
"Biarlah itu menjadi kenangan sama seperti yang sudah pergi saat itu" kata Rangga.
DEG! tersadar apa yang ia ucapkan.
"Sudahlah... ada apa kau kesini Rangga?" tanya Amanda tanpa menatap Rangga dan agak menarik nafasnya.
Rangga mengerti kenapa Amanda seperti itu.
"Ah gak, hanya ingin memberitahu kalau keadaan di Dimensi Astral baik-baik saja" kata Rangga.
"Lain kali beritahu saja Erlan, karena dia adalah Lord Eighth" kata Amanda tanpa menatap Rangga.
"Tapi, Erlan hanya memimpin pergerakan Shinobi saja, kau adalah Putri Silent kan? jadi... tetap saja, aku akan tetap menghormatimu seperti aku menghormati Kaito-sensei dan Mika-san" kata Rangga, Amanda tetap diam.
"Baik... maafkan aku, aku permisi" kata Rangga dan pergi dari ruang kerja Amanda.
BLAM!
GREP! Amanda mengambil kalung figura di luar bajunya dan membukanya lalu memeluknya.
"Ukh!!! Hiks... Rafa-Nii" Amanda menangis deras karena mengingat Rafa.
"Ibu, kami sudah selesai bermain video game dan berlatih pedang!" kata Andika.
"Eh!? Ibu!? kenapa nangis!?" tanya Amir.
"Ah, gak kok! gak nangis" kata Amanda langsung menutup kalung figuranya.
"Jangan bohong Bu! Allah gak suka orang yang bohong! ntar dosa" celetuk Umar.
"Begitu ya... hihi, Ibu emang nangis.. tapi Amir dan Umar gak usah khawatir, bawa Erika ya" kata Amanda.
"O.. ok Bu" kata Amir dan Umar.
Andika mengamati adiknya dan memeluk Amanda.
"An... dika?" tanya Amanda.
"Jangan ditahan, katakan semuanya saja... jika ditahan akan jadi penyakit, lampiaskan saja aku akan menemanimu yang terluka.. hingga kau bahagia, aku akan menemanimu dan mendengar kamu bercerita menangis, tertawa" kata Andika dengan dingin dan polos.
"E... Eh!?"
"Hehe... Ayah pernah bilang gitu Bu, Dasar...." kata Andika tersenyum.
"Tapi benar kok Bu,... Ayah dan aku akan bilang,... akan menemanimu yang terluka, hingga kau bahagia" kata Andika kembali memeluk Amanda.
PLUK!
Akhirnya Amanda menangis terisak sambil memeluk Andika.
"Ikhlaskan saja... Paman nanti malah berat untuk kembali ke rahmatullah, kita doakan saja ya agar Paman mendapatkan ridha dan ampunan banyak dari Allah" kata Andika.
"Ya udah... Ibu gak usah nangis lagi sekarang... aku akan mengambilkan teh ya?" tanya Andika.
"Gak apa Andika, gak usah... Andika main aja sana sama si kembar dan Erika" kata Amanda.
"Ya udah, aku main sama kembar dan Yun-chan ya Bu, permisi"
"Ya"
Di Aula...
"A... Ayah!?" tanya Andika.
"Ng? Andika?" tanya Erlan.
"Darimana aja sih!? ngeselin amat! gak becus amat jadi laki!" kata Andika.
JLEB!
"I.. iya, maaf bro, namanya juga ae lagi kerja" kata Erlan.
"Ya udah, Ibu lagi nangis gara-gara ingat Paman" kata Andika.
DEG!
"La.. Lalu!?" tanya Erlan.
"Aku akhirnya tenangkan Ibu, tapi Ayah... aku boleh nanya gak?" tanya Andika.
"Ya? tanya apa memangnya?" tanya Erlan.
"Seberharga apakah Paman Rafa bagi Ibu?" tanya Andika.
