The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 102 : Vandro (2)



"Astaghfirullah!!! Pak Vandro!!!" Teriak Amanda yang langsung menghampiri Vandro.


Amanda meletakkan kepala Vandro di pahanya.


"Ya ampun, kepalanya panas sekali, demam tinggi" ujar Amanda.


"Tenang... jangan panik, yang harus aku lakukan! semua yang di kantor sudah pulang, satpam ada di bawah sedangkan ini lantai 20! akan susah memanggil bantuan! hubungi Vian" batin Amanda.


Di Parkiran....


"Lama banget"


KRING! KRING!


"Ada Telepon?" gumam Vian


"Halo? gimana? mana Vandro?" tanya Vian.


📞"Vian!! tolong Vian!!!"


"Ada apa?!"


📞"Itu!! sebenarnya-... TREK!"


"Eh?! Putus?! kenapa tiba-tiba teleponnya putus!?" kata Vian.


"Staf F! tolong hubungi Randi dan Rahmat! dan tunggu di pintu masuk samping AR group, setelah mereka datang suruh naik ke ruangan Vandro di lantai 20 Cepat!" Ujar Vian langsung berlari ke lantai 20.


"Baik!"


Drap! Drap! Drap!


"Ck! kelamaan! susah jika pakai jurus teleportasi kalau energi ku sedikit begini, aku tidak tahu cara menggunakan cakra astral" gumam Vian.


Sementara itu...


"Apa yang harus aku lakukan?!" gumam Amanda.


"Eh?! Tunggu, Kak Andra pernah ngajarin cara menyembuhkan dengan memberikan energi atau cakra adnya, caranya memfokuskan pikiran yang ada di dua alis, bayangkan jika memberikan itu ke seseorang" Gumam Amanda sambil mengarahkan kedua tangannya ke kepala Vandro.


Amanda membuka matanya.


"Berhasil" gumam Amanda melihat aliran energi merah yang dia berikan ke Vandro.


...___________...


"Hati-hati... jangan terlalu banyak menggunakan energi itu, karena energi yang kau salurkan adalah cakra adnya, tapi karena kau belum sanggup mengendalikannya, makanya kau menggunakan mode astral"


...___________...


"Aku tahu, Aika"


"Pak Vandro belum membuka matanya, mukanya merah sekali, demam tinggi... Vian kemana sih?!" batin Amanda.


Amanda menghentikan memberikan energinya.


"Eh? badan Pak Vandro mulai mendingin, dan mukanya tidak terlalu memerah" gumam Amanda.


"Hei! apa Vandro baik-baik saja?" tanya Vian yang baru sampai.


"Demam tinggi Vian, gimana sekarang?" tanya Amanda.


"Panas sih pantas saja dia pingsan, tapi harusnya Randi dan Rahmat udah datang kemana mereka?" tanya Vian.


Randi dan Rahmat langsung sampai.


"Vandro?!" tanya Randi.


"Bawa dia ke ruang kesehatan di Rosement! kita harus memberikan pertolongan pertama padanya!" perintah Rahmat kepada 3 orang staf apartemen yang ia bawa.


"Baik!"


Di Ruang kesehatan...


"Ng?"


"Sudah sadar?" tanya Randi.


"Ran... di? kenapa aku disini?" tanya Vandro.


"An... dra?" tanya Vandro.


"Ada apa Vandro? kenapa kau begitu?" tanya Andra yang menatap Vandro dari balik kacamata hitam nya.


"Ah,.. maksudnya apa Andra?" tanya Vandro.


Andra menatapnya dan memejamkan matanya kembali.


"Hh, setelah kau ingat apa yang terjadi denganmu aku ingin kita bicara 4 mata" ujar Andra pergi ke luar.


Blam!


"Haah!! Randi,.. aku"


"Istirahatlah, aku sudah memeriksa kalau kau sedang tidak sehat sejak pulang dari dinas 2 minggu, dan membuatmu hampir mencapai batas energimu untuk ini istirahatlah Vandro" ujar Randi memeriksa papan komputer dokter.


"Tapi... "


"Tolong, jangan buat Andra kepikiran untuk yang terakhir kalinya" ujar Randi.


"Baiklah, maaf"


"Oh ya, kau harus berterimakasih, kalau bukan karena Vian dan Amanda, mungkin kau akan lebih parah dari ini" Jelas Randi sambil keluar dari kamar.


BLAM!


"Begitu ya,... sepertinya mereka menyelamatkan ku untuk kedua kalinya" gumam Vandro.


"Aku tidak bisa tidur" batin Vandro.


10 menit kemudian....


Vandro masih saja tidak bisa tidur dan mencoba memejamkan matanya.


"ANAK SEPERTIMU TIDAK PANTAS HIDUP!!!"


Deg!!!


"Uhuk! Uhuk! Randi? kau di sana? siapapun? bisa,... uhuk! ambilkan air mineral di meja?" tanya Vandro yang masih terus batuk.


Ada seseorang yang menyodorkan air minum.


"Apa anda baik-baik saja? Pak Vandro?"


"E... Eh? Amanda?" tanya Vandro.


SING! Kepala Vandro kunang-kunang dan pingsan di tempat tidur dengan muka yang memerah karena demam.


"Eh?!"


Vandro masih melihat bayangan Amanda.


Beberapa menit kemudian...


"Wah! Alhamdulillah! Pak Vandro sudah sadar!" ujar Amanda.


"Amanda? masih disini?" batin Vandro.


"Kayaknya Pak Vandro kenal jet lag deh Pak, aku mempelajari itu di kampus" ujar Amanda.


Vandro masih terdiam tapi kunang-kunang dan memikirkan kalau dirinya dulu di benci, di kucil kan, tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang seorang ayah.


"Em... ini, kamu mau apa?" tanya Vandro sambil menggenggam tangan Amanda yang memegang dasinya.


"Ah! maaf Pak! tadi sebenarnya, Pak Randi kayaknya kecepatan mindahin ke sini, jadi saya mau bukakan dasinya dulu, kayaknya karena tadi Pak Vandro nafasnya sesak" Jelas Amanda.


"Saya kaget lihat Pak Vandro pingsan lagi saat di tempat tidur sambil berlinang air mata, jadi akhirnya saya disini dulu, soalnya Pak Randi lagi ada di bawah sama Kak Rahmat" Jelas Amanda sambil perlahan melepas dasi Vandro.


Akhirnya Amanda melepas dasi Vandro.


"Terimakasih,... ini lebih baik" kata Vandro.


"Iya, ah! tadi bapak ingin minum kan? tunggu, saya ambilkan" kata Amanda.


Grep! Vandro mengambil tangan Amanda.


"Tunggu! jangan pergi, temani aku disini" pinta Vandro dengan menangis.