
Sebelumnya di Rosement...
06.00
"Begitulah Pak Andi, saya sepertinya sudah membuat Amanda ngga nyaman atas desakan ku minggu lalu" ucap Vandro di saung.
( Season 2 Chapter 40 )
Pak Andi menggerakkan tangannya ke arah Vandro, Vandro mengira ia akan di pukul.
"Nak Vandro jangan terlalu keras dengan Nak Amanda, memang saya ngerti Nak terlalu khawatir, tapi Nak Amanda itu masih remaja belum terlalu memasuki dunia kedewasaan, jadi mungkin dia tidak terlalu nyaman atas perilaku Nak Vandro yang membuatnya tidak bisa merasa bebas" ucap Pak Andi sambil mengusap kepala Vandro yang membuat Vandro sedikit malu karena diusap.
"Jadi menurut Pak Andi bagaimana?" tanya Vandro.
"Sebelumnya kalau boleh saya ingin memberi tahu, kalau Nak Amanda itu adalah perempuan yang selalu merasa sendirian, itulah kenapa dia sudah terlalu nyaman dalam kesendirian dan kesepian, dia tidak berbaur dengan sosial seperti yang rata-rata anak remaja seumuran dengan Nak Amanda yang lebih banyak bergaul" ucap Pak Andi.
"Tapi untuk itu tugas kita perlu menyadarkannya agar tidak perlu kesepian, itu salah satu fungsi dia ada di Rosement, jadi Nak Vandro boleh khawatir tapi agak biasa saja" saran Pak Andi lagi.
"Begitu ya" kata Vandro.
"Nak Vandro selalu semangat! jangan terlalu lesu begitu" kata Pak Andi.
Flashback Off...
Sebelum kejadian Amanda...
Drap! Drap! Vian berlari...
"Dasar si Wildan! berbuat seenaknya!" ucap Vian sambil mengambil ponsel Wildan.
"Cepat angkat Bodoh!"
Tit!
"Halo?" tanya Amanda.
"Kamu dimana!?" tanya Vian.
"Eh.... Vian, di... di parkiran, ada apa?" tanya Amanda.
"Diam! sekarang dengarkan ucapan ku baik-baik! Si Wildan itu bohong! kau telah di jebak! dengar, pegang baik-baik Ponselmu! aku sudah memodifikasi kamera serta Mapsnya agar bisa tetap ada koneksi denganmu" kata Vian.
( Season 2 Chapter 40 )
"A... Apa maksudnya Vian!?" tanya Amanda ngga mengerti.
"Intinya cepat kembali masuk!" ucap Vian.
"Kenapa?" tanya Amanda.
"Kau dalam baha-" belum selesai Vian bicara.
"Kena kau! " Tit! Panggilan di matikan.
Sementara itu di ruangan Vandro...
"Anak sepertimu itu seharusnya memang selalu sendiri!!! tidak usah banyak tingkah"
"Ng!? hah! kenapa mimpi itu lagi!? syukurlah aku masih di kantor" ucap Vandro dan langsung ke kamar mandi untuk mencuci muka.
KRIING! KRIING! Ponsel Vandro ada masuk panggilan.
"Ng? Ya? Halo kenapa Vian?" tanya Vandro.
Kembali ke Amanda...
Amanda hendak menendang.
"Eits, maaf saya tidak bisa membiarkan anda menyakiti beliau" kata bodyguardnya, Bima!.
"Heh! baru aja ketemu udah main tendang aja!" kata Orang itu sambil melepaskan maskernya, Rafa!.
"Hah!? ka.. kau! Pangeran waktu itu!" kata Amanda.
"I... Ini apa!? lepas! lepas!" kata Amanda memberontak.
Mata Senyap Amanda berubah terus tidak karuan, sampai matanya berhenti di warna merah.
Dengan secepatnya Amanda membuat kram tangan Rafa lalu memutar balikkan dia dengan bantingan punggung, Bima melihat itu seakan tidak percaya yang dia lihat.
BRUK!
"A... aduh!" kata Rafa.
"Ya... Yang Mulia!" kata Bima menghampiri Rafa.
Dengan lantas Amanda akan lari, tapi sebuah tindakan Rafa menghentikan tindakan Amanda.
"Berhenti! kalau kau lari dan memberontak, aku akan menyebarkan Fotomu dengan si GM ini" kata Rafa sambil meringis karena tangannya.
"Fo... Fotoku dengan Pak Vandro! sejak kapan dia...." batin Amanda.
"Cepat masuk! jika tidak-.... "
"Ba... Baik! tapi hentikan tindakan anda, jika anda tetap menyebarkan setelah saya mengikuti perintah anda, saya akan pastikan anda akan kehilangan tangan anda!" Ucap Amanda dengan tatapan tajam, yang warna matanya langsung berubah menjadi merah kehitaman.
"O... Ok" ucap Rafa yang agak ketakutan.
"A... Ayo Bima!" kata Rafa.
Ceklek! Blam!
Kembali ke Ruangan Vandro...
"Duh! gawat!" kata Vian.
"Apa!? Amanda sedang diinterogasi!?" tanya Vandro.
"Bagaimana? jawab semuanya tentang Apartemen itu! apa yang kau sembunyikan!?" tanya Rafa di rekaman CCTV Ponsel Amanda.
"Apakah kau mau!? fotomu dan si Vandro ini ku sebar sebagai berita skandal di perusahaan!?" tanya Rafa.
"Sudah ku Modifikasi Ponsel Amanda, jadi untuk Kamera bisa menampilkan apa yang terjadi selama ada pada jaringan, untuk rekaman suaranya disini semua nya lengkap bahkan peta Ponselnya, bisa gawat! si Bodoh itu jangan percaya si Pangeran itu! gak akan pernah ku biarkan si Rafa menyebarkan Hoax di Teritori ku!" kata Vian.
"Kalau begitu, bagaimana dengan usaha Laundry temanmu!? mau ku buat bangkrut?" tanya Rafa semakin memanas.
"Dasar si Rafa itu!" kata Vian.
"Rafanza Zevan Ameera, kalau kau macam-macam padanya akan ku balas kau! diapun ngga tahu yang ada di hadapannya itu sepupunya sendiri!" batin Vandro dengan tampang seram tapi cemas.
"Aku akan ke sana dan menyusul Amanda!" kata Vandro.
"Va... Vandro tunggu!" kata Vian.
"Ba... Baik! aku akan ceritakan... Ya... yang sebenarnya" kata Amanda yang akhirnya bersuara.
"Amanda!?"