
"Kakek? ada apa memanggil kemari?" tanya Amanda saat di saung.
"Ini,... ada hadiah dari teman lama Nak Amanda, katanya Nak Erlan" kata Pak Andi.
"Da,... Dari Erlan!?!?" tanya Amanda.
"Silahkan"
"Te,.. terimakasih! saya akan mengeceknya dikamar!" Amanda langsung pergi ke kamarnya untuk membuka kotak kecil.
"Nak Vian yakin? seperti ini?" tanya Pak Andi.
"Begitulah Pak, saya sudah menyuruh jiwa saya untuk menjaganya, dan untuk pengaktifan energinya sudah aku modifikasi menjadi bros agar bisa dia pasang di jilbab, sedangkan jiwaku bisa hilang untuk bersembunyi kapan saja" Jelas Vian.
Di Kamar Amanda...
"Ng? Wah! bros!" kata Amanda.
"Eh? ada note?" gumam Amanda dan membacanya.
-Amanda,... ini hadiah dariku, aku dengar kau banyak terluka, bikin kesal saja! ini... adalah diriku, aku ingin memberikanmu, aku menduakan jiwaku agar bisa bersamamu untuk melindungi mu sampai urusanku selesai, dia adalah makhluk astral tapi tetap diriku, jangan khawatirkan aku ya... untuk cara-caranya sih, isi saja dengan energi apapun deh! dan... jangan tanya kenapa aku mengirimkan ini dan darimana asalnya-
"Eh? makhluk astral? dasar Vian mulut ember!! tapi ngga apa deh" kata Amanda.
Di luar kamar Amanda, Vandro tengah diantar untuk di rawat di kamarnya agar tidak terlalu bosan di ruang kesehatan.
Vandro menatap kamar Amanda.
Flashback...
"Apakah keputusan mu itu?" tanya Vandro.
"Saya,... memutuskan untuk melupakannya saja, karena akan menjadi beban saja jika kita membiarkan hal itu terus terjadi, kitakan tetaplah tenant di Apartemen ini" kata Amanda sambil tersenyum.
"Ah... lagi-lagi senyum itu" batin Vandro.
"Begitu ya, sebenarnya aku ingin sekali bertanya, apakah kau tidak merasa terpukul saat tidak ada orang tuamu waktu Andra memberitahumu?" tanya Vandro dan langsung tersadar akan ucapannya.
"Ma... maaf, saya-... "
"Tak apa Pak, jujur saja... aku benar-benar kesal karena kak Andra memberitahu pada saat yang ngga benar-benar tepat! seakan-akan... dia menjadikanku sebagai bidak catur! serasa menganggap ini sebagai ajang permainan! tapi... aku benar-benar sangat bersyukur mempunyai kakak seperti kak Andra" kata Amanda menunduk sambil tersenyum.
"Kenapa?"
"Karena... kalau bukan karena semangat, kerja keras, dan pengorbanan kak Andra akan sesuatu, itu yang membuat kami menjadi kakak beradik kembali dan kembali bersyukur atas apa yang telah di takdir kan, akhirnya aku dapat bertemu kakak, kakak akhirnya dapat meluruskan kesalahpahaman saat dia mengatakan semuanya" Jelas Amanda.
"Yah,... meski bapak sadar dan merasakannya ataupun tidak, aku tetap saja masih terngiang di pikiranku kalau kak Andra benar-benar hangat, mengisi hari-hariku dengan kepedulian seorang kakak bahkan melindungi ku, bahkan aku bisa melanjutkan S2 kembali berkat dirinya dan dorongan serta nasihatnya"
"Aku berniat akan membantu kakak, agar dia bisa kembali pada lingkungan yang hidup dan bersinar akan kebersamaan tanpa rasa kesendirian, kebohongan akan perasaannya yang sebenarnya, dan lain-lain... itu sebagai wujud akan pembalasan budi terhadap Kak Andra dan juga.... "
"Sebagai ucapan terimakasih dan rasa syukur karena dia tetap ada sebagai kakakku" ujar Amanda sambil tersenyum bersyukur dan membuat Vandro terbelalak.
Flashback Off....
"Itu... membuat ku berpikir lagi, ini apakah karena Amanda yang tidak tahu rasanya di khianati oleh orang terdekatnya.... atau karena aku yang kekanakan? hanya masalahku dan Vanora, dia bahkan seperti ini dan itu padaku demi meluruskan hubungan persaudaraan kami" batin Vandro.
"Sepertinya aku perlu memikirkannya lagi"