
keesokan paginya....
Aku lumayan bersalah karena seperti menakuti Amanda semalam, ya karena aku begitu jadi ia begini...
"Pokoknya mulai besok kamu pulang dengan saya" kata Vandro.
"Ah!? apa, ngga" kata Amanda.
"Apa!? kenapa?" tanya Vandro.
"Cih!" Amanda memalingkan wajah.
"Karena aku tidak mau jadi beban yang merepotkan" kata Amanda.
Beban yang merepotkan!? Amanda! masih tersinggung akan hal itu!?.
"Apakah kau masih menyimpan perasaan itu?" tanya Vandro.
"Kalau memang aku beban kenapa Pak Vandro tetap saja mau melakukan ini itu dan repot-repot mengkhawatirkan ku? itu membuatku berpikir kalau Pak Vandro pasti ada alasan yang lain kenapa Pak Vandro tetap mau mengkhawatirkan ku, jika memang aku beban, pasti Pak Vandro akan berhenti mengkhawatirkanku karena kita hanya sebatas atasan dan bawahan bukan?" kata Amanda.
"Dan... aku merasa seperti di kekang" kata Amanda lagi.
Bukan begitu....
"Dan mungkin aku akan lebih baik untuk pulang dengan Vian" kata Amanda.
"Ng? kenapa dengan Vian?" tanya Vandro.
"Aku sudah merasa kalau hubungan sebagai sesama Partner mulai membaik, jadi kurasa tidak apa-apa" kata Amanda.
Bukan begitu....
"Jadi, begitulah Pak Vandro, maaf jika membuat tersinggung, aku permisi" kata Amanda.
Bukan begitu, aku hanya khawatir, ini semua salahku, andai saja aku tidak mengatakan itu, maka tidak akan terjadi Seperti ini....
..._________...
Di kantor....
Pak Vandro sudah meminta maaf tadi sebelum berangkat, memang tidak masalah tapi bukankah....
Di Apartemen Rafa...
"Ggrrr" Rafa sedang mimpi buruk semalam, jadi dia berdiam diri dengan berbalut selimut belum makan.
"Tuan Rafa, makanlah dulu" kata Bima.
"Iya, sebentar, taruh saja disitu bbbb.... rrrrr" kata Rafa yang masih ketakutan.
"Hmmm!" Bima berpikir sudah tidak ada jalan lain.
Tap! Suap! Bima memaksa memasukkan makanan ke dalam mulut Rafa.
"Kalau anda sakit nanti siapa yang akan tanggung jawab!? siapa yang akan di potong gajinya!? yang sakit nanti siapa!? yang rugi siapa!? jadi makan yang banyak ya Tuan Rafa!!" kata Bima yang menyumpel makanan ke mulut Rafa sampai pipi Rafa terlihat tembem.
"BIMAAA!!!"
Di mobil....
"Kita akan ke AR group dulu Bim" kata Rafa.
"Ya" kata Bima menyetir mobil.
Sesampainya di AR Group...
Tiba-tiba...
Duk! Rafa bertabrakan dengan seseorang.
"Duh! bisa liat-liat ngga sih? kalau jalan!?" tanya Wildan.
Grep! Rafa mencengkeram kerah baju Wildan.
"Sebaiknya jaga sikap mu baik-baik" kata Rafa.
"Hei! Hei! jangan bertengkar disini! anda siapa? bukan karyawan kantor saya rasa" kata petugas satpam.
"Oh, ini kartu nama dan tanda pengenal saya" kata Rafa memperlihatkan.
"Ah,... ma.. maaf Yang mulia! saya tidak tahu karena anda datang secara tiba-tiba, apakah mau saya antar berkeliling?" tanya Satpam.
"Duh! siapa sih emang!?" tanya Wildan.
"Hm... kurasa tidak, sebaiknya karyawan ini saja yang akan menemani ku berkeliling" kata Rafa menunjuk Wildan.
"Hah!? Aku!?"
Akhirnya mereka berdua berkeliling.
"Oh ya, siapa namamu tadi? Wildan ya?" tanya Rafa.
"Be... beliau memanggil namaku!? " batin Wildan.
"Apakah kau kenal dengan cewek yang berjilbab, dengan mata biru, tinggi sekitar 170 cm" kata Rafa.
"Ng? seperti apa dia?" tanya Wildan.
"Ya, seperti ini" kata Rafa memperlihatkan hasil gambarannya yang Absurd nya luar biasa.
"Ah,... Ini si OG itu!!!" kata Wildan.
"Hah!? OG!? Office girl!? yang benar saja!?" tanya Rafa.
"Cari dia aku ingin melihatnya" kata Rafa.
Akhirnya mereka berkeliling bahkan sampai lantai ke 21 tidak ketemu juga Amanda.
"Hah! Hah! Eh! itu dia!" kata Wildan menunjuk dari balik tembok.
"Ternyata benar Perempuan yang ada di Apartemen nya Andra, tapi... bagaimana bisa perempuan yang pakaiannya lusuh kayak dia bisa jadi penghuni di Apartemen Andra yang mewah!? " pikir Rafa.
KREET! Suara alat bantu lutut Amanda yang berdesis.
"Ng? Suara apa itu?" gumam Rafa.
"Ah! dia keruang kumpul OG!" kata Wildan.
"Gini... sebenarnya.... Ah!!!!" kata Rafa melihat ke arah lain.
"Ng? ada apa?" tanya Wildan.
"Si... Si Vandro itu!!! Si Playing Victim!!! jadi di beneran GM!? lihat aja udah banget pengen kesitu dan nonjok! " kata Rafa.
Di tempatnya Andra....
"Yang mulia, anda akan bertemu wanita itu lagi?" tanya Radith.
"Tentu saja, dia sangat berkaitan dengan insiden di istana 18 tahun yang lalu" kata Andra.