
Assalamu'alaikum...
Mohon maaf semuanya!!!!
Author bukannya gak menepati janji untuk tidak UP lagi.. hanya susah Move On 😭😭😭😭 padahal baru 1 bulan yang lalu.
Saking gak tahannya jadi UP untuk melupakan rasa Move on di novel Author yang pertama ini sementara.
Ria ( Asisten ) : "Sok iye punya atasan ngerepotin aja"
Author : "Ok Fix Ria, gaji kamu saya potong 80%"
Jadi... ada beberapa bonus untuk pembaca sekalian 😊😊, selamat membaca.
Gak ada Rahmat?!
Sahur bersama...
Jam 03.00
"Astaghfirullah!! udah jam 3 pagi!! ke dapur dulu deh, mungkin kak Rahmat udah ada di dapur" gumam Amanda.
Di dapur...
"Lho? Rafa-Nii? ngapain disini?" tanya Amanda.
"Ini... Tiba-tiba ada note kertas pesan di meja" kata Rafa.
-Maaf... aku harus pergi ke Magnaga city buat jenguk kerabat jauh, semoga kalian gak kesulitan gak ada aku. Untuk semua kerjaan ada di gulungan kertas yang ku simpan di rak, selamat menjalankan ibadah puasa-
by : Rahmatullah
"Kak Rahmat lagi pergi kok gak bilang-bilang?" tanya Amanda.
"Entahlah"
"Ah! Rafa-Nii! semalam Vian, Pak Randi, dan Pak Andi katanya membeli makanan ya? terus mereka gimana tuh?" tanya Amanda.
"Mereka udah gak keluar kamar lagi saat itu kecuali aki tua itu" kata Rafa.
"Baiklah... biarkan saja, lagipula di dalam kamar mereka ada termos untuk membuat teh jadi biarkan saja" kata Amanda sambil memaki apron.
"Aku akan membantu" kata Rafa.
"Wah Makasih... nanti Rafa-Nii sediakan piring sama sendok dan peralatan makan yang lainnya" kata Amanda mengarahkan.
"Baiklah"
"Jika sudah selesai, Rafa-Nii kembali ke kamar saja ya... buat bersiap sekalian kalau misalnya mau mandi dulu kan dapur sama area laki-laki dekat kan?" tanya Amanda lagi.
"Ya Baiklah"
Setelah selesai, Rafa pergi ke kamarnya. Amanda sendirian di dapur.
"Kak Vanora dan Kak Nera ada di luar karena acara, Pak Vandro katanya mau pertemuan antar GM di luar kota" batin Amanda sambil memasukkan sayuran ke dalam tumisan.
KRING! KRING! KRING! Bunyi telepon rumah berada di meja dapur depan yang biasanya jika ingin duduk untuk meminum kopi, teh, susu, DLL.
"Ng? telepon rumah? biasanya hanya bisa di akses anggota Rosement kan? coba ku angkat deh" gumam Amanda.
"Assalamu'alaikum? dengan siapa?" tanya Amanda.
📞"Amanda... ini aku"
"Eh? kak Rahmat?" tanya Amanda.
📞"Benar, apakah kalian sudah sahur?"
"Aku sedang memasak kak, Magnaga dan Helvetia beda 1 jam lho.. kak Rahmat udah sahur?" tanya Amanda lagi.
📞"Ya... sedang bersiap ke masjid, baiklah... sudah dulu ya"
"Ya kak"
TIT!
KRING! KRING!
"Ng? ada telepon lagi? dari kak Rahmat lagi kah?" tanya Amanda.
"Halo? kak Rahmat ada apa?"
📞"Amanda... ini aku Randi"
"Oh! Pak Randi rupanya, ada apa?"
📞"Hanya memastikan kau sudah bangun atau belum"
"Oh... btw, bapak mau sahur bareng?"
📞"Nanti setelah selesai membungkus makanan semalam ya"
"Baiklah Pak"
TIT!
"Lanjut masak"
Sementara itu di kamar no 8....
"Enak juga minum teh manis saat sahur begini,... lebih baik sahur di dapur sajalah" gumam Vian.
CEKLEK! Vian membawa mangkuk isi ayam, gelas berisi teh, dan sup semalam.
"Randi! kau sudah siap?" tanya Vian.
"Ya Sudah Ian!!" Seru Randi.
Vian melewati koridor untuk menuruni tangga sambil menengok sebelah kirinya ada sosok laki-laki tinggi berpakaian peci dan koko hitam berdiam diri disitu.
"Eh? HUAAA!!! SETAN!!!" Teriak Vian sampai gelas yang berisi teh tumpah sebagian tapi mangkuk isi sup jatuh dan tumpah.
"Eh?! kenapa itu si Vian teriak-teriak?!" tanya Randi sambil bergegas keluar.
Di dapur....
"Eh?! suara apa itu!?" tanya Amanda sambil mematikan kompor lalu pergi ke arah suara.
"Kau kenapa Gondrong ngagetin aja! kau bilangin lagi aku setan!" kata Rafa.
"Ya Ampun Rafa!! Pagi-pagi begini pakai baju Koko, dan peci! kau ini Rafa!! dasar bocah tukang buat masalah!!! lihat!? jadi tumpah itu sebagian teh ku! sama Sup ku tumpah semua!!" Kata Vian dengan kesal.
