
Vandro terdiam, "Aku harus kabari Vian kalau besok dia sudah bisa masuk kantor kembali. Kurasa dia sudah muak harus di Istana jadi kepala pelayan, haha. Aku juga sudah"
Tiba-tiba Vandro melihat Amanda berlari kecil sambil menunduk.
"Aman... " Niat Vandro terhenti, ia melihat sekilas air mata yang mengalir deras dari gadis yang akan menginjak usia 19 tahun itu.
Vandro ingin menegur, namun ia juga khawatir.
Di dalam lift, Amanda sudah bisa tenang, "Ya Allah, aku kenapa?"
"Tadi ada Pak Vandro, semoga beliau gak lihat. Oh iya, aku disuruh ke ruang kesehatan sama Pak Randi untuk check-up soal cedera di kakiku" gumam Amanda.
Sesampainya di ruang kesehatan...
Randi tersenyum, "Alhamdulillah, kakimu sudah membaik, lain kali hati-hati ya"
Amanda tersenyum, "Iya Pak. Kalau begitu saya kembali ke kamar, terimakasih"
"Iya"
BLAM! pintu tertutup.
Randi menghela nafas, "Haah!! siapa sangka aku akan mendapati hal itu?"
Flashback...
Amanda sedang diperiksa oleh Randi, Randi tersenyum, "Boleh saya minta sedikit darah kamu, Amanda?"
"Lho? untuk apa, Pak? cedera ringan setahu saya tidak membutuhkan pemeriksaan darah? apa separah itu?" tanya Amanda.
Randi terdiam, "Ini cewek gak bisa dibohongin"
"Ah, untuk jaga-jaga, saya mau tahu golongan darahmu apa" kata Randi.
"Saya bisa berikan dokumen tentang pemeriksaan darah saya, Pak" ujar Amanda.
"Kenapa ni cewek pinter banget sih?" batin Randi.
"Bisa jadi golongan darah dapat berubah akibat penyakit kan? atau tidak kesesuaian dalam pendonoran darah? itu bisa berbahaya" jelas Randi.
Amanda mengangguk, "Oh, begitu Pak. Baik, tolong hasilnya saya minta nanti ya, Pak"
"Iya" Randi lega akhirnya Amanda mau.
"Saya baru tahu Pak Randi bisa periksa darah" kata Amanda.
Randi terbelalak.
"Ah, tidak. Akan saya bawa ke lab rumah sakit untuk diperiksa" kata Randi.
Amanda mengangguk mengerti, Randi menghela nafas diam-diam, "Hampir saja"
Amanda hanya terdiam melirik Randi.
Flashback Off...
"Siapa sangka, kalau aku mendapati adanya gejala penyakit sinusitis dan asma? saat memeriksa kondisi kesehatannya. Untuk golongan darah aku masih menunggu hasilnya di rumah sakit" gumam Randi.
"Huh, ngantuk"
Akhirnya Randi tertidur pulas di meja kerja.
"Hmm, jam berapa sekarang?" Tanya Randi lewat Arlojinya.
Jam 04.15.
"Sudah subuh, Pak"
Randi kaget, "De-dedemit?!!"
"Jangan teriak, Pak! ini saya!" kata Amanda.
"Kenapa Amanda?"
"Tolong jangan berisik" bisik Amanda.
"Tolong kunci pintunya dong Pak, meskipun lumayan jauh dengan pintu luar, tapi tolong, semua jendela dan pintu dikunci semua" Jelas Amanda.
"Ba-baik"Sahut Randi yang langsung menutup semua Pintu dan jendela, suasana menjadi sangat hening.
"La-Lalu ada apa Amanda? hak begini cukup meresahkan" tanya Randi.
"Ada yang ingin saya bicarakan sama pak Randi" Jawab Amanda.
"Saya juga mau bicarain sesuatu sama kamu, kenapa kamu punya gejala penyakit yang membahayakan sistem pernapas-..." belum selesai Randi bicara.
"Saya... juga mau bicarakan itu, Pak" kata Amanda.
"Oh, oke"
"Nah, Amanda, kenapa kamu menyembunyikan penyakitmu itu?" tanya Randi.
Amanda tersenyum sedih, "Saya sudah menduga kalau Pak Randi akan tahu. Karena Pak Randi dokter, hal itu didukung saat Bapak meminta darah saya untuk diperiksa, tapi seharusnya hal itu tidak berpengaruh"
"Tapi, Pak Randi hebat" ujar Amanda.
Randi terbelalak dan mengalihkan pandangannya ke arah yang lain dengan wajah agak merah.
"Saya juga sebenarnya ngga mau ngerepotin orang Pak, jadi tolong! rahasiakan penyakit saya ini!" Kata Amanda sambil memohon.
"Itu bahaya! kamu baru tahu kan kalau kamu punya penyakit sinusitis akut?" tanya Randi.
