
"Ukh.... Tuan Sembilan, maafkan aku!" batin Ali.
๐ถ
"Twinkle-twinkle little Star,
How i wonder what you are.
"Hah?! suara siapa itu!?" tanya Aono.
๐ถ
Up above the sky to high
Like a diamond in the sky.
"Mungkin... kah!?" batin Ali.
๐ถ
Twinkle-twinkle little star....
"How i..... wonder.... what you are" kata Amanda sambil perlahan mendekati Aono dan Ali.
"Se... seorang wanita!? kenapa bisa ada disini!?" tanya Aono.
"Aku membawanya kesini untuk mengalihkan perhatianmu agar bisa mengalahkan-mu!" kata Putra sambil melakukan bantingan punggung.
DUAK!
"UWAH!"
"Takahashi Aono! kau ditahan atas tuduhan pembunuhan 2 petugas polisi wanita!" kata Putra.
"Kak Ali!" kata Amanda sambil menghampiri Ali.
"Amanda... kau tahu petunjuk yang diberikan!?" tanya Ali.
"Hihi, aku hebat kan?" tanya Amanda sambil melepaskan ikatan tali yang mengikat Ali.
KLANG! Putra memasang borgol pada Aono.
"Jam 22.45, tersangka di tangkap!" kata Putra melirik Arloji nya.
"SIAL! sial! sial!!" Seru Aono mendengar itu.
"Kau bawa ponselmu ternyata, polisi sudah mencoba menghubungimu berkali-kali" kata Putra.
"Ponsel itu tidak menyala, ponsel ini kenangan Aiko! aku tidak akan meninggalkannya! tapi hari itu, dan saat itu, aku tidak berani melihat layarnya! aku tidak bisa melihatnya!" kata Aono.
"Sejak saat Aiko tewas, sebanyak apapun melihatnya, Aiko tidak bicara apapun!" ujar Aono dengan membuat raut wajah Putra menjadi iba.
"Aku sudah dengar soal pacarmu, itu benar-benar sedih, tapi karena dirimu mengabaikan misi sebagai Agen SAI kan?" tanya Putra.
"Itu salah kalian! dan salah keluarga Ameera! karena polisi tidak mengizinkanku pergi, Aiko... " Aono memberhentikan kata-katanya.
"Saat itu kau yang mengemudi tanpa memakai sabuk pengaman, dan memegang Ponsel kan? tentu saja kau di tahan kan? itu peraturan" ujar Putra.
"Lagi-lagi peraturan! aku sudah muak akan itu! kalau begitu, bukankah lebih baik memberiku surat tilang!? mereka menelpon soal hal biasa dan berbicara dengan keluarga Ameera! padahal aku bisa ke sana dan meyakinkan pacarku!! polisi seperti kalian yang membunuh Aiko!!" Seru Aono mengeluarkan unek-unek.
"Polisi tidak membunuh pacarmu, mereka kebetulan menerima telepon itu karena mereka memiliki kontak dengan keluarga Ameera. Meski itu tidak terjadi, kau tetap tidak diizinkan pergi, itu karena mereka tahu kalau kau sedang panik dan mereka merasa perlu memberimu waktu agar tenang, karena keluarga Ameera memiliki segi yang dapat membuat tenang karena terbiasa memiliki berita positif akan hal itu" Jelas Putra.
"Tidak ada yang tetap tenang di segala situasi, apalagi kalau itu demi orang yang kita sayangi. Aku juga pernah merasa kehilangan..... itulah mengapa, polisi yang kau bunuh, tetap menjalankan tugasnya! kau tidak bisa menyalahkan keluarga Ameera yang memang memiliki hak pemerintahan terhadap agensi SAI!" Jelas Amanda.
"Mereka tetap menjalankan tugasnya, agar pengemudi yang panik sepertimu.... tidak akan merenggut nyawa orang lain!!" kata Amanda.
"Kalian ceramah!? apapun yang kalian katakan... Aiko tetap tewas karena kalian menahanku! kalau kalian tidak menahanku, aku pasti bisa menyelamatkan Aiko!! Lagipula, aku tenang! tidak ada alasan aku ditahan di sana!" kata Aono.
