The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 77 : Trauma Alen (2)



"King? kenapa dengannya?" tanya Amanda sambil meletakkan beberapa kertas dari tangannya ke meja.


"Sebenarnya, tadi saat mau ke kantor HMJ buat nyari Nina tentang data-data diagram beberapa kelas saja yang sudah bayar karena aku bendahara, aku tadi ngga sengaja lewat di ruang kelas 2 reguler, kalau ada seorang siswi yang satu kelompok dengan Alen itu tidak di kategorikan mengerjakan tugasnya oleh Alen yang selaku ketua kelompok" Jelas Zaki.


"Lalu?" tanya Amanda menyimak.


"Dan akhirnya Alen hanya kesal akan hal itu, aku sih berpikir... bukankah itu agak berlebihan?" tanya Zaki.


"Jadi kau menghadap ku karena itu ya? apa ada yang lain?" tanya Amanda.


"Ng!? Aura ini... ada di samping pintu, mungkinkah? tapi ngga mungkin deh" batin Amanda.


"Ngga ada sih" kata Zaki.


"Sayang sekali, padahal aku ngga ingin kak Amanda tau secepat ini, karena sikapnya pasti ngga bakal sama lagi seperti sebelumnya. Mungkin dia bisa saja pura-pura tidak tahu, tapi pasti bakal canggung, atau jadi malas meladeni ku, atau yang paling membosankan dia akan menceramahi ku seperti yang lain" batin Alen.


"Padahal aku masih ingin bermain-main dengan kak Amanda, tapi sebentar lagi, kak Amanda akan sama membosankan nya dengan yang lain" batin Alen sambil tersenyum kecewa dan akan pergi dari ruang HMJ.


...Sama seperti mereka yang menilai sebelah mata....


"Kira-kira... apa yang sudah dia alami sampai-sampai dia punya keberanian melakukan itu?" tanya Amanda sambil bertopang dagu dan membuat langkah Alen terhenti dan terbelalak.


"Maksudnya?" tanya Zaki.


"Iya, mungkin saja terjadi sesuatu yang membuatnya sampai ke titik dimana dia ngga peduli dengan sekelilingnya lagi" kata Amanda.


"Eh!!? Apa!? aku ngga salah dengar!?" batin Alen yang berbalik ke belakang, tapi cerobohnya jurnalnya jatuh.


GPLAK!


"Bambank!!!! ngapa main jatuh segala sih!!?" batin Alen.


"Ng? king? rupanya benar kamu disini?" tanya Amanda yang keluar bersama Zaki.


Alen membatu melihat dia tepergok.


"A... anu! ini salah paham kak! tadi sebenarnya a... aku! mau konsul jurnal, tapi denger kakak dan kak Zaki lagi bicara serius jadi mutusin mau pergi, tapi jurnalnya malah jatuh, hehe" kata Alen gugup untuk menyangkal.


"Ini Bocah kagak bisa bohong" batin Zaki.


"Ya udah Nda,... makasih, aku tinggal dulu ya mau ketemu Nina" kata Zaki.


Tinggallah Amanda dan Alen di situ, suasana hening.


"King"


"I... iya kak!?"


"Kamu bawa-bawa jurnal, artinya ada yang mau di tanyain ya?" tanya Amanda.


"Lho!?" batin Alen.


"Kalau gitu... tunggu aku di taman kampus ya, aku mau simpan berkas dulu" kata Amanda sambil mau ke ruangan HMJ.


"Eh!? sikapnya kak Amanda biasa saja!? dia mau pura-pura ngga tahu!?" batin Alen.


"Kak... Kak Amanda!!" Panggil Alen


"Ya?" tanya Amanda berbalik dan menatap Alen.


"Kak Amanda... bahkan, setelah mendengar semua itu,... tatapan mata, tatapan pertama kali bertemu, sama sekali tidak berubah, tatapan nya masih saja ramah" batin Alen.


"King? Yuhuu? are you okay? ada apa?" tanya Amanda.


"Ng... ngga! ngga apa-apa kak!" Seru Alen.


"Ngga perlu pakai teriak segala, Dasar... Haha" Amanda tertawa kecil.


"Aku ke ruang HMJ dulu ya"


"I.... iya"


Kak Amanda... aku pikir, sikapnya seperti.....


Saat aku SMA, aku di kategorikan anak yang pintar... bahkan banyak sekali yang ingin aku masuk di kelompok mereka.


"Alen! kamu masuk sini ya!" begitu familiar nya mereka memanggilku.


Setiap malam aku menunggu pekerjaan mereka untuk ku pisahkan dan ku pilah informasinya, sebagai wujud kerja kelompok tapi...


Grup.....


Maaf ya Len! aku ada acara keluarga


Maaf aku ada urusan!.


Aku ada acara keluarga.


_______


"Yah... apa boleh buat"


Aku yang masih polosnya mengerjakan itu sendirian, dan kami mendapat nilai bagus karena kerja keras itu,... aku pikir tidak apa-apa.


Tapi semakin lama makin ngelunjak,... hingga, si dia yang menyebabkan ku seperti ini.