The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 26 : Masa lalu Erlan, Amanda, dan Rose (2)



"Masih ngejar ngga ya!? " batin Erlan yang bersembunyi dengan Amanda di balik pohon.


"E... Erlan.... "


Erlan berbalik.


"Kenapa? ada sesuatu?" tanya Amanda.


"Memangnya ada apa?" tanya Amanda.


"Sepertinya udah ngga ngejar, auranya ngga ada "


"Ngga apa-apa kok, ayo kita lanjutkan" kata Erlan menatap Amanda dengan tersenyum.


"Ya" kata Amanda dengan muka datar membuat wajah Erlan agak sedih.


Pagi Harinya....


"Wah! Amanda! ayo kita ambil Mocktail* yuk!" ajak Nina.


*(Mocktail, minuman alfterfantif minuman menyegarkan tanpa mengandung Alkohol, terbuat dari sari buah dan bahan lainnya yang dapat menyegarkan dan menghilangkan dahaga setelah meminumnya, agak sama dengan Cocktail, tapi tidak mengandung Alkohol ).


"Boleh deh" kata Amanda agak tersenyum dan tidak sadar Erlan menatap nya.


"Ini jelas bukan lagi agak aneh, tapi sangat Aneh! kenapa sekarang Amanda tersenyum pada yang lainnya tapi padaku...." batin Erlan.


"Dan.... orang yang mengejar kami tadi malam, jika ia dari Organisasi.... kenapa? apakah penyamaran ibu dan ayah... ketahuan!!!? " batin Erlan lagi.


"Oh ya, hari ini adalah hari terakhir kita Karyawisata, jadi hari ini kalian bisa menghabiskan waktu sampai esok pagi di hotel" kata Pihak sekolah.


"Baik Pak" kata para murid.


"Yey! akhirnya santai! tapi sayang, ini hari terakhir Karyawisata" kata Nina.


"Ahaha, tidak apa Na,... yang penting hari ini tidak ada waktu luang, bagaimana jika kita ke kebun bunga belakang hotel? oh ya! ada juga legenda, sebelum hotel ini dibangun pernah ada kubah pembantaian! yang di puncaknya ada batu berukir bulan! tapi karena kubah itu selalu di isi dengan pembantaian" kata Amanda.


"Wah! terus apa lagi tuh Nda!?" tanya Nina sambil duduk dan memakan sarapannya.


"Ya, terus Aparat negara menyerbu kubah itu dan diruntuhkan! lalu tepat di lokasi sebelum ada kebun bunga yang aku ceritakan, disitu batu ukiran bulan itu jatuh! dan rusak parah hingga di buang! ramalan kota Yoshino katanya mengatakan kalau hotel ini akan terjadi hal yang sama, itu katanya sih" kata Amanda.


"Wah, lumayan tragis juga ya! apalagi Ramalannya" kata Nina.


Sementara itu di gedung yang berlawanan dengan hotel Yoshino...


"Hm.... Erlan. Bukan, julukan untukmu adalah, Albert" kata Seseorang, Roy!.


"Kak Roy, bagaimana? sekarang?" tanya Peter.


"Ya, mau ngga mau kita tunggu bom yang di hotel itu meledak, dia tidak mau bergabung ya? kita sudah memasukkan dirinya, tapi ia tidak mau masuk ya? ok, hukuman antara di masukkan paksa, atau mati!" kata Roy sambil tersenyum menyeramkan dengan menginjak rokoknya.


"Eh! Nina! Amanda! Erlan! kita ke taman Hotel yuk! disitu kan ada labirin! bisa deh, kita bermain" kata Zaki.


"Boleh deh, ayo kita kesana" kata Nina.


Sesampainya disana....


"Good! ayo berpencar! Nina, kalau bisa tangkap aku! hahaha!" kata Zaki yang sengaja mengumpan Nina untuk bermain.


"Hei! Awas kalau ketangkap!" kata Nina.


Tinggallah sendirian Amanda dan Erlan yang sedang duduk di kursi bawah pohon yang rindang sendirian.


"Hei... Amanda" kata Erlan.


"Apa?" tanya Amanda.


"Apa kau marah padaku?" tanya Erlan.


"Apa maksudmu?" tanya Amanda.


"Ya, begitulah biasanya kau ramah dan tersenyum padaku, apakah aku pernah berbuat salah padamu?" tanya Erlan.


"Seingatku pernah tapi sudah ku maafkan" kata Amanda.


"Lalu? kenapa? jawab dong" kata Erlan yang di cuekin Amanda.


"Amanda, jawab! aku penasaran" kata Erlan.


"Mungkin ini terkesan kasar, tapi jujur saja kau membuat tersinggung"