The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 50 : Bimbang



"Ya... karena aku mau minta maaf!" kata Rafa.


"Lepas!" kata Vian, tapi tetap saja tidak di lepas.


Rafa terdiam.


"Rafa... ingat! turunkan egomu!" Rafa mengingat kembali ucapan Bima.


Grrt! muncul urat kesal di wajah Rafa.


"Ni gondrong ngeselin sumpah!!" batin Rafa sambil mengenggam erat tangan Vian yang sedari tadi belum dia lepas.


Mereka berdua bertatapan dengan tatapan bermusuhan, seperti akan menerkam.


"Ih! udah! udah! katanya mau minta maaf! tapi kok malah kayak kesel gitu sih!? yang ikhlas dong! jangan tersulut emosi!" kata Amanda sambil menatap Rafa dengan mengerutkan keningnya.


"Dan kau jangan suka memasang wajah sungut menyebalkan! ngga baik! kalau jadi orang, harusnya baik dikit dong! maafin aja susah banget!" kata Amanda lagi sambil menatap Vian dengan mengerutkan keningnya.


"Sudah ya, Rafa-niichan... kami mau kerja dulu, sampai ketemu saat pulang nanti, bye" kata Amanda sambil mendorong punggung Vian ke halaman parkir menuju mobil.


"I... iya"


Akhirnya Amanda dan Vian duduk di kursi mobil bersama.


"Vian, kalau lagi sama Rafa-niichan itu jangan di kerasin soalnya kalau dia di paksa atau ngebuat dia tertekan, nanti dia makin ngelunjak" kata Amanda.


"Huft... mau gimana lagi coba?" tanya Vian.


"Ya baik-baik dikit napa... jangan kesel-kesel gitu" ujar Amanda.


"Dia juga turunkan ego-nya dikit kek!" kata Vian.


"Terserah deh... kamu sama Rafa-niichan sama aja keras kepalanya" kata Amanda.


"He... eh!? apakah aku seperti si tukang pembuat masalah itu!?" batin Vian saat mendengar perkataan Amanda.


Lanjut di kantor....


"Em.. anu, ada apa anda memanggilku? Pak Wildan?" tanya Amanda.


"Begini... aku, ingin kita membicarakan topik tentang kejadian beberapa hari yang lalu" kata Wildan.


"Lho? yang saat itu aku kepergok Pak Wildan ya?" batin Amanda.


"Em... maaf jika harus bicara di tangga darurat, hanya ini tempat yang ngga ada orang" kata Wildan.


"Ngga apa-apa kok Pak, ngga masalah" kata Amanda.


"Aku.. masih agak bimbang, tentang yang Vian katakan, kalau dia mempercayaimu" ucap Wildan.


"Eh? jadi... itu ya?" tanya Amanda.


"Begitulah, hanya saja aku masih agak kurang yakin begitu" kata Wildan.


"Pak Wildan ngga usah khawatir kayak gitu, kalau memang aku melakukan hal yang mencurigakan dan dapat merugikan mas Vian, insya Allah saya ngga bakalan kayak gitu, karena buat apa? jika sudah di beri kepercayaan malah di sia-siakan?" kata Amanda.


"Iya sih... tapi bukankah agak aneh? kamu baru masuk ke AR Group, tapi Vian percaya sekali padamu, padahal aku sudah masuk AR Group lebih lama darimu kan?" tanya Wildan.


"Gadis ini... reaksi nya biasa saja, bahkan jawabannya formal sekali, padahal beberapa hari yang lalu dia lumayan marah saat aku memergokinya padahal rupanya itu rencananya" batin Wildan.


"Kalau begitu... baiklah, terimakasih sudah meladeni ku" kata Wildan dan pergi begitu saja.


Malam Harinya di Rosement....


Di Wall Vian...


"Bagaimana tadi? ku dengar Wildan menemui mu?" tanya Vian sambil duduk santai di kursinya.


"Ah... dia hanya minta maaf dan menanyakan beberapa hal yang tidak terlalu besar, Dasar.. " ucap Amanda.


"Gitu ya? lalu bagaimana dengan perempuan-perempuan yang memotret ku?" tanya Vian.


"A... Anu, mereka hanya berkata apakah aku mengadukannya pada Pak Wildan atau ngga, itu aja... dan ku bilang ngga, bahkan mereka sudah mengeluarkan ku dari grup percakapan" ujar Amanda.


"Kurasa mereka takut... oh ya? apakah Wildan dan perempuan-perempuan yang memotret ku sembarangan masih mengganggu mu?" tanya Vian.


"Eh? ngga kok, orang-orang yang memotret mu sembarangan hanya menatap sinis dan menghindar dari ku, kalau Pak Wildan setelah pertemuan siang tadi, beliau hanya berusaha menghindar dari ku saat kebetulan bertemu" Jelas Amanda.


"Oh... tapi mereka ngga mengganggu mu kan?" tanya Vian.


"Ngga kok.. ada apa?" tanya Amanda.


"Ngga, tapi jika mereka masih mengganggumu, katakan saja padaku, aku tidak akan biarkan mereka terus menganggu mu" Kata Vian.


"I... Iya"


"Oh ya... bagaimana dengan Erlan? apakah dia menghubungimu?" tanya Amanda.


"Ng.. ngga kok, ada apa?" tanya Vian.


"Ah,.. ngga, aku kira Erlan akan mengatakan sesuatu" kata Amanda sambil menunduk.


"Ah,... ada! dia mengatakan sesuatu" kata Vian.


"Eh!? benarkah!?" tanya Amanda.


"Ya,... dia bilang... "


"Eh!?"


BLUSH!!


"A... aku akan ke kamar ya" kata Amanda.


"I... iya" kata Vian.


Di kamar no 10...


Bruk!.


"Duh! apa sih!? ngga jelas banget kamu Lan!" kata Amanda sambil mengingat kembali apa yang di katakan Vian.


Aku akan selalu mengawasi mu dimana pun kamu berada