
Malam harinya...
"Erlan... akan pergi malam ini" batin Amanda.
Di Bukit belakang wilayah Rangga...
Jam 23.40....
Erlan yang masih dalam mode khodam duduk memandang bulan sabit yang perlahan-lahan akan menjadi purnama sambil meletakkan gulungan-gulungan emas yang mengelilingi kotak Pandora agar inti kotak Pandora tetap tersegel.
"Amanda, dia tidak datang? padahal ini adalah malam terakhir kami" batin Erlan.
"Hei, diriku" kata Vian.
"Ng? Diriku?" tanya Erlan.
"Hari ini kau akan kembali ya?" tanya Vian.
"Ya, lebih baik... kau katakan saja pada Amanda! tentang kita" kata Erlan.
"Aku, entah kenapa rasanya berat" kata Vian.
"Erlan, Vian"
"Eh?"
"Kalian sedang disini?" tanya Amanda.
"A.. Amanda"
"Begitulah"
"Oh, gitu ya... " kata Amanda.
"Apakah kau masih marah?"
"Ng?"
"Ya, apakah kamu masih marah?" tanya Erlan.
"Soal... itu ya? aku hanya masih agak bimbang, apakah kalian sedang bohong padaku? Erlan, kenapa kau tidak datang ke acara wisudaku tadi? harusnya itu yang ku tanyakan" kata Amanda.
"Ada hal yang masih perlu ku selesaikan, bahkan aku masih bimbang untuk mengatakan yang sejujurnya" kata Erlan.
Vian hanya terdiam.
"Amanda... aku menyukaimu"
"Eh?"
"Kenapa? apakah kau tidak terkejut? apakah karena aku mengatakan hal yang sama saat 4 tahun yang lalu?" tanya Erlan.
"Bukan, hanya saja aku masih kurang yakin... jika kau tidak bisa mengatakan yang sejujurnya, aku agak bimbang mendengar pernyataan mu yang ini jujur atau tidak" Jelas Amanda.
"Kenapa kau tidak mengatakan yang sejujurnya diriku?" tanya Vian.
"Apakah itu masalah bagimu?" tanya Vian lagi.
"Aku... "
Tiba-tiba...
SING! Satu gulungan emas sudah bersinar dan mengisi Panel hitam Pandora.
"Panel nya terisi"
"Eh? hmf.. pengaruh mata itu ya?" tanya Vian menatap Pandora.
"Maksudnya?"
"Pengaruh Angry Turquoise Pascal masih ada, kita harus menghancurkannya, karena jika tidak.. maka itu akan menghancurkan tempat ini" kata Erlan.
"Kalau begitu Ayo!"
Amanda memulai jurusnya, tapi tidak berpengaruh, Erlan sedang menyerang dengan Jiko Shinkuken tapi tetap saja, sedangkan Vian hanya menatap karena tanpa jiwanya sebagai Erlan, dia tidak memiliki Turquoise.
"Percuma saja!"
"Combo kan kekuatan kita!"
"Ya!"
KRRAK! PRANG! serpihan pengaruh itu menyebar bagaikan serangan dan akan mengenai Amanda, Vian dan Erlan. Amanda langsung mengaktifkan perisai besar yang membangkitkan segel Terano Fujiwara.
SING!
"Eh?" tanya Vian melihat dahi Amanda yang memiliki pola.
"Tanda... apa ini?" tanya Amanda.
"Aquamarine"
"Eh?"
"Siapa kau?!"
"Tidak perlu tahu siapa aku, Terano Ryu, Fujiwara Yumna... sebuah kehormatan bisa bertemu denganmu"
"Dia, tahu namaku di klan?" tanya Amanda.
"Tentu saja, kau Terano yang terkenal di dunia ghaib karena berhasil mengalahkan Pascal serta Dimensinya"
"Sebaiknya kau pergi dari sini!" kata Vian.
"Sayangnya, setelah merasakan aura kekuatan hebat kotak Pandora aku mengurungkan niatku untuk pergi dari sini"
"Menyebalkan! kemarin Pascal, sekarang pocong wedon!" batin Amanda.
