
"Ana?"
"Kenapa? iya? Ana, itu namamu... aku memberikannya padamu atas keputusan Pak Andi" Ujar lelaki itu.
"Eh?" tanya Amanda.
"Aku adalah Ayahmu"
"A.. yah?"
"Tapi.. bagaimana kau tahu namaku?" ujar Amanda.
"Grrr... " Sedangkan Ryu di belakang masih saja menggeram melihat lelaki yang mengaku sebagai Ayah Amanda.
"Hasegawa Kaito!!"
"Sudah ku bilang kan? aku adalah Ayahmu, melihatmu yang reaksinya terkejut seperti itu, sepertinya Pak Andi dan Andra tidak memberi tahu banyak kalau aku akan menemui mu kan?" tanya Arif
"Dan aku juga benar-benar benci dan kesal melihat Ryu di sini" kata lelaki itu sambil menengok sedikit ke penjara Aika.
"Grr.... Shinobi Legendaris ke 6, Kau!!! berani sekali!!"
"Hmf,... dia berisik sekali ya? baiklah, kita pindah ke tempat yang lebih baik"
CTK! Lelaki itu membunyikan jarinya dan mereka pindah ketempat yang aneh.
"Tempat... apa ini?" tanya Amanda.
"Ini alam bawah sadar mu, tidak apa kan? jika kita menghabiskan waktu bersama disini, Ana?" tanya Arif.
"Ayah,... "
"Iya?"
Amanda menunduk dan menangis deras.
"E... Eh!??! kenapa nangis!? apa ada yang salah!?" tanya Arif panik.
"Kalau ngga salah, saat pertama kali aku ngedate dengan Afifah, dia juga pernah nangis kayak gini karena aku melamarnya dan dia mengatakan kebalikan contohnya tidak suka menjadi suka, tapi kenapa Ana nangis?! meski cengeng, dia imut seperti Mika,.. Maksudnya Afifah" batin Arif.
"Ayah menyebalkan!!!"
"Eh?"
"Tidak!!! menyebalkan! kenapa begini sih! ayah dan ibu pergi karena aku! kenapa?! sekarang muncul!!" ujar Amanda dengan sedikit berteriak.
Arif terdiam sambil reaksi formal.
"Aku,.. jadi merasa bersalah!! seharusnya aku tiada saja saat masih kecil! agar kalian tidak perlu menyelamatkan ku! kalian tidak perlu mati!!!"
"Lalu? jika kami tidak menyelamatkan mu, maka kakakmu pasti sudah menyusul kami dan kau akan hidup sendirian bukan?" tanya Arif.
"Eh?! I.. itu"
"Cukup, tenang Yumna" ujar Arif.
"Y.. Yumna?" tanya Amanda.
"Ya, Yumna, Fujiwara Yumna, itu namamu di klan, sedangkan nama Andra adalah Fujiwara Hikaru"
"Pfft... Hihi"
"Ng? kenapa ketawa?" tanya Arif.
"Ngga apa, hanya aja... aku seneng bisa ketemu ayah kandung ku secara langsung, meski bukan di dunia nyata, Dasar..." ujar Amanda.
"Begitu ya?"
"Eh?!"
"Kenapa?"
"Ngga tahu yah, Tiba-tiba perasaan ku ngga enak, kayak...... kak Andra! Kakek!" ujar Amanda sambil berbalik.
Sementara itu di pertarungan...
Amanda masih terkapar karena terluka dan sedang berada di alam bawah sadarnya, sedangkan pertarungan sengit, Andra Pak Andi VS Pascal benar-benar seperti tanpa celah.
Kembali ke Amanda...
"Ayah! aku harus pergi dan menolong mereka!" ujar Amanda.
"Yumna,.. kau akan meninggalkan ku? itu akan membuat waktu bersama kita terkuras" kata Arif sambil memegang tangan Amanda.
Amanda terdiam.
"Tolong tunggu disini, aku akan kembali setelah membantu mereka!" ujar Amanda.
"Baiklah,... aku akan memberimu waktu"
Amanda akhirnya membentuk energi dari Mananya dan mengirimkannya pada Andra dan Pak Andi.
Di tempat pertarungan...
"Ng?! Mana ini,... Ana!?" batin Andra.
"Pak Andi! ayo!"
Pak Andi mengangguk dan langsung menyerang dengan mode astral.
"Ana... terimakasih!"
******
"Sudah?" tanya Arif.
"Ya! Jadi,.. kenapa Ayah bisa disini?" tanya Amanda.
"Aku ingin memberitahu mu sesuatu, mengenai kematian ku dan Mika 19 tahun yang lalu" ujar Arif.
"Aku,.. sudah tahu"
"Apa?"
"Ya,... di sebuah buku yang menaruh portal sesuai halaman yang kita baca" ujar Amanda.
"Begitu?"
