The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 65 : Pilihan



"Iya! kami melihat mobilnya! kami akan menjalankan rencana untuk mengeluarkan Mbak Amanda, Eh!?" tanya staf Apartemen.


"Ada apa? " tanya Vian.


"Mbak Amanda sudah turun" kata Staf itu.


"Apa!? " tanya Vandro.


Amanda hanya terlihat pasrah dan memegang sebuah Ponsel di belakangnya.


Kembali ke AR Group...


"Amanda! kamu dari mana saja sih?" tanya Riri.


"Ahaha, ngga dari mana-mana kok Kak" kata Amanda.


"Oh gitu, ya udah" kata Riri.


Amanda mengingat kejadian tadi...


Flashback di mobil Rafa...


"Ok! Deal!" kata Amanda dengan menyatukan kedua tangannya di depan dadanya untuk menandakan salam.


"Oh,.... baiklah" kata Rafa yang tidak memaksa sambil mengambil kembali tangannya, ya dia tidak ingin mobilnya hancur.


"Jadi kapan mulainya?" tanya Amanda.


"Kalau bisa sekarang ngapain tunggu besok?" tanya Rafa.


"Oh... Ok" kata Amanda.


AR Group malam hari jam 19.30...


Mobil Vandro...


"Aku agak khawatir soal ini" kata Vandro dari dalam mobil melihat Amanda menunggu.


"Apa aku ke sana aja ya? jangan deh, ntar malah... Oh, itu dateng Vian " kata Vandro.


"Naik" kata Vian, Amanda emang udah janjian sama Vian untuk naik sama-sama.


"Ya" kata Amanda.


Sesampainya di Rosement...


TIN! TIN! bunyi klakson mobil Vandro.


"Ng? lho, Pak Vandro baru pulang toh" kata Amanda.


"Iya, tadi... em, ada urusan" kata Vandro.


"Ah... ya, kalau gitu saya duluan ya Pak" kata Amanda lagi.


Supir yang mengantar Vian dan Amanda sedang berbisik pada Vian.


"Tadi mobil Pak Supervisor mengikuti mobil kita, sebelumnya juga mobil Pak Supervisor berhenti di dekat Nona Amanda menunggu" bisik Supir.


Vian hanya mengerutkan keningnya sambil menatap serius Vandro mendengar hal itu.


Di ruang makan...


Vian dan Amanda sedang di sana...


"Huh! Ngga usah gitu juga! tadi Vandro juga denger tahu" kata Vian.


"Hah!?" tanya Amanda.


Vandro akhirnya datang bersama dengan Pak Andi.


"Pak Vandro, saya ingin minta maaf soal... " belum selesai Amanda bicara.


"Tidak apa-apa, lagi pula itu harus di ungkapkan bukan?" tanya Vandro.


"I.. iya" kata Amanda.


"Tapi kenapa kau menerimanya? kenapa tidak menolaknya? jika takut kami akan berusaha untuk melindungi mu" kata Vandro.


"Aku tidak punya pilihan Pak, mau aku terima ataupun menolaknya, aku juga yang akan kena imbasnya, sebelumnya saya sudah memperhatikan beliau, aku sengaja menawarkan sebuah tawaran dan dia menerimanya tanpa pikir panjang, melihat reaksi dan pola pikirnya itu sudah cukup membuktikan kalau dia adalah orang yang terburu-buru, mengambil keputusan tanpa di pikir terlebih dahulu" kata Amanda sambil melihat Laptopnya, sedangkan Vian di kanan Amanda, Vandro di kiri Amanda mendengarkan.


"Jadi aku menawarkan untuk barter barang sebagai jalur komunikasi, aku sempat berpikir dia akan memberikan Ponselnya, tapi dia lebih memilih untuk memberikan ponsel supirnya" kata Amanda lagi sambil melihat apa yang di lakukan Rafa lewat Ponsel, karena itu sudah di modifikasi oleh Vian agar kamera Ponsel Amanda bisa jadi CCTV dan pengawasan buat mereka.


"Ni Ponsel ngga ada yang seru apa ya? yang ada hanya Line, bahkan game sama sekali tidak ada! hanya ada beberapa pelajaran " kata Rafa melihat-lihat Ponsel Amanda.


"Bagaimana dengan CCTV melalui Ponsel Amanda Vian?" tanya Vandro.


"Aku sudah memodifikasi pengaturnya dengan memasangkan rekaman serta gambar yang akan diambil setiap 3 detik sekali, juga untuk itu aku menjaga pengamanan di Ponselnya seperti Line, Instagram, Youtube, DLL. Pengamanannya juga bertujuan untuk menjaga agar baterai tidak cepat habis, jadi baterai Ponsel bisa di gunakan dalam kapasitas yang kecil" Jelas Vian.


"Begitu, jadi bisa dong ya? ngga bakalan ketahuan kan?" tanya Amanda.


"Ngga kok, serahkan yang satu ini padaku" kata Vian.


"Makasih"


"Lalu bagaimana dengan nomor Ponsel mu? jika mereka sedang mengirim pesan atau apa bagaimana?" tanya Vandro.


"Maaf Pak! aku memberikan Ponsel pemberian Pak Vandro. Sebelumnya aku bilang ke semua kontak di Ponselku bahwa Ponselku rusak, jadi aku tidak khawatir soal itu" kata Amanda.


"Oh, tapi bagaimana jika kau ketahuan? maksudnya ketahuan oleh kami, kau kan pura-pura berpihak padanya, atau semacamnya? sudah memikirkan itu?" tanya Vandro lagi.


"Oh! itu sih gampang! tinggal keluarkan aku saja Pak!" kata Amanda.


"Apa!?" tanya Vandro mendengarkan itu.


"Ya! jika aku bilang aku telah di keluarkan, maka dia tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi kan? mata-matanya yang satu-satunya sudah tidak ada, mau bagaimana lagi?" kata Amanda.


"Dalam hal ini akan lebih gampang, tinggal pura-pura Amanda di keluarkan saja, lalu sembunyikan dia di dalam Apartemen agar aman tapi... " batin Vandro.


"Saya akan berbicara ke Pak Andi tentang hal ini, setelah selesai maka kami akan memberikan keputusan" kata Vandro sambil meminta Ponsel Bima.


"Oh, tentu Pak! makasih" kata Amanda.


Di tempat Andra....


"Kita tinggal mengambil keterangan dan meminta pihak keluarga menandatangani surat tutup mulut, juga tentang urusan perusahaan" kata Andra.


"Tentu Tuan" kata Radith.


KRRING! KRRING! Bunyi Ponsel.


"Ng? Ponsel nomor darurat Apartemen? ada apa?" tanya Andra.


"Assalamu'alaikum, Halo Pak Andi ada apa? Ng? apa!?" tanya Andra sedang menelpon dengan Pak Andi.


"Rafa dan Amanda sudah bertemu?" tanya Andra.