"Erlan! Vian! kalian harus tetap berada di dekat kotak Pandora! itu cara agar kalian bisa menyatukan jiwa kembali! sekarang sudah jam 23.35! waktu yang tepat! jika kalian terkena sinar Pandora, maka kalian bisa menyatukan jiwa kalian kembali!" kata Amanda.
"Tapi bagaimana denganmu-.. "
"Jangan khawatirkan soal diriku! aku akan mengalahkan wedon ini! lalu mengalihkan perhatiannya! setelah kalian selesai, kita bisa mengalahkannya!" kata Amanda.
"Aku tidak mau" kata Erlan.
"Eh?"
"Wah, sepertinya aku juga sependapat dengannya, mana mungkin kami meninggalkan dirimu sendiri disini" kata Vian.
"Vian... Erlan"
Vian menatap Erlan, Erlan tersenyum bangga padanya lalu Vian menghampiri Amanda.
"Vian... " kata Amanda.
"Bukan Vian, aku Erlan... sahabatmu dulu, maaf... tapi aku sudah bertekad akan memberi tahu padamu semuanya setelah ini selesai" kata Vian.
"Bodoh! aku tahu kalau kau adalah Erlan yang dulu! baiklah... kalau begitu, ayo!" kata Amanda.
"Ya!"
"Em, oh ya Erlan-... "
"Ya?" tanya Vian dan Erlan berbalik bersama.
"Ah, susah memanggil kalian dengan nama yang sama" kata Amanda.
"Eh? ini salahmu diriku!! kau sih! ngasih tahu ngga tepat!" kata Erlan.
"Yang tadi udah ngizinin siapa gondrong!?" tanya Vian.
"Ah.. ha.. ha, sudah deh! oh ya... kak Andra, Mang Rangga.. sudah deh sembunyi di belakang pohonnya!" kata Amanda.
"Hihi, ketahuan ya?" tanya Rangga.
"Kami hanya gak mau ganggu" kata Andra.
"Baiklah! waktunya!"
...__________...
"Kau harus makasih padaku! aku memberikan kemampuan Aquamarine ku dulu!" kata Aika.
"Dan kau harus minta maaf padaku!" kata Amanda.
Amanda mengontrol salah satu dari 3 gulungan emas dengan Aquamarine, segel yang Aika berikan padanya, sedangkan Andra mengontrol yang satunya dengan kendali segelnya, Rangga mengambil satunya, sedangkan Vian dan Erlan berpegangan tangan untuk menyatukan jiwa kembali.
"Hentikan!" kata Si Pocong Wedon dan menyemprotkan ludah ghaib, Amanda mengaktifkan Silent-nya.
SING!
"Perisai Ghaib!!"
"Mustahil! bagaimana bisa perisai ghaib itu tidak meleleh oleh ludahku?" tanya Wedon.
"Kau tahu dia adalah Terano, kenapa kau perlu bertanya? kau salah langkah datang kesini!" kata Rangga.
"Aku bisa mengalahkan Wedon itu! kalian tetap fokus!" kata Amanda.
"Kakek sudah mengajariku untuk mengalahkan makhluk astral yang mengincar energi jiwaku, caranya... kumpulkan energi ke satu titik, niatkan untuk melukai makhluk astral!" batin Amanda sambil mengangkat tangannya dan membentuk telunjuk dan mengumpulkan tenaga besar.
"Se.. sejak kapan energinya sebesar itu?! jangan bilang dia menyimpan energinya di Liontin-nya, dan mengeluarkannya dari bros khodam?!" tanya Wedon.
Amanda Langsung menunjuk ke Wedon itu dengan mata melotot Silent merah, dan Wedon itu langsung meleleh dan hancur.
"Hmf.. emang adik, kakak" kata Andra yang bangga.
"Hampir waktunya, Hei Erlan.... sekarang masuk ke dalam cahaya itu dan otomatis saat bulan berwarna emas, ada diantara kita yang mengajukan permintaan, sementara mereka menyatukan jiwa" kata Rangga.
23.58....
Erlan akan masuk.
