The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 4 Chapter 14 : Di temani



Kring! Kring! Kring! bunyi alarm Amanda.


"Hoaam!!! Astaghfirullah! mau bangun sahur kok ngantuk ya?" gumam Amanda sambil keluar dari kamar dan menuju ruang tamu kamar Apartemen nya.


"Eh?"


"Pagi Amanda" kata Jiwa Erlan yang tidak perlu Amanda lihat dengan Silent, karena Erlan berhasil memadatkan dirinya sebagai Khodam agar Amanda tidak perlu mengaktifkan Silent supaya tidak di ketahui Pascal.


"Pagi Lan, lagi baca buku?" tanya Amanda.


"Yah, buku tentang mempelajari hal astral, aku perlu terbiasa dengan hal ini" Kata Jiwa Erlan.


"Hihi! kau pasti bisa, kalau gitu... aku ke dapur dulu ya! mau sahur" kata Amanda.


"Baik, aku tunggu disini habis Sahur dan Sholat subuh ya" kata Jiwa Erlan.


"Ya!"


Di Dapur...


Vian ada di wall-nya.


"Vian!"


"Waa!!! adu.. du, jantungku" kata Vian.


"Maaf! kaget ya?"


"Kau sengaja?!"


"Hihi, maaf sahur yuk! oh ya, aku mau bilang makasih ya... " kata Amanda.


"Ma.. kasih? buat?"


"Hihi, ngga!" Amanda langsung turun dari tangga.


"Ku tunggu di dapur!"


Vian terdiam di wall-nya.


"Hoi, bilang sama-sama kek! heran deh! kenapa kepribadianmu sebagai ragaku seperti itu" kata Jiwa Erlan yang muncul dengan jurus teleportasi.


"Maaf diriku, maaf"


"Benar-benar ya! tapi cepatlah selesaikan semua masalah! aku tidak bisa membiarkan Amanda terus tahu kita membohongi nya" kata Jiwa Erlan.


"Eh?! dia tahu?"


"Ya, benar... aku tahu dari Mang Genderuwo" kata jiwa Erlan.


"Hei diriku"


"Apa?"


"Rasanya... agak aneh ya? bicara pada diri sendiri? aku sekarang, sudah tidak punya siapapun, saat Andra berkata kalau Ibu Ayahku, dan kakakku telah tiada, aku tak menyangka bisa curhat pada diriku sendiri yang ada dua sekarang" Jiwa Erlan.


"Yah, kita harus melalui ini semua"


Amanda sudah siap-siap mau ke kampus.


"Eh? pagi banget Nda, udah mau ke kampus aja neng?" tanya Jiwa Erlan.


"Iya, ada jadwal penelitian akhir shift pagi, jadi berangkat pagi deh" kata Amanda.


"Baiklah, aku ikut"


"Eh?! yakin? ngga di sini aja?"


"Aku bakalan di pelototin sama abang Andra, lagipula aku ingin lihat si Zakikiki" kata Jiwa Erlan.


"Baiklah, kamu di Batu Mustika Delima merah saja ya, kita berinteraksi secara batin" kata Amanda.


"Yap! siap tuan Putriku!" kata Jiwa Erlan sambil tersenyum memperlihatkan giginya.


"Idih! gombal!"


Akhirnya Amanda sampai di kampus.


"Amanda! siap untuk penelitian akhir?" tanya Nina.


"Wah! siap dong!"


"Lho? King?" tanya Amanda.


"Sopo iki anak? deketin aje, Amanda bilang dia... 'king'?" batin Jiwa Erlan.


"Hihi! saya kesini buat ngucapin semoga sukses penelitiannya" kata Alen.


"Sama-sama King, baiklah.. kami ke kelas dulu ya"


"Ya!"


Sore harinya, di istana Negara...


Andra sedang menyelesaikan tugas beberapa proposal.


"Ng? Aura ini?" batin Andra dan langsung memperhatikan sekitarnya saat pergi ke beranda jendela untuk memastikan tidak ada siapapun.


Andra langsung loncat ke atap istana yang tinggi.


"Huh! sudah kuduga! banaspati? kenapa kau disini?" tanya Andra saat mengaktifkan Silent.


"Aku di perintahkan oleh tuan Pascal untuk mengalahkan mu!"


"Dia berani juga, berarti mungkin dia tidak boleh di remehkan" batin Andra.


"Kalau begitu,... ayo"


Banaspati dan Andra bertarung satu sama lain.


"Ukh! tenaga ku berkurang karena seharian di ruangan, aku juga agak kelelahan jika terus begini... aku bisa saja mundur" batin Andra.


"Kenapa? dasar lemah! kalau begitu... rasakan ini!!"