The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 19 : Randi dan Andra (3)



"Ya, aku dan Andra dari itu memang sering agak dekat sebagai teman atau sahabat, tapi sebagai seorang bangsawan, ia juga harus menjaga beberapa rahasia yang terbilang ia tahu tapi membuatnya tidak nyaman" kata Randi.


"Ya, tapi menurutku, Andra adalah orang yang selalu penuh dengan rahasia" kata Vandro.


"Ok, ku lanjutkan ya" kata Randi.


"Dari kejadian yang jatuh dari rumah pohon itu, banyak sekali hal aneh yang telah terjadi pada Andra" kata Randi lagi.


Setelah sekian lama aku terus mengejarnya karena ia sedikit mengacuhkan ku, karena ia orang yang dingin, lemas, bicara seadanya, dan kurang ceria.


"Ingat aku ngga Andra?"


"Oh, calon dokter cabul"


6 tahun yang lalu...


"Aduh!" kata Andra


"Ng? kamu kenapa Ndra?" tanya Randi.


"Sedikit pusing"


"Kamu sakit?"


"Tiba-tiba aku kebanjiran informasi, sungguh mengganggu bila terjadi, kadang secara tiba-tiba" kata Andra.


"Gak, Gak enak aja, banyak hal-hal yang muncul bersamaan di pikiranku" kata Andra.


"Mual ngga?" tanya Randi.


"Ngga kok, istirahat sebentar juga baikan nanti" kata Andra.


"Coba tidur sebentar saja, aku jaga kok" kata Randi.


"Ya, Thanks" kata Andra dan lanjut tidur di meja kantin.


Kelebihannya ini ada sisi melelahkan untuk dirinya, Andra bukan orang yang suka mengumbar kelebihannya, Andra juga tidak suka memusingkan kenapa dia berbeda dengan yang lain.


Dia cuma tahu kalau ia memiliki Sindrom savant.


"Ah! ngeselin! dapat telepon dari orang tuan bukannya kangen malah dinasehati dan dimarahi!" kata Randi saat sedang duduk berdua dengan Andra.


"Mungkin mereka hanya khawatir.." kata Andra.


"Kadang mereka membuatku kesal" ucap Randi.


"Walau begitu, masih bersyukurlah orang tuamu masih ada dan masih memperhatikanmu, aku tidak begitu ingat dengan orang tuaku, Kakekku bilang mereka meninggal dunia saat aku masih kecil,aku hanya tahu hal-hal tentang mereka dari kakekku" kata Andra.


"Gak bisa mengingat kadang membuatku Frustasi" kata Andra menambahkan.


"Hah!? jadi kamu yatim piatu? uuh, hilang ingatan!?" tanya Randi.


"Eh!? tapi kan bukannya memori mu bagus? kalau aku sih ngga terlalu ingat masa kecil ku juga" kata Randi.


"Semuanya kabur, aku ngga bisa mengingat.... Aku saja tidak begitu ingat bagaimana aku bisa mendapatkan bekas luka ini, hanya tahu dari Kakekku, maaf aku tiba-tiba bicara seperti ini, lupakan saja" jawab Andra.


"Randi, alasan kenapa aku banyak menyimpan rahasia padamu karena kau sahabatku, tolong rahasiakan semuanya, aku ngga ada teman yang dapat aku ajak cerita selain dirimu" kata Andra.


Setelah mendengar keadaan aku makin penasaran dan kasihan padanya.


Sekali lagi, Andra adalah orang yang selalu saja menutupi perasaannya, entah perasaan marah, senang, ia selalu saja datar, tapi dengan ku hanya sedikit kadang ia tersenyum, ia juga sangat populer dan banyak sekali wanita yang berkuliah di kampus itu menyukainya tapi Andra selalu dingin dan memang tidak ada satupun yang berani mendekatinya karena ia tergolong keluarga bangsawan.


PLOK! Randi menutup cerita dengan menepuk tangan.


"Ya! bagaimana? ceritanya? sudah puas Vandro?" tanya Randi.


"Bagaimana pun juga, aku masih agak kurang mengerti walau kau jelaskan, tapi tak apa itu saja cukup" kata Vandro.


"Ya, jika kamu memang selalu gitu, datang aja sama aku, duduk disini aku layanin sampai malam pun juga ngga apa-apa" kata Randi sambil mengarah ke kursi panjang.


BUK!


"Memang ngga salah kalau kau dokter mesum" kata Vandro setelah melempar bantal ke Randi.


"Iya!! bercanda!" kata Randi.


"Eh tapi, serius deh Dro, aku aja kurang yakin ini akan membuatmu mengerti, memangnya apa yang ingin kau mengerti Vandro?" tanya Randi.


"Eh,... Ukh!" Vandro memegang pundak sebelah Kanannya yang sakit.


"Ng? masih sakit karena Sembilan mendorong mu ya? sini ku ambilin koyo dulu" kata Randi.


"Nah, usahakan bagian bahu kanan jangan kebanyakan gerak" kata Randi.


"Apakah Randi tahu, kalau Andra punya adik perempuan?" batin Vandro.


"Ya, jujur saja melihatmu yang berani seperti ini menggali informasi, tapi belum tentu informasi ini membantumu" kata Randi.


"Tapi kamu bisa saja menggali informasi yang sangat rahasia yang di pendam oleh keluarga Ameera sampai ke dasarnya, jika kamu berani" kata Randi yang membuat Vandro terbelalak.


"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku, makasih Randi udah berbagi cerita" kata Vandro.


"No Problem Dro, good night" kata Randi.


Blam!


"Hah! santai juga, kaget tiba-tiba Vandro bertanya seperti itu" kata Randi.


Ada beberapa hal yang tidak ku beritahu kepada Vandro, sebenarnya kalau Andra pernah menyukai perempuan teman masa kecilnya, karena ingin bertemu dengan perempuan itu, ia membutuhkan adik dari perempuan itu yang sekarang ada di Rosement.


"Maaf sih Dro, kamu ngga terlalu banyak tahu tentang Andra" kata Randi.


"Aku juga kayaknya sudah memberitahu terlalu banyak, karena Andra hanya memberitahu hal rahasia kepada orang yang dimintai bantuan olehnya" kata Randi lagi sambil membuka sebuah dokumen.


"Dan lagi ternyata Amanda, anak baru ini yang sedarah denganmu Andra, tapi begitu mengejutkan, kalau Andra mempunyai golongan darah langka, yaitu AB-, sedangkan Amanda mempunyai golongan darah yang sangat langka, Rh-null" kata Randi sambil memandang foto Amanda.


"Saat meminta sedikit darah Amanda untuk di periksa, aku sangat terkejut melihatnya yang ternyata analisis darah yang ku amati sama persis dengan milik Andra, dan Amanda rupanya adalah orang yang memiliki golongan darah langka Rh-null yang hanya beberapa puluh orang di dunia ini yang memilikinya, sedangkan golongan darah langka Andra yang AB- itu hanya 0,36% orang yang punya" batin Randi.


"Mereka berdua ini adalah generasi yang spesial, tapi aku masih heran kenapa Andra banyak sekali memiliki bantuan di Rosement?" tanya Randi.


"Aku kurang suka dengan surat undangan sah penghuni Rosement ini, apa sebenarnya yang kau takutkan Andra?" tanya Randi.