The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 90 : Berat



"Selamat ya Dennis, jadi ketua HMJ" ujar Alen.


"Ya, どいたしまして ( Sama-sama)" kata Dennis.


"King! Dennis!" panggil Amanda.


"Kak Amanda?" tanya mereka berdua kompak.


"Pertama... おめでとう ( Selamat) buatmu Dennis! karena sudah jadi ketua HMJ baru! banyak lho kerjaannya, semoga ngga kapok ya! hihi! Dasar... " ujar Amanda.


"Ha! iya ya kak? どいたしまして! ( Sama-sama)! lalu ada apa kesini?" tanya Dennis.


"Aku ingin memberikan daftar tugas sebagai ketua HMJ yang di lakukan setiap hari" kata Amanda sambil memberikan struk kertas.


"Apa ini?" tanya Dennis sambil membuka gulungan kertas dan saat membukanya gulungan itu terlepas dan meluncur kebawah saking banyaknya.


"I.. Ini tugasnya kak?!" tanya Alen dan Dennis.


"Lebih tepatnya yang dilakukan Aku, sebagai ketua HMJ, Putra sebagai wakil, Nina sebagai sekretaris, dan Zaki sebagai bendahara, kami lakukan bersama-sama, tapi kebanyakan aku yang lakukan sih, hehe, good luck ya" kata Amanda sambil pergi.


"Good luck Bro" ujar Alen sambil menepuk punggung Dennis.


"Terserah!"


Sementara itu...


Di Bunker Lingkar dalam, di lapangan pelatihan pada malam hari....


Andra melakukan beberapa segel tangan.


"Uchuu! Ankoku Ninpou!!"


"Terlalu kecil Nak! tidak bisa terlalu besar kah?" kata Pak Andi.


"Aku juga sedang berusaha Pak Andi" batin Andra kelelahan.


"Sekarang, pusatkan energi mata Silent dan buat itu sebagai serangan" perintah Pak Andi.


"Baik! Silent!" Mata Andra langsung berubah menjadi hijau bercahaya kekuningan.


JDUAR!! Andra membuat energi Silent menjadi serangan dan membuat sebuah pohon layu menjadi terbakar.


"Bagaimana Pak Andi?" tanya Andra tersenyum berharap.


"Tidak! tidak! masih terlalu kecil!" ujar Pak Andi.


"Eh?!?! apa yang masih terlalu kecil Pak Andi!?" Tanya Andra.


"Kamu berani melawan orang tua!?" tanya Pak Andi.


"Kamu harus berusaha lebih keras sampai melampaui batas mu!" ujar Pak Andi.


"Kalau gitu terus aku bisa mati Pak!" kata Andra.


"Lakukan terus atau tidak kita akan terus berlatih sampai sahur tiba" ujar Pak Andi.


"Ba.. Baik"


"Sekarang,.. teknik apa yang dapat di lakukan Silent?" tanya Pak Andi.


"Silent bisa melihat secara tembus pandang sesuai pikiran dan keinginan, meski yang ingin kita cari itu terhalang sebuah objek, kita juga dapat melihat sebuah fisik seseorang di dalam tubuhnya" Jelas Andra.


"Dan.... "


"Kenapa berhenti? lupa?" tanya Pak Andi.


"A, Anu!"


"Tidak ada Anu! Anu! Dan juga bisa membuat orang kaku tidak bergerak sesuai energi dan batas yang ada dan di situlah kita bisa melancarkan serangan apapun" Jelas Pak Andi.


"Boleh istirahat Pak?" tanya Andra.


"Ngga"


"Iya,.. baiklah"


Di atap bunker.....


"Wah,... kak Andra benar-benar tertekan, aku tidak tahu kalau Kakek bisa seperti itu" kata Amanda sweatdrop.


"Begitulah Nona, Tuan sama sekali tidak dapat melawan Pak Andi, beliau benar-benar menyeramkan jika sedang marah, apalagi Pak Andi adalah satu-satunya orang terdekat Mendiang orang tua kandung Nona dan Tuan" kata Radith dan tersadar apa yang dia ucapkan.


"Ma... Maaf Nona, saya-... " belum selesai Radith bicara.


"Tidak apa Kak Radith, aku mengerti, em.. menurut kakak pendapat apa tentang Kakek saat Ibu dan Ayah tiada saat aku masih kecil?" tanya Amanda.


"Pasti Pak Andi sangat syok kehilangan kedua orang yang sudah dia anggap anak sendiri, karena bagi Pak Andi... Raja Arif dan Ratu Afifah adalah satu-satunya keluarga yang dia punya, orang yang tidak bisa mengekspresikan perasaannya" ucap Radith.


"Jadi.. mungkin alasan Pak Andi melatih Tuan sekeras itu karena, ingin agar Tuan menjadi kuat dan tidak secepatnya itu pergi seperti Raja Arif dan Ratu Afifah" Kata Radith.


"Yah... sepertinya" kata Amanda.


"Kak Radith adalah tipe orang yang pintar membuat sebuah teori" batin Amanda.


"Nona, silahkan... tadi Tuan membeli Rainbow Macaron, silahkan dimakan, ini sengaja di siapkan Tuan" Jelas Radith.


"Terimakasih kak"