The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Bonus! Chapter 39 : The Wedding Day



Di Rumah Hirata...


Hirata sedang berusaha membungkus kado di kamarnya.


Tiba-tiba...


Ting! Tong! Ting! Tong! ada suara bel.


Ceklek.


"Iya? eh?! Ethan-kun?!" tanya Hirata.


"Yo! Professor!" kata Erlan.


"Ada apa kau kesini?" tanya Hirata.


"Cuman pengen kesini aja" kata Erlan.


"Kenapa kau tidak bersama Amanda?" tanya Hirata.


"Yah, katanya tidak perlu lagi ada yang perlu di urus" kata Erlan.


"Aku... kesini ingin, aha! oh ya! aku ingin makan ramen di toko ramen mu! Amanda bilang itu enak sekali!" kata Erlan.


"Begitu ya? memang sih toko ku di ambil alih Putriku saat aku sedang sibuk tapi baiklah" kata Hirata.


"Bagus! ayo!" kata Erlan.


Erlan menarik Hirata dengan paksaan.


"Ethan-kun pelan-pelan!" kata Hirata.


"Kita ngga bisa pelan-pelan!" kata Erlan.


PLAK! Hirata melepaskan tangannya dari Erlan.


"Eh?"


"Kau kenapa sebenarnya Ethan-kun? kau seperti tidak ikhlas menerima Miko! dia sudah mempersiapkan semuanya, tapi kau tidak membantu! aku jadi malu karena telah mengajarimu tapi kau seperti ini!" kata Hirata yang langsung putar balik dan pergi.


Erlan menatap Hirata yang perlahan menjauh.


"Sebenarnya!! aku ingin request! ingin mengajukan permintaan!" kata Erlan.


Hirata memberhentikan langkahnya.


"Ng?"


"Aku,.. ingin agar kau datang sebagai Ayahku di acara pernikahanku besok lusa" kata Erlan.


"E... Ethan-kun"


Erlan tersenyum.


Hirata menahan air matanya.


"Serahkan saja padaku!" kata Hirata dengan bersemangat.


"Baiklah.. terimakasih banyak Professor!" kata Erlan yang berlari meninggalkan Hirata.


"Hmf.. Miko, Ethan... kalian tidak banyak berubah"


Keesokan harinya...


Di taman bermain...


Amanda sedang duduk sendirian.


"Miko!"


"Eh? Professor?"


"Iya,.. aku ingin menyampaikan sesuatu kalau-.. "


"Kalau anda akan menjadi Ayah Erlan saat pernikahan kami ya?" tanya Amanda.


"Kau.. tahu?"


"Hihi, Erlan memberitahukan itu padaku"


"Oh? begitu ya, kalau begitu ini"


"Eh?"


"Miko, tolong Terima ini sebagai sedikit agar dapat membantu resepsi" kata Hirata memberikan amplop.


"Ah! Ngga Professor! tidak bisa! tidak perlu! silahkan ambil kembali! saya merasa ngga enak!" kata Amanda.


"Oh.. baik.. lah"


"Bagaimana pun juga, akulah yang harusnya berterimakasih pada Professor" kata Amanda.


"Eh?"


"Professor banyak membantuku dan Erlan.. menganggap kami sebagai cucumu, jadi kami sudah menyiapkan hadiah untukmu! yaitu.. aku sudah meminta persetujuan kak Andra! kalau anda akan menjadi kepala departemen Sains teknologi? yang di butuhkan untuk menghasilkan alat-alat canggih untuk keperluan khusus! bagaimana?" tanya Amanda.


"Aku... "


"Eh?"


"Aku... tentu saja mau! terimakasih!" kata Hirata.


"Sama-sama! sekali-lagi terimakasih! berjuanglah! Ayah!" kata Amanda.


Keesokan harinya di dalam istana Carna...


Semua bangsawan telah datang ke aula istana, begitu pula Nina, Zaki, Putra, dan Ariel serta beberapa teman yang Amanda undang.


"Bagus banget istana Carna ya" kata Ariel sambil memandang tangga besar.



"Benar, Amanda beruntung sekali" kata Nina.


"Daripada begitu.. dimana mereka?" tanya Ariel.


"Siapa maksudnya?" tanya Nina balik.


"Iya! sepasang pengantin! dimana mereka?" tanya Ariel.


"Sabarlah.. mereka kan akan ijab qobul dulu, lalu ada resepsi pernikahan yang akan di hadiri oleh orang penting dan warga bangsawan di sini" kata Putra yang nongol.