"I.. itu"
*****
Amanda sedang berada di Old Room Carna Family, disitu dia memandang fotonya yang wisuda S3 Farmasi fotonya dia merangkul Andra dan Rafa yang senang. Fotonya satu lagi, dia melihat Andra ulang tahun dengan wajahnya yang tumbukkan ke kue oleh Rafa, melihat dirinya dan Andra juga Rafa benar-benar senang.
******
"Andika, Ibumu merasa bersalah karena tidak bisa pulang ke Carna saat sedang mengandung adik kembarmu, saat kami sedang di Verheaven.... "
"Ya elah... Flashback lagi" batin Andika.
"Ini ya salah Authornya!! Tamat gak pada waktunya ya banyak Flashback!" kata Erlan.
"Bingo! aku setuju sama Ayah!" kata Andika.
Flashback....
Saat Andika berumur 10 bulan, dia sudah bisa merangkak, disitulah cerita yang sebenarnya terjadi.
"Hei... hei,... si kembar kapan lahirnya?" tanya Adimas.
"Aha... kurang lebih insya Allah 2 bulan lagi Paman" kata Amanda.
"Gitu ya,... " kata Adimas sambil menggendong Andika.
"Uga... Uga... "
"Uyu... Imutnya~~ Cucu kakek!!" kata Adimas.
"Oh ya, di bulan ramadhan begini emangnya sanggup puasa?" tanya Adimas.
"Insya Allah sanggup Ayah" kata Erlan yang disitu membawakan bubur untuk Andika.
"Yah!!"
"Andika! Hati-hati!" kata Adimas.
"Semangat sekali Andika ya"
"Sebentar lagi ulang tahun Rafa, akan bagus jika kalian berdua bersama Andika untuk syukuran kecil-kecilan" kata Adimas.
"Kami bisa saja begitu, memangnya kenapa harus kami?" tanya Amanda.
"Karena Rafa agak sumpek bersama Azka"
"L.. Lho!? bukankah dia sudah baikan sama Paman Azka?" tanya Amanda lagi.
"Hah... memang sih, tapi katanya Azka terlalu kaku, sibuk, dia selalu di acuhkan... gitulah!" kata Adimas.
"Haha... Insya Allah Paman, Dasar... " kata Amanda.
Di Apartemen Rafa...
"Yo!! Wah!! My Sepupu kesayangan!!! Ana! welcome to my room!! Waw!! ini lagi keponakan kesayangan!! dan... " Rafa menatap Erlan yang membawa tas Amanda, tas peralatan bayi, dan gendongan Andika.
"Pfft..... hahaha!!! dan babu sister!!" kata Rafa.
"Aku bukan babu woi!" kata Erlan.
"Ya ya... kau adalah sepupu ipar durhaka, di kasih tau gak nurut-nurut" kata Rafa.
"Sabar... sabar... sama orang gak punya etika... sabar Erlan" gumam Erlan.
"Jangan marah, ati-ati... ntar puasa batal!" kata Rafa lagi.
JDUAR!! Amarah Erlan benar-benar meledak, tapi tak dia lampiaskan.
"Apa kabar Rafa-Nii?" tanya Amanda sambil menyalami Rafa.
"Kabar baik lah! gimana keponakan Paman? ululu... imutnya! so cute!" kata Rafa.
"Kami kesini ingin syukuran ulang tahun Rafa-Nii, bener kan sayang?" tanya Amanda pada Erlan.
"Waw...! hebat atuh! tapi... tumben si Erlan nurut sama kamu Ana, kamu kasih obat apa?" tanya Rafa.
Rafa langsung melihat di belakang Amanda, Erlan langsung melotot kan matanya lalu mengarahkan tangannya yang di lehernya tanda mengancam.
"O... Ok, aku tidak akan tanya yang aneh-aneh lagi" kata Rafa.
"Ng? ada apa emang?"
"Nih... Andika, Robot!" kata Rafa memperlihatkan robot pada Andika.
"O... bot"
Setelah Amanda menyampaikan semuanya...
"Wah! bagus tuh!! boleh deh! aku mau kue bolu coklat dengan taburan kacang almond, dan strawberry!" kata Rafa.
"Haha! boleh deh... "