
"Hahaha, seru ya Kak" kata Amanda tersenyum, seharian ini Amanda selalu saja tersenyum dan tertawa, membuat pengunjung laki-laki sulit berpaling, sedangkan Sembilan terlihat senang melihat Amanda gembira seharian.
"Ng? Kak Sembilan kenapa beli buku gambar + pensil warna?" tanya Amanda.
"Nanti juga Manda tahu. Oh ya, Manda kita makan dulu sebelum pulang" kata Sembilan.
"Ayo Kak!" kata Amanda.
Sedangkan dua pengintai Jendral Randi dan Kolonel Vandro telah kembali, tampang Randi benar-benar menyeramkan saat mengamati Amanda dan Sembilan.
"Si Sembilan! bener-bener buat masalah!!" gumam Randi.
"Sudahlah Ran" kata Vandro.
"Ng? mereka ke Restoran?" pikir Randi.
Restoran HV...
"Wah... Steaknya enak ya Kak, makasih banyak lho untuk semua traktiran nya Kak Sembilan!" Ucap Amanda.
"Terimakasih juga sudah berkenan mau bersenang-senang dengan saya seharian ini" kata Sembilan tersenyum.
Di belakang kursi Amanda adalah tempat duduk Randi dan Vandro, mereka ingin mendengar apa yang di bicarakan Amanda dan Sembilan.
Selesai Makan...
Randi dan Vandro terus saja berhati-hati dalam membuntuti.
"Kak! Kak Sembilan dari tadi gambar dan menulis ya? gambar apa emangnya?" tanya Amanda.
"Nanti juga kamu tahu, kamu boleh duluan cerita. Manda apa yang ingin kamu obrolkan?" tanya Sembilan.
"Oh ya, aku sudah menyiapkan topik yang ingin di ceritakan Kak, tentang mimpi buruk ku, dimulai dari aku menulis catatan di buku ini, dan menulisnya dari apa yang ku mimpikan mulai dari sosok seram itu dan lain-lain, begitu juga yang lainnya" Jelas Amanda sambil memperlihatkan buku catatannya.
"Waktu Kakak juga mempertanyakan tentang mimpi ku itu dan menyimpulkan kalau sosok menyeramkan itu sebagai mimpi buruk belaka" kata Amanda lagi.
"Oh! D.. Dan... aku juga membawa surat wasiat Almarhumah ibuku, kak Sembilan tolong jangan kasih tahu siapapun ya, aku bahkan belum pernah cerita tentang isi surat wasiat ini ke teman-teman dekatku" jelas Amanda memperlihatkan surat itu.
"Manda, jika kamu merasa tidak perlu, tidak usah di ceritakan" kata Sembilan.
"Tapi... aku merasa aku harus menceritakannya agar keadaanku jelas" kata Amanda.
"Oke, baiklah" kata Sembilan.
Aku menceritakan tentang isi surat wasiat ibu yang diperlukan saja, aku juga harus sangat hati-hati dalam menceritakannya ke Kak Sembilan, meski begitu aku sama sekali tidak ingin Kak Sembilan nanti malah ikut campur masalah organisasi aneh itu.
Meski aku menceritakannya, aku harus sangat hati-hati dalam memberitahu Kak Sembilan, seperlunya saja ku beritahu. Juga tentang aku yang tadinya mengira anak kandung Ibu, ternyata adalah anak adopsi lalu potongan isi surat wasiat Ibu...
"Lalu akhirnya Ibu mempercayai bahwa aku adalah anak dari kasus penculikan" kata Amanda yang membuat Sembilan berpikir, lalu Randi dan Vandro kaget mendengarnya.
"Apakah kau mencurigai Ibumu Manda?" tanya Sembilan.
"Ti-Tidak kok Kak, soalnya melihat semua bukti yang di tinggalkan ibu, aku tahu kalau ibu mengadopsi ku secara legal, ngomong-ngomong Kak... " Amanda memberhentikan Kata-katanya.
"Ya?" tanya Sembilan.
*Glek!* Vandro dan Randi menelan ludah.
"Sepertinya hanya perasaan Manda saja" kata Sembilan.
"Fyuh!"batin Randi dan Vandro.
"Ng... Ba... Baiklah, oh ya! aku hanya belum memastikan mengapa Ibu meyakini aku adalah anak kasus penculikan, bahkan aku saja tidak tahu itu terjadi kapan, aku sempat tidak percaya sih... tentang masalah penculikan itu... tapi setelah bisa menyambungkan nya dengan sosok seram dalam mimpi-mimpiku, Aku semakin yakin bahwa apa yang Ibu katakan di surat wasiat nya... benar-benar pernah terjadi" Jelas Amanda.
"Sepertinya... kejadian ini berhubungan dengan organisasi itu" pikir Amanda.
"Sosok menyeramkan yang berulang-ulang entah sejak kapan menggangguku dalam tidurku dan dikala aku takut, sosok perempuan itu memintaku untuk ikut bersamanya, perempuan itu menyeramkan! dan ditambah lagi mulutnya sepertinya sobek" kata Amanda.
"Cedera di kaki yang aku tidak ingat kapan mendapatkannya, sempat mimpi seperti sedang jatuh, suara yang mengalir deras, suara hujan, seperti baju anak-anak yang di buang ke sungai deras"
"Juga suara samar-samar yang menenangkan ku saat aku terjatuh bersama Vian dari tangga, terngiang-ngiang di kepalaku saat itu. Itu pasti suara kakakku! aku benar-benar punya seorang kakak!" kata Amanda.
Sementara itu Di Rosement...
"Wah... jadi mereka semua sedang bersenang-senang di Mall ya? enak ya, kamu ngga ikut Vian?" tanya Nera.
"Ngga, aku sibuk" kata Vian acuh tak acuh sambil terus memperhatikan Laptopnya.
"Nak Nera, berhentilah bercanda, kita sedang dalam masa serius" kata Pak Andi dengan tampang sangat serius.
KRAAAK!! Nera meremas botol Plastik nya.
"Siapa yang sedang bercanda Pak Andi?" tanya Nera.
Sementara itu Rafa....
"Cih! kenapa 3 orang itu ngga masuk? katanya si OG itu juga izin ya?" tanya Rafa.
"Si Wildan itu benar-benar membuahkan hasil" kata Rafa lagi.
"Kita ke rumahnya ya Bim" kata Rafa.
"Ya Fa" kata Bima.
.
.
.
"Hosh! Hosh! kok bisa sih aku lupa ATM ku?" tanya Fika.
"Lho? Kakak! nih! ada yang nyari Kakak katanya!" kata adik Fika bernama Fiki.
"Siapa emangnya dek?" tanya Fika.
"Katanya mau bicarain tentang Kak Amanda" kata Fiki.
Rafa menatap Fika dengan tersenyum...