The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
BONUS! CHAPTER 7 bagian 11



Markas Rebellion...


"Kapten! kami mendapatkan informasi bahwa Edward bersama seorang gadis yang di duga seorang Fujiwara" kata bawahan Ray.


"Fuji... wara katamu?" tanya Ray.


"Ya, apakah anda sedang memikirkan sebuah rencana?" tanya bawahannya lagi.


"Kita akan membawa Fujiwara itu... percuma saja jika dia lemah, aku sebenarnya ingin memanfaatkan si bocah buangan itu, tapi karena dia sulit di dekati mau gimana lagi?" tanya Ray sambil bermain catur sendirian.


"Sebenarnya, gadis Fujiwara yang di maksud itu berasal dari keluarga bagian utama" kata Bawahannya, Ray berhenti menggerakkan caturnya.


Ray langsung mengambil anak panah kecil dan melemparkannya ke dartboard dan tepat sasaran.


"Ka... Kapten?"


"Bagus sekali, aku tak menyangka kalau masih ada klan Fujiwara yang masih hidup, kita akan menangkap gadis Fujiwara itu hidup-hidup dan menjadikannya sebagai sandera" gumam Ray sambil tersenyum menyeringai.


"Lalu kita bisa membawa Edward bersama gadis Fujiwara itu dan mengambil kekuatan mereka"


Di lokasi Edward....


DEG!! Edward langsung terbangun dari tidurnya karena firasat buruk tiba-tiba muncul dari benaknya.


"Sebentar lagi, kita akan sampai tujuan, Kapten" kata Toni.


"Begitu" kata Edward sambil melihat Amanda yang tidur dengan memeluk lututnya, Meghan tidur sambil bersandar pada Amanda.


"Andra... apa sebenarnya yang kau pikirkan!? kau malah membuat adikmu dalam bahaya karena membuatnya masuk ke Gerakan Pemberantasan" batin Edward.


"Ray... meski kau Fujiwara, aku tidak akan pernah membiarkanmu maupun bawahan mu menyakiti Yumna bagaimanapun juga" batin Edward dengan dingin.


"Oi.. Oi... Oi Meghan! bangun!" kata Edward.


"He? hoaaam! ukh... ini masih malam, ward! jangan ganggu napa?" tanya Meghan.


"Kita hampir sampai, Toni.. berhenti disini" kata Edward sambil berdiri.


"Ba.. Baik" kata Toni.


KRRIT!! Karena berhenti mendadak, Meghan langsung terlempar ke ujung kereta kuda, sedangkan Amanda kaget.


"WAA!!" Meghan berteriak karena kaget.


"A.. Apa yang-... " belum selesai Amanda bicara.


GEDEBUK! Meghan terbentur dan Amanda sedikit jatuh tapi syukurlah dia berpegangan.


"Toni! jangan gitu bisa gak!?" tanya Meghan.


"Terserah" kata Toni dengan dingin.


"Ada apa, Kapten Edward? kenapa kita berhenti di sini?" tanya Amanda.


Edward mengerutkan keningnya.


"Yumna, apakah kau bisa menggunakan Silent-mu dan mengamati sekeliling hutan?" tanya Edward.


"Ba.. Baiklah kapten!" kata Amanda.


CRING!


"Silent!"


"Ukh... " Amanda bergumam.


"Kenapa?" tanya Edward.


"Tidak.. tidak apa-apa, hanya perih" kata Amanda.


"Eh!? Oi! Oi! matamu memerah! seperti tidak tidur 2 dekade" kata Toni.


"Su.. Sungguh? tapi ini seperti perih biasa" kata Amanda.


"Sini, ku berikan obat tetes mata" kata Edward.


"Baik"


Meghan memegang Amanda dan Edward perlahan memberikan obat tetes mata.


"Bagaimana?" tanya Toni.


"Syukurlah membaik, tidak apa-apa sekarang... terimakasih Kapten, ketua" kata Amanda kepada Edward dan Meghan.


"Kau seperti itu, apakah kau habis menggunakan Silent-mu?" tanya Edward.


"Ti.. dak... eh? tapi, saat perjalanan menuju markas... kami bertemu seorang pria" kata Amanda.


