The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 4 : Mom and Dad



"Kak Andra... maaf ya" kata Amanda.


"Kita bicarakan hal itu setelah keluar dari sini... kita berada di istana, itu artinya... " Andra memotong Kata-katanya.


"Bagaimana dengan bukunya?" tanya Amanda.


"Aku sudah menyuruh Radith memanggil Pak Andi dan mengawasinya.


"Eh!!? Itu! bukannya Ayah dan Ibu!?" tanya Amanda.


"Hah!? Mama dan Papa!?" tanya Andra melihat, Ayah ibunya membawa Andra dan Ana kecil.


"Mereka mau kemana?" tanya Andra pada diri sendiri, dan langsung mengikuti mereka.


"Aku ingat! kalau hari ini... " gumam Amanda.


"Hari apa?" tanya Andra.


"Hari ini... adalah hari kematian mereka" gumam Amanda sedih.


"Ah... "


Arif dan Afifah membawa Andra dan Ana pergi ke sebuah cermin.



"Eh!? Mata mereka berubah menjadi warna jingga... " gumam Amanda.


"Itu yang di sebut Silent" kata Andra.


"Eh?" Amanda kaget.


SING! Saat Arif menyentuh cermin itu langsung otomatis membawa dirinya, Afifah, juga Andra dan Ana kecil.


****


"Kak Andra... apakah ini yang di sebut dimensi Shinobi?" tanya Amanda.


"Dimensi ini memang berbaur dengan dunia nyata, hanya saja, berbeda dunia, keterbalikan dari dunia nyata" kata Andra.


"Eh!? kacau sekali.." kata Amanda.


"Sepertinya ada perang"


"Itu mereka! tunggu! ada Kakek juga!!?" tunjuk Amanda.


"Sepertinya Pak Andi terlibat dalam hal ini, karena dia sudah ada dan mengetahui semua rahasia kedua orang tua kita.. lagipula, Pak Andi lah yang paling dekat dengan kedua orang tua kita" kata Andra.


...________...


"Aku... masih kuat untuk menahan pergerakan Ryu... Arif" kata Afifah sambil mengeluarkan Mananya yang berbentuk tali dan langsung mengikat Ryu.


"Maafkan aku... Afifah" kata Arif setelah memasang Perisai yang di dalamnya hanya ada dirinya, Afifah, Andra dan Ana kecil yang sekarang sedang di hipnotis agar tidak terbangun.


"Arif... jangan membuat wajah seperti itu, aku senang... karena di cintai oleh mu, padahal aku hanya warga biasa... aku sekarang sedang membayangkan, dimana aku bisa bertahan.. dan kita berempat bisa hidup bersama... hah" kata Afifah sambil tersenyum dan darah terus menerus keluar dari mulutnya.


"Aku hanya bisa membayangkan, betapa bagusnya hal itu" kata Afifah.


Arif meneteskan air matanya dan mengusapnya.


"Aku akan menyegel Ryu didalam Liontin yang akan ku pakaikan kepada Ana tapi Ryu akan tetap bersemayam di dalam tubuhnya, dan memberikan kendali formula segel kepada Andra dengan sisa Mana milikmu, lalu dengan nyawaku aku akan menahan serangan nya, jadi kau bersama Andra dan Ana bisa tetap hidup" kata Arif.


"Apa yang mereka lakukan!!? jangan bilang... mereka ingin menyegel ku lagi!! jangan bilang... didalam bayi dan anak laki-laki itu..." batin Aika yang berbalik.


"Hah!? Kenapa Arif!!? mereka berdua adalah anak kita! Ana baru beberapa bulan sejak dia lahir, dan kau ingin Andra dan Ana yang menanggung itu semua!? Untuk keseimbangan Kara!? Untuk Negara!? Untuk Kota!? Kenapa Andra dan Ana yang harus menanggung itu semua!? kenapa kau ingin menjadi kurban untuk orang yang bukan dari kalangan bangsawan seperti diriku!!!? dasar..." bentak Afifah yang terduduk karena masih mengikat Ryu sampai kesusahan bicara karena mulutnya yang keluar darah.


"Karena.. ini adalah peranku sebagai seorang Ayah, lagipula.... kita adalah keluarga Shinobi" kata Arif dengan tenang.


CRAAASH!!! Arif dan Afifah tertusuk di bagian jantung.


Andra dan Amanda yang melihat itu langsung kaget melihat apa yang dilakukan kedua orang tuanya.