"Saya sebenarnya sudah tau semua penyakit itu Pak" Kata Amanda dengan pasrah.
"Hah!? Lalu...? kenapa kamu-... Jadi itu sudah ada sejak lama!?" tanya Randi dengan terkejut, disebabkan karena ia menemukan gejala penyakit itu seperti baru-baru terjadi.
Amanda mengangguk, "Iya, sudah Ada lama, Terkadang juga kambuh saat malam hari, jadi ngga tidur lagi juga karena takut"
Vian mengantuk sehabis sholat, "Hm? ruang kesehatan ada yang lampunya nyala? ada yang konsul?"
Vian memutuskan untuk menguping, untuk mengawasi Randi, namun tetap aja Readers yang budiman, menguping bukanlah jalan terbaik.
"Saya juga dengar, kamu sering di roasing ya sama pelayan istana? maaf ya, mereka suka rese" Jelas Randi.
Randi memberikan 3 kapsul obat, "Ini obat untuk mencegah pendarahan dan darah rendah"
"Kenapa begitu, Pak? saya tidak punya penyakit darah rendah?" tanya Amanda.
"Sinusitismu agak lain, saya tidak menemukan adanya gatal di hidungmu, dan juga tidak ada lendir yang menumpuk yang dapat menyebabkan susah bernapas, kau tidak susah bernapas, bukan?" tanya Randi.
Amanda menggeleng, "Tidak, Pak"
"Seharusnya bukan sinusitis, tapi kau merasakan sakit nyeri dihidung, wajah terasa bengkak, hingga sakit kepala yang membuatmu seperti akan pingsan?" tanya Randi.
Vian terdiam, "Sinusitis jenis apa itu? Randi bener gak sih kerjanya jadi dokter?"
Amanda mengangguk, Randi terdiam, "Kenapa gejala penyakit ini sama seperti... gak mungkin, Amanda tidak mungkin kenal Erlan"
"Oh, begitu ya, nanti saya periksa lagi. Bawa saja obat ini untuk jaga-jaga" Sahut Randi.
"Iya Pak Randi, terimakasih, dan..."
Amanda mendekat ke Randi dan ketika membisikkan sesuatu ditelinga Randi,..
"Hah? mereka bicara apa? ngga kedengeran!!" Batin Vian.
"Oke baik, saya mengerti" Jawab Randi.
Vian menghela nafas, "Sudahlah"
"Sudah dapat dipastikan, dia bukan Amanda yang kukenal. Amanda yang aku kenal tidak punya penyakit seperti itu"
Pagi harinya,...
Ceklek, Amanda melihat di depan pintu kamarnya.
"Keripik kentang? Punya siapa ini? eh? ada tulisannya?" gumam Amanda.
...Jangan mubazir, habisin...
^^^From: E^^^
Amanda terdiam, "E? tidak ada inisial E anggota Rosement? tapi terimakasih"
Flashback setelah perbincangan Amanda dan Randi:
"Tolong Rahasiakan tentang penyakit ini dari siapapun! aku ngga mau buat repot" Bisik Amanda.
"Oke, saya mengerti"
Flashback Off...
"Nonton TV, deh" Amanda memutar televisi yang menyiarkan acara komedi, lumayan membosankan.
Tok, tok, tok, tok.
"Iya, sebentar"
Ceklek!
"Oh, Kak Rahmat rupanya, masuk sini" ajak Amanda.
Rahmat menggeleng, "Gak usah. Ini, ada Bubur Ayam dan teh, kamu belum sarapan kan?" tanya Rahmat sambil memberikannya.
"Terimakasih Kak" Jawab Amanda.
"Ya, aku permisi" Kata Rahmat.
"Hm, Kak Rahmat mukanya Datar tapi baik" batin Amanda.
Akhirnya Amanda memakan makanannya, sambil nonton TV.
"Kak Rahmat laki-laki tapi masakannya enak" puji Amanda.
Sementara itu Rahmat:
"Hatsyim! Alhamdulillah, kok aku bersin ya, ada yang bicarain aku ya?" tanya Rahmat.
"Yarhamukallah, Rahmat" Sahut Vanora.
Rahmat menghela nafas karena tau apa yang akan terjadi, "Yahdikumullah, Van"
"Rahmat, kau sakit?" tanya Vanora, ia memang suka dengan Rahmat.
"Em, aku harus ke dapur. Aku biasa saja"
"Yaah..."
Di istana...
"Pak, kita akan ada Rapat sekitar 10 menit lagi di perusahaan" Kata Sekretarisnya Vandro.
"Oke"
Akhirnya Vandro pergi untuk memanggil semua ketua dan wakilnya dari semua bidang.
"Vian belum datang, telepon dulu deh suruh ke kantor"
Dan Akhirnya Rapat pun dimulai.
Vian bilek: "Yey! balik ke kantor!!"