari penuh"


...____________...


Amanda memberikan sedikit Mananya agar tubuh Erlan mempunyai tenaga.


"Ippon Nukite,... salah satu teknik karate mematikan, dengan dorongan Mana juga aura Silent, ya? tapi, siapa? yang melakukannya?" batin Amanda.


Sementara itu, di lantai 2...


Andika, sedang bersembunyi di dalam kamar mandi.


"Ngapain kalian disini juga?" bisik Andika.


"Ya Eri nyeremin banget saat marah! ini salah kak Andika sih!" bisik Amir.


"Ya!" kata Umar mendukung Amir.


"Glek... Yun-chan dapat menusuk Ayah dengan sekali tusukan jari! jika seperti itu Ayah saja sudah tumbang apalagi kami!" batin Andika.


"Kakak.... kalian dimana?????"


"Hii!!!!" batin mereka bertiga.


Kreeeaat!!!! Pintu ruang ganti sebelum kamar mandi yang lampu mati di buka.


Tap! Tap! Tap!


"Kak.... kakak,.... aku sedang mencari kalian,... ding dong ku datang padamu~~~~" Erika dengan mata Silent merah.


"Me... Menyeramkan!!!" batin mereka bertiga.


Erika berbalik ke arah kamar mandi.


"Oh,... ada sese-... eh? lebih lho, wah... seneng bisa ketemu semuanya nih, he.. he,... main petak umpet ya??? Ding Dong, ku datang padamu, bukalah pintu, tak mungkin sembunyi~~~" kata Erika yang membuka pintu.


Ceklek! Blam!


"Waktunya bersenang-senang"


"HUAAAAA!!!!!"


Silent, dapat melihat seseorang meski terhalang sebuah objek, penggunanya juga dapat merasakan aura seseorang atau lebih, dapat merasakan niat seseorang jahat atau baik, jika ada orang yang menatap Silent yang sedang aktif, maka dia tidak akan bisa bergerak sampai penggunanya yang melepaskannya.


Silent bahkan dapat mengumpulkan dan menguatkan pusat energi yang ingin di tambah, namun harus mengendalikannya dengan sangat telaten dan teliti, bahkan perlu konsentrasi yang cukup agar tetap terkendali.


Silent yang di miliki Putriku Erika... adalah Silent murni karena kebanyakan gennya menurun padaku, oh ya! Satu lagi, Silent juga dapat memperkuat pergerakan seseorang jika sedang marah atau sesuai niatnya untuk melukai sesuatu, jadi berhati-hatilah dan jangan membuat pengguna Silent menjadi marah.


Flashback Off....


"Mengerikan sekali saat Yun-chan marah" batin Andika.


"Lebih baik ku cari dia ah!" gumam Andika yang langsung pergi berlari meninggalkan foto keluarga yang benar-benar berharga.