"Pria?" tanya Meghan.


"Ya.. dia-.. " belum selesai Amanda bicara.


Nyut....


"A.. Aduh!"


"Kenapa!? kau baik-baik saja!?" tanya Meghan.


"Entah kenapa... ukh! saat mengingat pria itu... ukh!! kepalaku langsung sakit sekali! dia juga yang menaruh pertolongan dasar pada Pak Randi saat itu, dia juga mengatakan sesuatu" kata Amanda.


"Mengatakan apa?" tanya Edward.


"Eh?" tanya Toni.


"Rahasia membuat seorang wanita menjadi wanita" kata Meghan.


"Memangnya kenapa?" tanya Toni.


"Oh! saat aku mendengar ada pasukan di depan gerbang aku melihat Yumna sampai ke markas, dia terlihat sangat kelelahan, begitu kata salah satu pasukan... jadi dia memutuskan untuk membantu Yumna masuk ke markas bersama Dr. Randi" Jelas Meghan.


"Tapi... aku hanya ingat saat dimana aku duduk di ruang tunggu saat menunggu pengobatan Pak Randi" kata Amanda.


Edward mendekati Amanda dan meletakkan tangannya di atas kepala Amanda yang di lapisi jilbab.


"Aku bisa menggunakan kekuatan khas Klan Taira, yaitu dapat melihat ingatan orang lain... aku akan melihat nya dari sini" batin Edward.


CKRIT!!! ada aliran listrik di pikiran Edward saat melihat ingatan Amanda.


Flashback....


"Pak Randi... bertahanlah!" kata Amanda.


"Hei, gadis"


"E.. Eh? iya? kenapa?" tanya Amanda.


"Kelihatannya, kau sangat kesulitan ya?"


"Aku hanya ingin membawa beliau ke tempat saya" kata Amanda.


"Begitu.. sepertinya dia terluka parah, apakah boleh? aku membantu?"


"Anu... tidak apa, saya harus segera" kata Amanda.


"Tidak, kau tidak akan dapat sampai ke markas tepat waktu... jadi biar ku berikan pertolongan dasar terlebih dahulu"


"Ba.. Baik" Amanda terpaksa mengiyakan.


*****


"Pak Randi.. sudah lebih baik! terimakasih!" kata Amanda.


"Baiklah, sekarang kau harus membayarnya"


"E.. Eh? maksudnya?" tanya Amanda.


"Tidak, jangan khawatir... kau tidak akan butuh uang, aku akan membuatmu membayarnya. Sekarang, lihat ini"


"Eh?"


Si pria langsung memunculkan cahaya dari jarinya.


"Eh!? ukh.. silau" gumam Amanda.


SRING!!


"Lho? kenapa? pria tadi gak ada?" tanya Amanda.


"A.. Aduh! kepalaku... menjadi pusing, aku harus segera membawa Pak Randi ke markas" gumam Amanda.


Amanda membopong Randi dengan tertatih-tatih.


"Hei... Angel"


"Lho? kau... si pria tadi kah?" tanya Amanda.


"Sst... A secret makes a woman woman"


"Lho?"


"Baiklah... Good bye"


Nyut....


"Sakit.. aku harus segera, kepalaku makin lama makin pusing"


Di depan gerbang markas...


"Lho!? anda bersama Dr. Randi!" kata salah seorang pasukan.


"A.. Akhirnya, sampai" gumam Amanda.


BRUK!


"Hei! kau baik-baik saja!?"


"Ada apa!?" tanya Meghan.


"Cepat! bawa dokter Randi ke ruang medis! dan bawa dia ke ruang tunggu, dia hanya kecapean saja.. orang lain tidak boleh melihatnya dulu" Jelas Meghan.


"Ya!"


Flashback Off....


"Ada.. ada apa kapten?" tanya Amanda.


"Reaksi hipnotis dan pelupa ingatan? jangan bilang!? huft Rose, kau.. bukan, Laura Wind... kenapa kau bisa ada di dimensi ini!?" batin Edward.


Di atas pohon...


"Maaf Angel kesayanganku... aku belum bisa menampakkan diriku. Kurasa, reaksi pelupa ingatan tidak terlalu kuat" gumam Rose.