
Di Planetarium Osaka yang sedang di renovasi...
UKH! Seorang Petugas cedera karena di pukul.
"くそ! かれわよびのでんわおもっていることがわかりましたか?!"
Kuso! kare wa yobi no denwa o motte iru koto ga wakarimashita ka?!
( Sial! Ternyata dia masih punya Ponsel cadangan?!)
kata lelaki asing itu sambil mematikan panggilan.
"Ukh... lelaki ini... " batin petugas itu.
Sementara itu di kantor Departemen Metropolitan...
"Anu,... Komandan Arsya, memang benar kalau ada seorang wanita bunuh diri dari atap apartemen di Osaka seminggu lalu" kata sekretaris Arsya.
"Namanya Midorikawa Aiko. Karena dia pegawai kantor itu, rekan kerjanya langsung bisa mengenalinya kamarnya ada di nomor 702. Apartemen itu dekat dengan lokasi kejadian tewasnya Letnan Nakamura Akane... Benda yang ada di TKP hanyalah Ponsel dan Sepatu hak tinggi milik nona Aiko"
"Selain itu, di temukan catatan bunuh diri di meja kerjanya, Dan sebenarnya.... " Sekretaris Arsya memotong kata-katanya.
Sementara itu Putra dan Amanda...
"Ka.. Kau tahu pelakunya!? pelaku yang membunuh Sersan Momosaki dan Letnan Akane?!" tanya Putra.
"Ya, tersangkanya ketiga orang yang ditahan karena melanggar lalu lintas di saat yang bersamaan kan?" tanya Amanda.
"Y.. ya, saat dibawa ke kantor.. mereka sangat marah, cuma itu petunjuk yang kepolisian ikuti" kata Putra.
"Kalau tidak salah.. yang tidak memakai sabuk pengaman dan menggunakan Ponsel saat mengemudi bernama Aono kan?
Kedua, pria yang naik motor dan melebihi batas kecepatan yang di tetapkan bernama Shiro kan?
Ketiga, pria yang tidak mengganti nomor plat motor yang sudah habis masanya bernama Eiji kan?" tanya Amanda.
"Dan Sersan Momosaki dan Letnan Akane, keduanya menunjuk ke arah rambu dilarang parkir" ucap Amanda.
"Eh? bukannya Momosaki-san menunjuk ke Ayunan?" tanya Putra sambil berkendara.
"Tidak... tapi di belakang Ayunan itu, ada rambu dilarang parkir! itu yang dia tunjuk" kata Amanda.
"Apa Putra tahu kenapa rambu dilarang parkir yang melarang selalu berbentuk bulat dengan garis miring?" tanya Amanda.
"Se.. sebenarnya tidak" kata Putra, dia tahu Amanda lebih pintar darinya.
"Itu merupakan bentuk dari kombinasi huruf N dan O. Dengan kata lain, no dalam bahasa Inggris. Rambu dilarang parkir adalah no kan? dengan warna biru dalam bahasa Jepang berarti ao, itu berarti ao ditambah no yaitu ao-no! itu berarti pelakunya adalah Aono-san" kata Amanda dengan raut wajah serius.
"A.... Ao ditambah no jadi Aono?" tanya Putra agak merasa aneh dengan pemikiran Amanda, meski Amanda lebih pintar darinya.
"Tapi... apa pesan mereka memang plesetan seperti itu?" tanya Putra merasa gak yakin.
"Awalnya ku kira juga begitu! tapi kalau cuma ada rambu di sana, bukankah masuk akal?! Pesan yang di tinggalkan korban, tidak boleh di ketahui pelaku! tapi juga harus bisa diketahui orang lain! Dan kebanyakan orang tidak tahu sejarah rambu jalan negara mereka masing-masing! tapi ada kemungkinan Sersan Momosaki-san dan Letnan Akane-san dari Departemen Transportasi bisa menyadarinya kan? itu pesan yang sempurna!" Jelas Amanda dengan panjang lebar, tapi Putra tetap beraut wajah tak percaya dan masih heran.
"Dan juga, 7155!" kata Amanda.
"Nomor yang di ketik Letnan Akane-san, dan tidak terhubung ke siapapun! Itu kemungkinan adalah Pasal 71 ayat 5-5 di Jepang, bahwa Pengguna kendaraan, dilarang memegang alat komunikasi ataupun memakainya. Itu berarti, pesan itu mengarah ke Aono-san yang ditahan karena menggunakan ponselnya, tidak salah lagi!" Jelas Amanda.
Di ruangan Komandan Arsya....
"Barusan, kami menerima informasi dari Walikota Eslaqar Putra Alifiandra, kami menerima informasi terkait tersangka, pembunuhan polisi wanita mengarah ke Aono! Dengan ini, saya memberi perintah untuk mencari Takahashi Aono bersama dengan petugas yang hilang" Kata Komandan Arsya.
"Dia Kriminal berbahaya yang telah membunuh dua rekan kita demi harga diri kalian sebagai kepolisian kalian harus menangkapnya!" kata Komandan Arsya.
"Siap!"
"Siap! eh... tapi, sebenarnya ini semua adalah deduksi Aman-... bukan, ini semua adalah deduksi ratu Aliana" kata Putra melalui Earphone Bluetooth.
"Adik perempuan Pangeran Aliandra, sekaligus seorang Terano.... hmf, perkiraanku dan Pangeran benar" batin Komandan Arsya dengan tersenyum heran.
Akhirnya di sekeliling kota Osaka di lewati banyak mobil polisi yang mencari Takahashi Aono.
Tim 1 : "Aono belum kembali ke kediamannya di Apartemen. Dari kesaksian para tetangga, dia belum terlihat dalam beberapa hari"
Tim 2 : "Berdasarkan rekan kerja Aono, tadi siang ada seorang wanita yang kemungkinan pacarnya sedang mencarinya, ya! tidak salah lagi itu Letnan Akane! kami sudah memastikan dengan fotonya"
Di Apartemen Aono...
Komandan Arsya sendiri dengan beberapa petugas ingin memeriksanya.
Arsya terus berjalan menyusuri kamar Apartemennya...
"Ko.. Komandan Arsya!! itu!!" tunjuk sekretarisnya.
"Ah!"
Terdapat kartu ID Sersan Momosaki disitu.
Sementara itu di planetarium...
BREET! UKH!
Seorang petugas lebih tepatnya senior lama Amanda.
"Ah! kenapa?" tanya Ali, ya... dia adalah Ali, senior sekaligus kerabat Riri dan Amanda di kantor.
"Berisik!"
"Kau.. bisa bahasa biasa?!" tanya Ali.
"Diluar ada banyak mobil patroli" kata lelaki yang menyandera Aono.
"Tentu saja! mereka mencari pelaku yang membunuh dua orang polisi! karena itu... sebaiknya lepaskan aku dan serahkan dirimu!" kata Ali.
"Sudah kubilang.... " kata lelaki itu sambil melepas wig, masker, serta topinya.
"Takahashi Aono!" ujar Ali.