"Hem! apa ada yang lain? yang terlewat?" tanya Amanda.
"Sebenarnya, ayah memang sudah ngga ada,... hanya saja, Mana ku masih ada di dalam kendali segel" kata Arif.
"Dalam kendali segel? maksudnya?" tanya Amanda.
"Ya,... sebelum ajal menjemput, aku sudah menyimpan Ryu di dalam Liontin itu, dan menyerahkan kendali segel kepada Andra, jadi saat aku ingin membantu... aku bisa mencegah kemarahan Ryu melalui kendali segel yang Andra pegang" Jelas Arif.
"Oh, pantas saja Aika selalu baik padaku, dan aku bahkan tidak di beri Mananya sama sekali" ujar Amanda.
"Maaf,... aku, hanya ingin melindungi mu dan kakakmu" kata Arif.
"Jadi... Ayah dan Ibu benar menjadi Shinobi tingkat Uchuunin?! benar-benar hebat!!!" Kata Amanda terkesima.
"Tidak mungkin kau tidak tahu lagi! aku adalah Shinobi legendaris ke 6! dan Mika, maksudnya Afifah adalah seorang Terano Kara terkuat!" kata Arif sedikit memujinya.
"Waw"
"Tapi... tetap saja kami akhirnya kalah melawan Pascal, dia mulai beraksi mengincar Ryu sekarang" kata Arif.
"Ukh! ini semua gara-gara adanya Kara! kalau Ayah dan Ibu saja ngga bisa mengalahkannya, apalagi aku dan kak Andra" ujar Amanda.
"Yumna... Ayah menyimpan Ryu dulu... memang untuk tetap menjaga keseimbangan Kara, tapi mau bagaimanapun... mereka sekarang hanyalah makhluk Astral, kehebatan sebenarnya bukan terdapat dari kekuatan siapapun dalam mengendalikan Kara, tapi tergantung pada siapapun yang memakainya" Jelas Arif sambil mengambil tangan Amanda dan menaruh Liontin kupu-kupu biru.
Amanda menatap itu.
"Ng, aku... ngga tahu bisa apa ngga, tapi kalau aku mencobanya lagi, aku mungkin bisa menghentikan Pascal dan mempunyai kesempatan!" kata Amanda dengan senang.
"Yah! Kau memang Putriku! kau mirip sekali dengan Afifah, tapi.. ada hal yang perlu kau tahu" ujar Arif.
"Eh?" tanya Amanda.
*******
"Kalian sudah tidak punya harapan!!" kat Pascal.
"Untukmu, sepertinya tidak bisa mencapai kami karena kau tidak punya tubuh Astral... anehnya kau bisa menyerang kami, itu artinya kau harus kalah dulu untuk saat ini!"
*******
"Maksudnya?" tanya Amanda.
"Ini... aku ingin agar kau melihat seluruh elemen pikiran masa lalu kelanjutan yang ada"
Flashback....
4 bulan setelah kelahiran Ana kecil...
"Ng?"
"Ada apa Afifah?"
"Gawat,... sepertinya... Ryu yang kita simpan di Gua kematian terlepas" kata Afifah.
"Ah, begitu ya? Pak Andi mungkin sudah disana,... sebaiknya cepat kita akan bertemu Pak Andi di dimensi itu"
Akhirnya Arif, Afifah, Andra dan Ana pergi ke dimensi itu dan benar dugaan mereka... dimensi itu hampir hancur lebur karena serangan Ryu.
"Afifah?! apa yang kau lakukan!?"
"Aku adalah Terano nya, aku yang harus bertanggung jawab!" Afifah langsung mengikat Ryu dengan energi rantai pengikat.
Sedangkan Arif harus pergi karena untuk meredakan kemarahan Ryu, sedangkan Andra berada di hutan kematian menjaga Ana karena perintah Arif.
Ryu hampir menginjak Afifah, tapi Arif berhasil menyelamatkannya dan menaruh Ryu di hutan kematian bersama mereka berempat.
"Mama! Papa!" Andra menggendong Ana dan mendekati Arif dan Afifah.
"Hah.. hah, Aku harus memasang pelindung, energi ku hampir-... "
"Jangan begitu Arif, tenanglah.. aku masih bisa menahan pergerakan Ryu" Afifah yang mulutnya sudah keluar darah dari sudut bibirnya mengeluarkan rantai pengikat.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk Uhuk!!" Afifah batuk terus menerus.
"Afifah!"
"Oeek! Oeek!! Oeeek!!!"
"Yah... Ibu membangunkan mu ya? maaf ya Ana, Dasar... "
"Mama! kau baik-baik saja kan?"
"Afifah!"
"Aku akan menarik Ryu keluar ke tubuhku, agar aku bisa menyelamatkan kalian bertiga... dengan begitu, aku bisa menyelamatkan kalian untuk sementara, terimakasih untuk semuanya Arif"
"Aku... "