
BRAAK!! Nera membanting meja untung saja Vian ngga menaruh Laptopnya dimeja, kalau tidak mungkin saja Laptop itu akan ikut hancur.
"Aku sama sekali ngga suka di bilang bercanda ya!!!" Seru Nera.
"Kontrol juga emosi Nak Nera, karena itu adalah meja kesayangan bapak" kata Pak Andi.
"Huh! itu juga gelas Plastik kesukaanku!" gerutu Nera.
"Syukur aja ngga ku taruh Laptop ku di meja" kata Vian.
"Nah, ini yang mau di bicarakan, orang berhoodie hitam dengan logo ini.... seharusnya mirip Toni, apakah ini Toni? seharusnya dia berjaga bukannya malah membuat onar" kata Vian memperlihatkan Laptopnya.
"Nak Nera, bagaimana mengurus kelompokmu?" tanya Pak Andi.
Sementara itu di rumah Fika...
"Apa!? tidak mungkin Amanda seperti itu!" kata Fika diruang tamu.
"Ya, Amanda sudah banyak membuat masalah saat di kantor" kata Rafa mengarang.
DEG!
"Jika memang ada masalah, seharusnya Amanda cerita, tidak mungkin ada yang seperti itu! saya sudah kenal memang GM yang di sana!" kata Fika.
"Oh ya? Siapa GM nya? apakah ada fotonya?" tanya Rafa.
"Apakah anda bisa memberikan identitas diri dulu? saya sama sekali tidak bisa membiarkan anda mengetahui hal-hal yang tidak bersangkutan dengan anda!" kata Fika.
"Aku adalah salah satu atasannya" kata Rafa menyembunyikan identitasnya.
"Ini fotonya" kata Fiki memperlihatkan foto Amanda dan Vandro saat sedang berbincang-bincang.
"Begitu ya" kata Rafa.
"Jadi benar si Vandro itu" batin Rafa.
"Sebaliknya anda juga jangan terlalu seperti ini, kalau memang Amanda banyak buat onar, kenapa coba sampai minta foto?" tanya Fika menyelidiki.
"Apa!?" Rafa sudah kesal.
"Sudah tuan! kita tidak boleh seperti ini!!" bisik Bima menahan Rafa.
"Ya sudah Nona, kami akan pulang, terimakasih" kata Bima.
"Ya... tentu" kata Fika langsung menutup pintu.
"Amanda, kenapa? apa kau seperti itu?" pikir Fika.
Di Mall Helvetia...
"Dah... selesai gambarannya" kata Sembilan.
"Wah... imut ya!" kata Amanda.
"Sekarang, coba Manda narasi kan, sesuai pemikiran Manda saja ya" kata Sembilan.
"Ok kak" kata Amanda.
"Saya hanya menggambar 3 kertas, jadi yang lainnya narasi kan sendiri ya Manda" kata Sembilan.
Randi dan Vandro siap-siap pasang telinga....
Pada suatu hari hiduplah seorang Pangeran yang tampan dan bijaksana, serta adik perempuannya yang jelita, serta pintar.
Walaupun Papa dan Mama mereka sudah tiada, mereka hanya memiliki satu sama lain, sang kakak memerlukan sang adik, begitu pula sebaliknya, sang adik memerlukan sang Kakak.
Setiap sang Kakak putus asa, sang adik selalu saja menenangkannya. Pangeran mengingat kalau dia akan memegang tahta setelah mendiang Ayahnya, sang Pangeran akhirnya membaca buku untuk menjadi seorang Raja yang di cintai rakyatnya, karena teringat kedua orang tuanya sang Pangeran sedih dan merasa tidak bisa menjadi Raja yang baik suatu saat nanti. Akhirnya sang Putri pun menasihati kakaknya yang tercinta itu.
Akhirnya sang Putri menasihati Kakaknya : "Kakak, jangan sedih, aku ada disini menemani kakak" begitu kata sang adik.
Lalu sang Pangeran menjawab: "Bagaimana kakak tidak sedih? Papa dan Mama.... " sang Pangeran memutuskan Kata-katanya.
"Ah.... kenapa, mulutku tidak bisa meneruskannya!?" batin Amanda.
"Kenapa... hanya Kata-katanya ini!?" batin Amanda.
Akhirnya sang Putri berkata kepada Kakaknya : "Kakak harus kuat!" kata sang Putri.
Pangeran terus saja berkeluh kesah, "Bagaimana kau bisa sekuat itu?" tanya Pangeran.
"Aku.... kenapa!!? kenapa hanya Kata-katanya ini yang keluar!!?" batin Amanda.
Sang Putri.... berkata!! "Lagipula seorang perempuan harus kuat! kalau tidak, dia tidak akan bisa selamat dan keluar dari masalah" kata sang Putri.
"Kenapa!? mulutku tiba-tiba mengucapkan kalimat itu!?" batin Amanda.
Kata-kata Sang Putri mengejutkan Pangeran dan akhirnya Pangeran mengerti kalau masih ada adiknya yang menemani.
Pada suatu hari... mereka sedang bermain di taman istana, bersenang-senang...
Tapi... tiba-tiba ada ledakan di istana dan membuat mereka terkejut, akhirnya orang-orang jahat mulai mengincar mereka, dan mereka berdua terpaksa lari dari istana dan mendapatkan pertolongan.
Sepasang laki-laki dan sepasang perempuan dewasa menyelamatkan mereka dengan sebuah pesawat kecil.
Tapi takdir berkata lain, pesawat itu berhasil di tembakkan musuh komplotan berjubah hitam, hingga pesawat kecil itu jatuh di hutan-hutan dalam keadaan rusak sangat parah semuanya terluka parah yang selamat dan tidak terluka hanyalah sang Pangeran dan Putri, akhirnya mereka di suruh untuk lari dari sana.
Akhirnya sang Pangeran membawa sang Putri untuk berlari pergi dari sana untuk menghindari pengejaran, akhirnya mereka melihat sebuah desa, mereka berlari dan berlari, tapi.... jembatan itu akhirnya roboh! sang Pangeran berhasil melindungi sang Putri meski sang Pangeran terluka parah.
Tiba-tiba ada seorang wanita bermulut sobek mendekati mereka dan membawa pergi sang Putri dan meninggalkan Pangeran sendirian di sana dalam keadaan terluka sangat parah.
Akhirnya sang Putri dan Pangeran terpisah sangat lama, dan tumbuh di tempat dan kehidupan yang berbeda, sang Putri tidak mengingat sang Pangeran, begitu pula sang Pangeran yang tidak mengingat sang Putri.
Mereka selalu merasa kehilangan sesuatu, sang Putri terus saja mencari apa yang membuatnya merasa gelisah.
Suatu saat Pangeran akhirnya berhasil menjadi seorang Raja dan akhirnya menaklukan dan membalaskan kepada yang berbuat jahat kepadanya, hingga suatu saat ia berhasil bertemu tuan Putri dan kembali bersatu.
...________...
"Ng... Kak Sembilan! cerita ini... " kata Amanda.
"Apa!? apakah Amanda.... " batin Vandro.