
Di Sebuah gua...
"Jadi, ada di dalam gua ini?" tanya Meghan.
"Sunyi sekali... " kata Crish.
"Gua memang sunyi!" kata Toni.
"Tetap pada rencana" kata Edward.
"Bagaimana, Yumna?" tanya Meghan.
"Eh!?" Amanda berlari ke dalam gua dengan Silent-nya karena melihat sesuatu.
"Kita ikuti dia!" kata Edward sambil ikut berlari masuk.
******
"Kapten.. ada pintu" kata Amanda saat menggeser batu dan menyingkirkan pasir-pasir yang ada.
"Biar ku buka" kata Crish membawa kunci duplikat.
"Cepatlah!" kata Edward.
"Lho?"
"Kenapa?" tanya Toni.
"Anu, kuncinya tidak bisa masuk dan tidak cocok" kata Crish.
"Minggir, biar ku urus hal ini" kata Edward sambil melayangkan kakinya.
"Eh!? Tunggu-... " belum selesai Meghan bicara.
JDAK!!! Karena tendangan Edward, pintunya menjadi hancur karena itu.
"Dulu... " gumam Meghan.
Crish hanya menelan ludah karena ngeri, Amanda dan Toni mengerutkan kening mereka.
KRRSK!! Edward menarik pintu itu agar bisa dibuka.
"Masuk" kata Edward.
"Lho? kenapa ada pintu lagi? dan ini mengarah ke... bawah tanah?" tanya Amanda.
KREET!! Edward akan membuka pintu.
"Kapten! tunggu, saat aku melihat dengan Silent,... ada 10..bukan... ada lebih dari 20 orang di lapangan bawah tanah" jelas Amanda.
"20.... lebih ya... Oi Meghan, apakah kau punya bom ninja?" tanya Edward.
"Masih... memangnya untuk apa?"
Di dalam lapangan bawah tanah...
JDUAR!!! banyak asap yang menyelimuti setiap penjuru bawah tanah.
"Kapten Ray! ada serangan di pintu masuk selatan!"
"Persiapkan semuanya.. kita kedatangan berlian dan emas, tangkap si anak buangan dengan gadis Fujiwara itu hidup-hidup! sisanya... biarkan mereka menanti ajal mereka" kata Ray.
"SIAP!"
*****
Mereka semuanya masuk.
Edward mulai mengatur pegangan pedangnya.
Flashback...
"Jadi, kau ingin aku menutupi pergerakan kita dengan bom ninja?" tanya Meghan.
"Benar, dengan begitu... aku akan menghitung ada berapa musuh yang sedang menunggu. Setelah itu Aku dan Yumna akan mengalahkan yang berpotensi akan mengalahkan kita, sedangkan Crish dan Toni kalian kalahkan sisanya. Meghan, setelah itu kau ikut dengan Crish juga Toni untuk mengalahkan sisanya dan siapapun yang berhasil menyelesaikan tugas dari rencana ini langsung segera memberi sinyal asap berwarna biru untuk memberi isyarat bahwa tugas di dalam rencana sudah selesai lalu ambil Morph-x nya!" Jelas Edward.
"Dimengerti!"
Flashback Off....
"10... 18....27....30! Semuanya ada 30!" Seru Edward.
"Serang secara beruntun dan habisi mereka!!" Seru Edward, Amanda sedang ada di belakangnya.
"YA!"
CTRANG!! BRAK! JDAK!! Bunyi pedang dan serangan jurus secara beruntun.
"Ck! si Edward itu ya? kalau begitu... rasakan in-... uargh!!!!" penembak yang ingin membidik Edward harus mendapatkan luka sleding di mulutnya dari Amanda.
"Huft... sepertinya setengah dari mereka sudah kita tumbangkan" kata Amanda sambil melepaskan pistol dan menembak ke arah atas sambil menutup sebelah telinganya.
DOR!!
"Eh!? sinyal biru itu... berarti ada diantara kita yang akan mengambil Morph-x" gumam Toni sambil menembakkan sinyal hijau.
DOR!
Di Tempat Edward...
"Ray!!" Seru Edward.
"Yo! Anak buangan, kenapa tiba-tiba ada di sini?" tanya Ray sambil mengambil tembakannya.
DOR! DOR! DOR! Peluru yang di lontarkan Ray mengarahkan bidikan ke arah Edward.
Edward langsung menghalangi wajahnya dengan pedangnya agar peluru tidak mengenai wajahnya.
"Sebaiknya bagaimana jika kau menyerahkan gadis Fujiwara itu?" tanya Ray.
"Apa!?" tanya Edward.
"Aku ini adalah informan alias pembunuh kelas atas, semua informasi yang ku butuhkan akan datang sebelum aku mengedipkan mata! jangan meremehkan ku, kalau begitu... bagaimana? kita barter, aku akan menyerahkan Morph-x kepada kalian dan kalian menyerahkan gadis Fujiwara itu kepada Rebellion, bagaimana?" tanya Ray.
"Baik" kata Edward sambil menembak tali penyangga alias jangkarnya untuk membuat jarak antara dia dan Ray.
"Oh?" tanya Ray.
"Lebih baik kau berhenti mengatakan hal yang konyol, aku tidak akan pernah membiarkanmu menyentuhnya seujung kuku! aku tidak akan pernah membiarkanmu menyakitinya!!" Seru Edward sambil mengarah ke Ray.
Ray langsung mengarah ke atas, Edward langsung menebas perut Ray hingga terluka.
"Ukh!! saking mengingat dirimu yang anak buangan... ternyata itu membutakan mataku bahwa kau itu sedikit berubah sekarang.. ya?" tanya Ray sambil akan pergi.
"Jangan pergi kau!!" Seru Edward.
Di tempat Amanda...
"Morph-x nya dimana ya?" tanya Amanda dengan Silent-nya.
"Lho? itu dia!" gumam Amanda.
DOR! DOR! DOR! DOR! Empat tembakan melepaskan shuriken dari pistol dan menahan jubah Amanda sehingga dia tidak bisa bergerak.
"Hah!? Shuriken!? siapa yang-... " belum selesai Amanda bicara.
"Aku... ternyata benar ya? kalau kau adalah Gadis Fujiwara utama itu ya?"
"Kau!! kenapa... lepaskan aku!!" kata Amanda.
"Morph-x itu tidak berguna jika di bandingkan dengan dirimu, ternyata bagus juga kami menggunakan Morph-x itu"
Di Tempat Edward..
"Gawat! Ray berpindah tempat!? sejak kapan dia menguasai jurus ruang dan waktu!?" tanya Edward yang melihat Ray langsung pergi secara astral.
"Ray... jangan bilang kalau dia sengaja mencuri Morph-x untuk mengumpan kita semua kemari!!?" Tanya Edward.