The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 58 : Peringatan



Keesokan harinya...


Di Rosement 05.24....


"🎢🎢🎢" Sembilan tengah bersenandung.


"Sebelum kau pergi aku ingin sedikit berbicara padamu" kata Vandro sehabis olahraga dan terlihat keringatan.


Jangan lupa Like, komen, and Favorit ya....


"Apakah kau yakin? untuk memberitahu Amanda hal yang seperti itu?" tanya Vandro.


"Hah!? jadi kemarin Andlo buntutin!? iih! Nachalnya Andlo!"


( Hah!? jadi kemarin Vandro buntutin!? iih! nakalnya Vandro!)


kata Sembilan.


"Aku tahu yang reaksimu itu berpura-pura kaget, kau tahu kalau kau sedang diikuti, bahkan saat Amanda merasakan keberadaan kami kau mengalihkan perhatiannya agar kami bisa mendengar apa yang kau beritahu, bukan begitu kan?" tanya Vandro.


"Saya tidak tahu apa yang kamu bicarakan Andlo, tapi jika melindunginya, bukan berarti melindunginya dan membuatnya buta akan ketidaktahuan, karena dia sudah perlahan menjauh pergi dari 'dunia' biasa ini" kata Sembilan.


"Saya suka sekali senyum orang-orang, tapi baru pertama kali saya melihat senyum yang sangat tulus, yaitu senyum Manda, lebih baik membuat orang senang karena itu berpahala, dan satu lagi, senyum itu mahal harganya bahkan tidak bisa di beli dengan harta, bukan begitu Ran-Ran?" tanya Sembilan pada Randi yang muncul di belakangnya.


"Haaah" Randi menghembuskan nafasnya.


Sementara itu di kamar No. 10...


"Akhirnya selesai mandi dan berpakaian, sekarang tinggal ambil tas dan Ponsel... ng? pesan dari Kak Fika?" tanya Amanda.


Kak Fika β€πŸ’žβ€


Amanda, bisa ketemuan ngga?


Kalau bisa ketemu dimana?


Line aku ya....


19.30


"Waduh!! kemarin sehabis sholat dan makan aku udah tidur!! waaah!! ngga baca Line Kak Fika lagi!" kata Amanda.


Kak Fika β€πŸ’žβ€


Amanda bisa ketemuan ngga?


Kalau bisa ketemu dimana?


Line aku ya....


19.30


^^^Boleh Kak, di Restoran^^^


^^^Di Restoran langganan ku aja^^^


^^^06.00^^^


"Kak Fika emang mau ngomong apa?" pikir Amanda.


"Sudah deh! aku keluar aja dulu" kata Amanda.


"Oh? ada Pak Vandro, Pak Randi, dan Kak Sembilan? lagi pada ngapain?" tanya Amanda.


"Oh.. Manda! tahu ngga? sebenarnya dua orang ini.... HMM!" Sembilan di bungkam mulutnya oleh Vandro dan Randi.


"Ahaha, ngga apa-apa, kamu duluan aja ke dapur ya" kata Vandro.


"Oh... te... tentu, permisi" kata Amanda.


"Ya" kata Randi dan Vandro sambil melepaskan bungkaman mereka.


"Ok.... Ran-Ran dan Andlo, saya pergi dulu" kata Sembilan.


....


"Sekarang kita mau bagaimana Ran?" tanya Vandro.


"Tau" kata Randi.


Tap! Tap! Sembilan bertemu Rahmat dan mereka sama-sama menuju parkiran, di sana Toni sudah sampai baru saja dengan motornya.


Sembilan hendak menyentuh bahu Toni, tapi Toni malah hampir menyerang Sembilan.


"Eits, jangan sakiti saya yang imut ini Ton-Ton" kata Sembilan.


"Toni! kau berdarah, ayo kita ke dapur dulu" kata Rahmat.


"Kenapa dia ada disini?" pikir Toni.


Sementara itu di Dapur...


"Hai Kak Nera" kata Amanda.


"Halo Amanda, mau berangkat kerja ya?" tanya Nera.


"Ya Kak, Kak Nera habis olahraga ya?" tanya Amanda.


"Ya, Amanda mau olahraga sama-sama ngga?" tanya Nera.


"Insya Allah kapan-kapan deh Kak" kata Amanda.


"Ok deh" kata Nera.


Malam hari kemudian...


Toni seperti biasa berjalan-jalan..


Toni menatap sekelilingnya.


"Ya... berkumpul di sana" kata Orang yang lewat di samping Toni sedang menelpon.


"Ng? Suara tadi!!?" batin Toni berbalik.


Di Rosement 22.35...


"Nak Nera, apakah orang kepercayaan mu bisa di percaya?"


"Toni... " pikir Nera.


Tiba-tiba Toni langsung naik ke beranda lantai 2 dimana Nera menunggu.


"Bagaimana patroli tadi Ton?" tanya Nera.


"Saat berpartroli tadi,... sepertinya... aku berpapasan dengan Rey" kata Toni yang membuat Nera mengerutkan dahi.


"Rey... ya?"