"Eh? Put?" tanya Ariel dan Nina.


"Ya, cari Zaki? tuh dia lagi di pojok" kata Putra.


"Kau darimana?" tanya Ariel.


"Aku habis nimbrung bicara sebentar sama kak Adin, kak Imran yang lagi sama Zaki" jelas Putra.


Nina menghampiri Zaki.


"Hei? ada apa ini Zaki? apakah kau datang sebagai teman dari pengantin wanita?" tanya Nina.


"Ck! apaan! lebih baik.. kita ke sana saja ayo!" kata Zaki sambil menarik tangan Nina dan berlari ke arah Adin dan Imran.


BLUSH!


"E.. Eh!" Nina langsung blushing.


"Sejak kapan ya?" tanya Ariel.


"Maksudmu?" tanya Putra.


"Ya, sejak kapan Nina dan Zaki seperti itu?" tanya Ariel.


"Yah, sepertinya.. dengan begini, semua orang bahkan berpikir sama tentang kita bukan?" tanya Putra tersenyum sambil menggenggam tangan Ariel.


"Eh?"


Di ujung ruangan, Ada Hirata dan Pak Andi.


"Aku tidak menyangka kita bisa bertemu ya? kak" Hirata.


"Yah, aku bahkan ngga menyangkal hal ini terjadi sehangat ini. Nak Andra telah bertunangan dengan Nak Elena yang di temukan oleh Nak Sembilan yang ternyata Nak Elena masih hidup, semua karena adanya kaitan hubungan pertemanan diantara semuanya, tapi aku agak khawatir tentang Nak Ana dan Nak Erlan" kata Pak Andi.


"Walau begitu, aku pasti percaya kak, kalau Erlan dapat membuat Amanda bahagia" kata Hirata.


Di Old Room keluarga Ameera....


Ruangan ini meliputi dengan foto keluarga masing-masing, penghargaan, urutan pemimpin, DLL.


Amanda sedang memandang jendela dengan foto Pernikahan Arif dan Afifah.



"Ibu... Ayah, untukmu Ibu, aku akan menikah.., dengan orang yang mirip dengan Ayah" batin Amanda yang sudah memakai baju pengantin muslimah. Membuat dirinya benar-benar cantik sambil memandang Erlan yang melihat gugurnya daun dari jendela.


Amanda melihat Erlan dengan pipi yang merona tapi menunduk khawatir karena memikirkan sesuatu.


"Apakah... kak Andra, telah berbaikan dengan Paman Adimas juga Paman Azka? saat bertatapan dengan Paman Adimas kemarin, Paman agak berwajah sewot padaku" batin Amanda.


"Kak Ana! Sudah waktunya lho!!" Seru Rafi.


Amanda dan Erlan berbalik.


"E.. Eh?! I.. iya Rafi!" kata Amanda.


"Rafi juga dia begitu kaget mendengar dia punya kakak sepupu perempuan, tapi saat Paman Adimas dan Azka bereaksi sewot padaku, hanya Rafi saat itu yang akrab dan mengajakku bicara, katanya senang punya kakak sepupu yang ramah dan baik kayak aku" batin Amanda lagi.


Rafi rupanya datang bersama Adimas, sedangkan Azka sedang berbicara dengan Andra dan Rafa di aula.


"Kak Ana! kakak terlihat cantik sekali!!! benarkan? Paman?" tanya Rafi melirik Adimas sambil merangkul tangan Adimas.


Adimas yang berwajah datar menutup matanya sambil mengangguk dan tersenyum haru dan bangga pada Amanda.


Amanda yang melihat reaksi Adimas langsung tahu jawaban atas pertanyaannya, dia menahan air matanya.


"Jangan menangis, ntar make up-nya luntur lho" kata Erlan.


"Hmf,... ngga kok, aku kan kuat" kata Amanda sambil perlahan menggenggam tangan Erlan, Erlan membalas genggaman Amanda dengan menggenggamnya balik.



"Huaa!!" Rafi benar-benar senang dan gemas melihat sepasang pengantin itu sambil merangkul erat tangan Adimas.


Erlan tersenyum, lalu wajahnya kembali formal.


"Baiklah... sudah siap?" tanya Erlan bertanya pada Amanda sambil tersenyum.


"Ya"


Amanda dan Erlan akhirnya berjalan sambil berpegangan tangan menuju Aula... beserta kebahagiaan yang menyertai rumah tangga baru mereka.