"Apa... yang... kau lakukan Afifah?" tanya Arif yang mulutnya keluar darah.


"Ini juga peran utama ku sebagai seorang ibu..., sebagai orang tua, kita harus berkorban demi anak-anak kita bukan?" tanya Afifah sambil berbalik kebelakang dan tersenyum pada Arif.


"Ah.. hm, begitu... kita tidak akan bertemu beberapa waktu dengan mereka, jadi katakanlah apa yang ingin kita katakan pada Andra dan Ana" kata Arif sambil tersenyum.


"Andra... Ana, jangan suka pilih-pilih soal makanan, tumbuhlah dengan sehat dan menjadi anak yang kuat" kata Afifah yang tubuhnya sudah melemah, sambil menatap tersenyum pada Andra dan Ana yang tertidur.


"Juga dalam mencari teman.. jika tidak dapat mencari teman, pilihlah sedikit yang dapat memberikan kalian pengajaran yang baik, jika kalian menyukai lawan jenis kalian.. lihatlah agar dia bisa membuat hidup kalian bahagia dan bermanfaat... haha" Afifah sedikit tertawa.


Andra yang melihat itu langsung membendung air matanya sedangkan Amanda air matanya sudah mengalir melihat pengorbanan kedua orang tuanya.


Hiks.... Hiks... diantara darah Afifah yang mengalir di mulutnya, dan di bagian jantungnya... dia juga menangis.


"Andra... Ana, Kalian berdua akan hidup penuh dengan penderitaan tanpa bimbingan dari kami berdua, Maaf karena kami tidak bisa menemani kehidupan kalian berdua, percaya dirilah untuk membuat impian kalian menjadi kenyataan"


"Aku punya banyak, banyak, banyak, banyak hal-hal yang ingin ku ajarkan pada kalian berdua... Hiks, aku ingin hidup lebih lama dengan kalian berdua!! Aku mencintai kalian, meski mungkin kalian tidak bisa mendengarnya" kata Afifah sambil menutup matanya dan menangis.


"Arif... maaf, aku malah membuang-buang waktumu" kata Afifah.


"Tidak apa... Andra, Ana... sebagai Ayah kalian, aku mengatakan hal yang sama... seperti yang ibu kalian katakan, tapi... Ayah ingin bilang... Hiduplah dengan penuh kasih sayang, terimakasih untuk semuanya, karena kalian telah menemani kehidupan kami sampai akhir sekarang, selamat tinggal.. " kata Arif menutup sebelah matanya sambil tersenyum menatap kedua Putra Putrinya yang tertidur.


"SEGEL!!!"


CRING!


Akhirnya Ryu berhasil tersegel, sedangkan Arif dan Afifah terbaring karena kehilangan tenaga yang membuat Perisainya menghilang juga pengikat milik Afifah.


"Perisainya hilang!!" kata Pak Andi bersama tiga pengawal pribadinya.


Mereka melihat Arif dan Afifah yang terluka karena tusukan.


"Yang mulia Raja!!!" panggil seorang pengawal, namum sia-sia.. Arif sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


"Lady Afifah!!" kata Seorang lagi sambil mengangkat tubuh Afifah karena masih ada detakan denyut nadi.


Afifah perlahan membuka matanya.


"Pak... Andi"


"Afifah" kata Pak Andi mendekati Afifah sambil menggendong Ana kecil, seorang pengawal lagi tengah menggendong Andra.


"Tolong... jaga... Putra Putri ku... rahasia kan kematian kami berdua dari khalayak ramai... palsukan kematian kami berdua, beritahu Andra... dan... Ana saat mereka sudah besar nanti... tolong jaga Putra Putriku" kata Afifah.


"Begitu... aku.. " kata Pak Andi.


"Jaga... Andra.. dan Ana" kata Afifah yang sudah sesak nafas.


"Andra dan Ana!? baik, aku akan menjalankan semua yang anda katakan" kata Pak Andi sambil menatap Ana, namun sadar menatap Afifah lagi yang sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


"Ibu... Ayah... " Amanda menangis deras.


Andra menatap adiknya dan mengelus punggung adiknya menandakan agar bersabar.


"Nak Andra... Nak Amanda... bisa dengar saya!?" tanya seseorang di batin.


"Ng!? Pak Andi!?" tanya Andra.


"Benar, tolong fokus ke suara saya... saya akan mengeluarkan kalian berdua" kata Pak Andi.


Andra dan Amanda hanya menatap kepergian Ibu dan Ayahnya di masa lalu...