The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 4 Chapter 33 : Tugas seorang Ayah



"Ayah... kau baik-baik saja kan?" tanya Amanda.


"Kenapa? kenapa kau menolongku? padahal aku kan berniat mencelakai mu" kata Arslan.


"Aku.. tidak akan pernah melupakan jasa seseorang" kata Amanda.


"Kalau begitu, tolong ini... kamu harus pergi dari sini, aku sudah memasang perangkat bom di tubuhku agar Pascal hancur sepenuhnya, dan akan menyerapnya dengan alat lubang hitam milik Aliza yang mempunyai kemampuan menyerap segala ledakan seperti lubang hitam di luar angkasa" kata Arslan.


"Apa... apa yang kau lakukan?! aku juga bisa melakukannya dan akan segera pergi dengan jurus teleportasi! aku juga bisa!!-... "


"Jangan konyol!! untuk keluar dan selamat dari lubang hitam itu mustahil, lagipula... " Arslan memberhentikan kata-katanya sambil tersenyum menutup matanya.


"Lagipula?" tanya Amanda.


"Karena Arka sebentar lagi harus pergi, dan juga aku juga harus pergi ke sana untuk meminta maaf langsung pada Aliza, dan berkumpul dengan Arka sebagai keluarga, aku bukannya tidak ingin menganggapmu, hanya saja.... Keluarga ini terlalu berbahaya kau juga telah menemukan keluargamu, keluarga yang lebih baik dan derajatnya tinggi, bukan begitu? Tuan Putri?" tanya Arslan.


"Amanda!" Panggil Arka.


"kak Arka... "


"Arka, maafkan aku"


"Aku... tidak tahu harus apa, aku tidak mungkin membuatmu meninggal! kau adalah Ayahku! aku masih menganggapmu Ayahku! aku tidak ingin kau pergi!" kata Amanda yang sedih.


"Tidak apa, Aliza pasti tidak akan memaafkanku juga aku tetap disini dan karena perbuatanku, jadi sekarang aku ingin membuktikan padanya kalau aku bersalah dan ingin menebusnya, tak apa.. pergilah! melindungi Anaknya adalah tugas seorang Ayah, kalian tahu tidak? memiliki kalian berdua sebagai Putra Putriku meski sementara,... itu benar-benar beruntung!" kata Arslan menahan tangisan.


"Itu? be... runtung?" tanya Amanda sambil tersenyum.


Arslan mengangguk.


"Ayo! kita pergi!" kata Arka sambil menggenggam tangan Amanda dan pergi.


Arslan memulai ledakan dan akan menyalakan alat penyerap.


"Makasih, Arka... Amanda"


DUARR!!! SWING!


"Lubang hitam menyerap ledakan!" kata Arka.


"Begitu ya? berarti, tugas Ayah berhasil, sekarang dia akan berkumpul dengan Ibu untuk meminta maaf padanya" kata Amanda.


Di Rosement...


"Kalian darimana saja?" tanya Randi.


"Maafkan kami Pak"


"Hah! ya sudah!"


Amanda dan Arka sedang bersama.


"Kak, tolong sampaikan pada kak Andra tentang tadi" kata Amanda yang duluan.


BLAM!


Amanda berdiam diri di kamarnya, sambil merenung melihat seluruh kenangan Arslan, dan Aliza saat merawatnya dulu.


"Btw, Kakak udah ngasih tahu belum? ke Pangeran Adimas tentang aku? katanya ya?" batin Amanda.


"Aku harus mempersiapkan ini"


Arka pergi ke Andra dan menceritakannya.


"Ternyata benar Aura tadi"


"Aura apa maksudnya?"


"Sebelumnya aku juga merasakan Aura aneh, tapi baguslah... kita bisa menunggu sampai kotak Pandora terbuka" kata Andra.


"Ya"


Kembali ke Amanda...


Amanda sedang sibuk di Komputernya.


"Amanda.. "


"Ng?"


"Maafkan aku, apakah kau masih marah?" tanya Jiwa Erlan yang melihat Amanda dari belakang.


"Ng"


"Kau masih marah kah?"


"Ng"


"Maaf, tapi besok jam 0.00 aku sudah harus kembali"


"Ng"


"Maafkan aku"


Erlan Langsung pergi untuk ke Pak Andi, sedangkan Amanda sedang tidur di kursi sedari tadi dan tidak mendengar sama sekali ucapan Erlan.


Sedangkan di GYM...


"Randi!!! kembali!! mana barbel mini yang kau sembunyikan?! katakan!!" Seru Nera sambil mengejar Randi.


"Suwer Ner! aku ngga tahu! bener! please! jangan kejar aku!" kata Randi yang lari.


"Kagak! sebelum kau kasih tahu dimana barbel nya!" kata Nera.


"Duh! gimana nasib ku?"