
"Karena... karena aku, kak Andra kayak gini, jika saja lebih baik kak Andra menemukanku saat semuanya selesai, dan aku tidak akan membebani kak Andra, itu lebih gampang kan? tapi, karena aku kak Andra kayak gini" Jelas Amanda.
"Ah,.. Hmf, jangan ngerasa bersalah, aku juga tidak berpikir sebelum bertindak, dulu saat Papa menemui Mama, Mama bahkan mempunyai masalah yang lebih besar dari ini" Jelas Andra sambil mengelus kepala adiknya yang di lapisi jilbab.
"He? benarkah? lalu bagaimana?" tanya Amanda.
"Ya, dan parahnya lagi! Mama menceritakannya pada Papa saat sudah berumah tangga!" ujar Andra.
"Ale?!! Saat sudah berstatus suami istri bahkan Ibu baru mengatakannya?! Dasar.... " kata Amanda.
"Ya!"
"Lalu, bagaimana reaksi Ayah saat itu, Kak?" tanya Amanda.
"Ng, gimana ya?" tanya Andra sambil tersenyum dan mengingat kembali kejadian saat dia masih berumur 7 tahun.
Flashback...
Bentar! bentar thor!
Batalkan Flashback...
"Kenapa flashback di batalkan?" tanya Andra.
"Sini kak! ku bisikin!" ujar Amanda.
"Deg-degan,... sadar diri Ndra! ini adikmu!" batin Andra.
"Psst... Psst, psst, Pssst!!" ujar Amanda.
*GLEK!* Perasaan merinding dan ketakutan tingkat dewa mengalihkan degupan jantung Andra.
"Ka.. Kau yakin?" tanya Andra.
"Yap! mungkin aku bisa mengetahui kayak gimana amarah Ibu" ujar Amanda.
"O... Ok"
Flashback....
Istana Carna....
"Hoaam!" Arif yang baru bangun menguap sambil berjalan ke arah ruang makan di istana yang sunyi, hanya ada istrinya disitu.
"Assalamu'alaikum, pagi" kata Arif.
"Ah! Wa'alaikummussalam, Pagi Kaito-kun" ujar Afifah berbalik ke belakang.
"Jangan panggil aku kaito di tempat seperti ini" kata Arif.
"I.. iya sih, hanya saja gitu deh" kata Arif.
"Baiklah! Arif-chan!" kata Afifah.
"O.. Oi! emangnya aku anak perempuan?" tanya Arif.
"Hihi, maaf! baiklah, Anata.. Oh ya! bagaimana dengan pertemuan dengan Pak Andi semalam?" tanya Afifah.
"Eh? Hmf,.. ya baik dimana Andra?" tanya Arif yang mengambil koran sambil meminum teh yang di meja.
"Dia sendiri bilang akan ada ujian di sekolah! lalu pulangnya akan latihan ninjutsu dengan Pak Andi! tapi-... Ukh!" Afifah berlari ke kamar Andra yang berada di lantai 3 istana, tapi dia hanya perlu menaiki tangga dari ruang makan ke kamarnya dan Andra.
"Andra! Ck! Andra!!" Seru Afifah.
"Ng!" Andra menyingkirkan selimut dari tubuhnya dan melihat jam.
08.00
"Waaak!!! Mama!! kenapa aku ngga di bangunkan?!" tanya Andra yang mandi, mengganti pakaian dan turun ke ruang makan secepat kilat.
"Huh! yang nyuruh kamu tidur habis sholat subuh siapa?!" tanya Afifah duduk di sebelah Arif dan memakan sarapan.
Andra berlari dan mengambil roti bakarnya, lalu berada di jendela akan melompat dari ruang makan yang setinggi 75 meter.
"Hei! ngga sopan! habiskan makanan mu dulu!!!" Seru Afifah yang sudah marah.
"Wah! sayangnya aku ada ujian, aku juga izin pulang terlambat, karena akan ada latihan dengan Pak Andi" kata Andra yang sudah melompat dan melakukan gerakan ninja.
"Hmf,.. memang seperti itu" gumam Arif sambil tersenyum.
SING! tatapan tajam istrinya dan rambut pink yang berdiri bagaikan medusa itu sudah mengambang-ambang karena marah.
"Kau juga!!! jangan biasakan dirimu pemalas! ntar Andra ikut-ikutan! sekali-kali marahi lah dia! Dasar..." Seru Afifah dengan mata silent nya yang berwarna merah beraura menyeramkan.
"He?! Ba.. Baik Mika, maaf" ujar Arif yang bulu kuduk nya berdiri ketakutan bagaikan kedinginan di Kutub Selatan.
Flashback off....
"Hahaha!! lucu banget!!" ujar Amanda.
"Hah? lucu? padahal itu menyeramkan!" kata Andra.
"Sungguh?"
"Oh ya! apa reaksi Ayah saat Ibu menceritakan masalahnya? apakah marah? ataukah kecewa karena Almarhumah Ibu tidak jujur pada Almarhum Ayah?" tanya Amanda.
"Em... Reaksinya"