
"Assalamu'alaikum, ada apa?" tanya Amanda.
"Kenapa lama angkatnya? seharusnya cepat dong... " kata Rafa lewat telepon.
"Saya harus memastikan agar tidak ada yang melihat, Pangeran" kata Amanda.
"Pangeran? aku kurang suka panggilan formal seperti itu, ada panggilan yang lain ngga sih?" tanya Rafa.
"Eh... begitu ya?" tanya Amanda.
"Sebelumnya kita belum kenalan ya? BTW namaku Rafa, lengkapnya Rafanza Zevan Ameera, panggilan sih Rafa" kata Rafa.
"Oh begitu, kalau namaku Amanda Dallena, salam kenal" kata Amanda.
"Ya... ok Aman... da? bagaimana laporanmu tentang Apartemen itu?" tanya Rafa.
"Ng... baik, kita mulai darimana... Eh!? ma... maaf! saya tutup dulu, senior saya menghampiri saya, bagaimana jika malam?" tanya Amanda.
"Ok, malam nanti akan ku kirim sebuah pesan" Kata Rafa sambil mematikan panggilan.
TUT!
"Amanda! lagi teleponan ya? Eh!? Ponselmu ganti lagi?" tanya Riri.
"Ng... anu, begitulah kak... Ponselku.. satu lagi sedang di... em... servis!" kata Amanda mengarang.
"Oh, ya udah, yok! kerja" kata Riri.
"O... Ok!"
"Aku berhasil mengalihkan perhatian" batin Amanda.
Saat bekerja...
"Kak Riri! aku mau lihat ke loker dulu, mau ambil bekal, kak Riri mau ke loker juga ngga?" tanya Amanda.
"Ya dong! yo!" kata Riri.
"Ng... Lokerku kunci nomor 24" gumam Amanda sambil membuka lokernya.
Tiba-tiba...
KRRSK! Banyak sekali kertas yang keluar dari loker Amanda.
"Wah! apaan tuh Amanda? surat cinta atau surat kondangan?" tanya Riri.
"Kayaknya lokerku di bobol deh, tahu deh kak, ku beresin dulu ya" kata Amanda.
"Cih! OG baru itu... dia kan OG yang baru-baru aja masuk, udah dapat banyak banget perhatian" bisik karyawan perempuan dan OG lain, kecuali Riri yang emang simpati pada Amanda.
"Grr.. udah pada kerja sono, ngga usah pada ghibah!!!" seru Riri pada mereka sambil membantu Amanda.
"Ba... Baik!" mereka memang ngeri pada Riri yang tomboy, makanya saat di beritahu tidak akan mereka ulangi lagi.
"Ngga kok Kak, ini kertasnya aku taruh di loker aja dulu deh" kata Amanda.
"Ya"
"Kurasa ini pernah terjadi saat aku SMA, bahkan lokerku banyak sekali seperti ini... aku kena karma atau kenapa ya?" batin Amanda pasrah.
Di CCTV...
"Ya Ampun... adikku sudah dapat banyak penggemar atau gimana?" gumam Andra heran tersenyum saat dia melihat di CCTV jarak jauh, dia memang bisa memegang kendali CCTV utama meski tidak ada di tempat.
Radith hanya memperhatikan saja..
"Tuan... kita sudah sampai di markas Interpol 2" kata Radith.
"Tentu.... ayo, kita temui sekutu kita" kata Andra.
Malam harinya di parkiran Rosement...
"Vian, makasih ya udah mau bantuin" kata Amanda tersenyum.
Vian menatapnya.
"Huh, lagipula aku melakukan ini karena kau buat masalah" kata Vian sambil memalingkan wajah karena tidak tahan.
TING!
"Ahaha, begitu ya... ng? sudah ada pesan?" gumam Amanda.
"UAPA!!!?" tanya Amanda melihat pesan dari Rafa.
"Ada apaan emang?" tanya Vian.
Setelah mengganti pakaian Amanda langsung ke dapur di susul Vian.
Di Dapur...
"Pak Vandro!" panggil Amanda.
Vandro berbalik.
"Oh Amanda, ada apa?" tanya Vandro.
"Ng... sebelumnya jika bapak tidak keberatan, aku ingin meminta tolong pada bapak" kata Amanda agak ragu.
"Meminta tolong apa?" tanya Vandro sambil tersenyum.
"Tolong mengupillah" kata Amanda.
"Apa?" tanya Vandro yang kaget mendengar itu tapi reaksinya tetap tersenyum.
⚡JDDER! ⚡