"Tidak, kau tidak berperilaku normal" ucap Putra.
"Aku tahu! pacarmu meninggalkan pesan suara" kata Putra.
"Pesan.... Suara?" tanya Aono lagi.
"Sudah kuduga, kau tidak mendengar pesan pacarmu, tidak... kau tidak tahu kalau dia menghubungimu" kata Putra sambil mengambil Ponsel di kantung celana Aono.
"Setelah dia mengambil pesan, dia langsung menghubungimu... karena merasa kalau nona Aiko adalah beban karena kau lalai akan misi mu karena menghabiskan waktu bersamanya, mungkin kau tidak menyadari akan pesan suara ini" kata Putra menyalakan ponsel itu.
"Tapi... saat mengemudi, kau memakai Ponselmu. Terlalu fokus sampai-sampai di tilang polisi, seharusnya kau melihat ini saat itu" kata Putra sambil mengatur untuk memutar pesan suara.
"Pemberitahuan penting seperti ini sampai tidak kau sadari, aku bisa mengerti seberapa terguncang nya dirimu" kata Putra lagi.
"A... Aiko,... aku ingin mendengarnya... apa yang dikirim Aiko!" ucap Aono sambil menangis.
Putra melakukan apa yang diinginkan Aono lalu membuka pesan suara itu.
"ใใใฎ-ใใ.... ใใฃใใใใใใใใใชใใฐใใใใฉใ. ใใชใใใใใฆใในใฆใซใใใใใใพใใใใชใใใใใใใใใใใใฎใงใใใใใใ...... ใใใใชใ"
Aono-kun.... messeji ga yoku wakaranai baai wa dozo. Anata ga kurete subete ni kansha shimasu, anata ga watashi o kaiko shitanode gomen'nasai...... sayonara
( Aono.... kalau dari pesan tidak terlalu jelas jadi langsung saja. Terima kasih untuk semuanya atas semua yang kau berikan, maafkan aku karena kau dipecat...... Selamat tinggal )
Kata Aiko dari pesan suara.
DRUAK! Amanda menutup matanya karena merasa kasihan akan hal ini dan teringat dengan kematian Arif dan Afifah.
"ใชใซใใใกใ!! ใใ ใใใใใใใงใใ ใใ!!"
Nani ka ochita!! kyukusha o yonde kudasai!!
( Ada yang jatuh!! hubungi ambulans!!)
teriak orang yang melihat insiden itu.
TIT! Putra menghentikan rekaman itu.
"Kau mengerti? kau terlambat" kata Putra lagi.
"AAAAA!!!! HIKS! BOHONG! Bohong!!" teriak Aono mendengar rekaman itu.
"Aiko.... "
"Baiklah... sebaiknya kita berangkat, sudah malam" kata Putra.
"Baiklah... "
Keesokannya di Bandara Osaka...
"Terimakasih atas bantuannya komandan Arsya, tanpa anda pasti saya mungkin tidak dapat menyelesaikan ini" kata Amanda.
"Tidak apa Paduka Ratu, semoga selamat dalam perjalanan... " kaga Arsya.
"Ya"
Saat Amanda dan Ali mulai menjauh...
"Ya... ya,... seperti yang anda bilang, saya sudah memberikan informasi tentang adik Anda, dedukisnya benar-benar luar biasa" kata Arsya.
๐"Begitu ya... lalu, bagaimana dengan sekte Hebitsukai? saya belum percaya benar, Organisasi yang merenggut kedua orang tuaku dulu... benar-benar musnah, itu berarti masih ada ancaman yang lebih besar daripada Pascal" kata Andra.
"Tuan, maaf jika lancang... apakah tuan Rangga sekaligus pengawal pribadi mendiang ibu anda lebih baik anda bertanya padanya kan?" tanya Arsya.
๐"Baiklah Arsya... akan saya urus itu nanti... "
TIT!
"Sekte... yang telah merenggut nyawa Shinobi legendaris ke 6... Hasegawa Kaito dan Terano Ryu pertama sekaligus istrinya, Fujiwara Mika... "