"Amanda... aku berjanji jika aku berhasil aku akan menceritakan semuanya padamu tanpa ada yang terlewat.. " Erlan perlahan semakin masuk dan masuk.
Amanda menatapnya dengan berlinang air mata.
"Aku.. berjanji"
SING!
23.59...
"Waktunya bersiap untuk mengajukan permintaan!" kata Rangga.
"Ana, kau saja"
"Eh?"
"Yah sebaiknya Terano saja deh"
"Baik.. lah"
Amanda menutup matanya untuk fokus dan mengajukan itu dalam hati.
0.00...
"Bulan sudah menjadi Purnama dan berwarna emas" batin Rangga.
"Apa yang Ana ajukan?" batin Andra.
Bulan perlahan menjadi sabit kembali dan menjadi Purnama, sementara Cahaya yang menutupi Vian dan Erlan telah sirna, Amanda membuka matanya.
"Kita... berhasil"
"Erlan!" kata Amanda yang tersenyum sedu padanya.
"Amanda.. "
"Erlan... Mana janjimu?! ku tagih!" kata Amanda.
"Eh? janji? maksudnya apaan?" tanya Erlan, tapi wajahnya sebagai Vian belum terubah.
"Oh? kau merindukan jitakan ku ya?" tanya Amanda.
"E.. Eh? tapi serius janji apa?" tanya Erlan.
"Grr.... "
"Em anu... Lan, kayaknya candaan mu terlalu deh" kata Rangga.
"Kesini kau!!!" kata Amanda sambil mengejarnya dengan Mata Silent merah pekat.
"Waaaakh!!! tolong Ndra!!! Ngga!!!" kata Erlan melihat Amanda benar-benar kesal.
"Biarkan saja mereka bersenang-senang" kata Andra yang menghembuskan nafasnya sambil tersenyum menatap Adik dan sahabatnya.
"Erlan... kau tidak banyak berubah dari dulu ya?" batin Amanda.
"Amanda... terimakasih"
4 tahun kemudian....
Di istana Carna, Di bagian Arena latihan...
Erlan dan Amanda sedang beradu tanding.
"Hah... hebat juga ya!"
"Ya, kita tidak ada kalah hebatnya sih"
"Seharusnya latihannya jangan di musim bersalju gini"
Amanda menaruh botol minumnya.
SREEK! Pintu Arena latihan tergeser.
Drap! Drap! Drap! suara lari-larian kecil terdengar.
"Ayah! Ibu!"
"Ayah Ibu!"
" Ayah! Ibu!"
"Mama Papa!"
Andika Ameera (4) / Kitagawa Kenzo
"Ayah! Rasakan serangan ku! Dasar... "
"Hei! hahaha! Hati-hati Andika!" kata Erlan.
Amir Ameera & Umar Ameera (3)
( Kembar )
"Kak Andika culang! kami juga au!" sambil melemparkan bola salju tapi mengenai Amanda.
Erika Ameera (2) / Kitagawa Yuna
"Ika... au uga,... Ma.. endong"
"Ah! Amir! Umar! kalau begitu, Ibu akan melemparkan serangan balasan! bersiaplah!" kata Amanda sambil menggendong Erika.
"Yey!! Ibu ikut main!" kata Umar.
"Ayo! kita lemparkan bola ke Ibu!" kata Andika.
"Eh! baiklah.. karena kalian memaksa, maka Ibu akan melancarkan serangan balasan!" kata Amanda.
"Hei, kalian harus hati-hati lho! soalnya kalau Ibu kalian sedang marah! dia bagaikan medusa yang sedang mengincar orang lho!" kata Erlan.
"Serius? hahahaha!"
"Hei! pengen ya? kena lemparan bola salju? kalau begitu, rasakan ini!" kata Amanda.
POF! Angin yang berhembus tidak dapat menutupi sebuah kenangan yang terdapat di sebuah foto sederhana.
( Foto keluarga yang benar-benar bahagia )
Bonus....
Taqaballahu Minna Wa Minkum!
Mohon maaf lahir dan batin semua nya... makasih udah ngikutin TUB sampai saat ini! selanjutnya adalah bonus chapter.