"Ya maaf dong Gondrong, namanya juga habis sahur aku mau sholat subuh sekalian! makanya aku pakai baju Koko dan peci" jelas Rafa.
"Kenapa kau teriak-teriak Vian!?" tanya Randi membaca piring dan mangkuknya.
"Itu! si Rafa pagi-pagi udah disini! ya apa gak kaget aku coba!? mirip hantu Jiang Shi yang dari Cina kan?" tanya Vian.
"Ada apa ini ribut-ribut? kenapa?" tanya Amanda yang memakai baju tidur dan jilbab, juga dengan beralaskan apron sambil membawa centong gorengan.
"Ini si Rafa! bikin gila sampai tumpah sup dan sebagian teh ku!" kata Vian.
"Orang kau yang kaget malah nyalahin aku!" kata Rafa gak terima.
"Kau ini ya Fa! belum sahur udah pakaian Koko dan Peci gitu! kemaruk banget sih!" kata Randi.
"Tau lah Rafa nih! sampai tadi ku kira dia setan" kata Vian.
"Kau juga lucu! namanya habis sahur aku mau sholat subuh! ya aku pakaian sholat lah!" kata Rafa membela dirinya.
"Sudah! kalian malah ribut-ribut disini! gak mau sahur emangnya kalian ini udah jam berapa ini coba?" tanya Amanda yang akhirnya bicara.
"Ya mau sahur lah... makanya aku sengaja pakaian dulu terus ke dapur buat sahur bareng sama Amanda, maaf ya Gondrong... karena udah ku buat sup mu jadi tumpah" kata Rafa sambil mengarah tangga.
"Maaf-maaf mu! gimana sekarang aku sahur!?" tanya Vian.
"Sudah Vian, sahur di dapur aja yuk, aku kebetulan sudah selesai memasak, ayo!" kata Amanda mengarah ke tangga.
"Kesal banget sama si Rafa! duh! gimana nih Randi!?" tanya Vian.
"Udahlah Ian, kau kayak gak tahu si Rafa itu kayak gimana. Kita tahu sendiri kan dia suka buat masalah dan iseng sama penghuni Apartemen kan? ya udah kita makan di dapur saja, kebetulan makanan dari restoran masih ada yuk" kata Randi sambil menutup pintu kamarnya.
"Memang benar-benar si Rafa! huh!" kata Vian sambil berjalan ke dapur.
Akhirnya mereka berempat duduk.
"Oh ya, kakek dimana?" tanya Amanda.
"Pak Andi sedang ada di kamarnya ada urusan katanya" ucap Randi.
"Oh"
"Oi Rafa! lepas dulu pecinya! ntar jatuh baru kotor gak bisa di gunakan sholat!" kata Randi.
"Oh iya lupa aku!" kata Rafa.
"Kenapa mukamu merungut Vian?" tanya Amanda.
"Masih kesal aku sama Rafa! gara-gara dia kita gak makan sup kan! meski ada sayur" kata Vian.
"Sudah deh Vian, nanti malah puasanya gak dapat banyak nikmat, hanya dapat pahala nahan haus dan lapar saja" kata Amanda.
"Iya sih... Iya! emang si Rafa itu suka ngagetin bisanya! kemarin pagi juga! si Rafa ini mengagetkan ku!" kata Randi.
Flashback....
Randi akan keluar dari kamarnya.
"Hoaam! cari udara segar dulu deh" gumam Randi.
CEKLEK!
"Hoaa-... HAAA!!!" Randi terkejut sampai mendorong Rafa yang ada di depannya.
"Kau ini Rafa!!! bikin kaget saja!!" Seru Randi.
"Aduh!! sakit sekali kau dorong Randi!" kata Rafa.
Flashback Off...
"Hahaha!! kasihan Rafa-Nii, pagi-pagi sudah dapat serangan fajar" kata Amanda.
"Masih sakit kah Rafa?" tanya Randi.
"Iyalah! kau dorong bersamaan kena batu di belakangku masih sakit lah!" kata Rafa.
"Kena karma, rasain" kata Vian.
"Huh! ya udah... aku ke kamar dulu buat ambil Ponsel" kata Rafa.
"Iya"
Akhirnya tinggal mereka bertiga kembali berbincang-bincang.
Di luar dapur...
Rafa melemparkan petasan.
CPLASH! PTAS!
"Astaghfirullah! suara apa itu?" tanya Amanda.
"Ntar, biar ku cek" kata Vian.
"Hei!!! siapa yang lempar petasan kesini!?" Seru Vian.
"Wah... kesenangan gak ya? ku kerjain lagi ah" kata Rafa yang bersembunyi di dekat pohon.
"WAAA!!! WOI! RAFA!!! JANGAN BUAT ONAR BISA GAK!?" Teriak Vian saat kakinya kena petasan.
"Ih.. mau di lempar batu aku, lari ah... Hahahaha!!" kata Rafa.
"Kenapa Kau Vian?" tanya Amanda.
"Itu! si Rafa malah lempar petasan!" kata Vian.
"K.. kok bisa dia lempar petasan, sabar ya Vian" kata Amanda agak ketawa.
"Awas kau Rafa!!! Rasakan pembalasan nanti!" Seru Vian.
"Sabar Vian, lagi puasa" kata Amanda lagi.
"Huh... Astaghfirullah Hal Adzim.... "