
"Eh!? kok, tiba-tiba sunyi!? ja... jangan bilang alasan Pak Vandro nanya begitu karena ini Test!!? ga.. gawat! aku malah tidak secara langsung sudah menghina keluarga Pangeran!! " batin Amanda.
"Ma... maaf, aku tidak bermaksud... " kata Amanda.
"Tidak apa, tidak ada seorang pun yang ingin berada di keluarga yang penuh dengan konflik, jadi sebisa apapun, kita membantu dan mendoakan agar konflik yang terjadi cepat berakhir" kata Vandro dengan membalikkan keadaan.
"I... iya Pak, tentu" kata Amanda dengan melepas kekhawatirannya.
"Kalau begitu, saya permisi dulu" kata Vandro.
Sembilan menatapnya.
"Andlo, kalau mau ke kamar mandi lari aja" kata Sembilan.
"A... apa!? aku ngga... " Kata Vandro dengan pipi malu yang kata-kata nya terhenti karena melihat Amanda dan Sembilan sedikit menahan tawa.
"Ehem! saya permisi!" kata Vandro dengan berjalan.
"Andlo kayaknya kebelet sakit perut! tapi malu-malu" kata Sembilan berbisik kepada Amanda tapi masih terdengar oleh Vandro.
"Sembilan!! " batin Vandro dengan sangat malu.
"Apa... karena susu tadi malam?" tanya Amanda yang berbisik.
Vandro melewati tembok dan ada Randi disitu.
"Pagi" kata Randi menyapa dengan tersenyum.
"Kau dengar?" tanya Vandro.
"Ya, aku dengar" kata Randi.
Di AR group....
Tuk! Tuk! suara pintu di ketuk.
"Ng? kenapa bocah?" tanya Vian.
"Eh, aku... mau bilang, Maaf ya Vian, sebenarnya saat kita nonton Detective Conan the Movie 1, perangkat punya aku agak rusak, jadi saat kita nonton pertengahannya malah langsung pertengahan Detective Conan the Movie 5" kata Amanda di ruangan Vian.
"Ya aku tahu, udah itu aja?" tanya Vian.
"Ada lagi, juga makasih udah mau kasih kejutan ulang tahun aku" kata Amanda tersenyum.
Vian hanya memalingkan wajah dengan wajah agak merah.
"Apa? aku ngga ikut-ikutan" kata Vian.
"Itu... Ukh! sudahlah! itu ngga penting! cepet keluar" kata Vian yang ngga bisa menyembunyikan rasa malunya.
"Iya iya, ini ada brownies, dah" kata Amanda sambil menutup pintu.
Blam!
"Maaf ya, secara tidak langsung aku hanya bisa begitu untuk memberi kejutan, karena aku tidak bisa ke sana sebagai Erlan untuk beberapa waktu ini " batin Vian.
"Tapi lumayan dapat cemilan gratis" kata Vian.
TING!
"Ng? ada pesan? tumben kenapa ada email? dari kantor?" tanya Vian sambil melahap brownies buatan Amanda.
"APA!!? "
...Message Email...
...From : Rose...
Albert, aku ingin kau datang ke Alamat, JL XXX, ada yang ingin aku bicarakan saat malam hari, kau tahu kan? aku tidak bisa melakukan aksi sembarangan pada siang hari? aku berjanji tidak akan ada yang menyakitimu, karena ini juga ada sesuatu yang Bos organisasi ingin berikan padamu, percayalah padaku.
Message From : Rose
".... "
"Apakah... aku bisa mempercayainya?" tanya Vian dengan wajah Erlan.
TING!
"Pesan masuk lagi!? " tanya Vian.
Rose :
Dan aku juga ingin menjelaskan tentang gadis berharga mu itu Albert, bukan.... Erlan Ramanathan
"Amanda!? "
"Apakah aku harus memberi tahu Vandro? tidak! aku tidak boleh memberitahu siapapun, jika aku mati pun tidak apa, asalkan semuanya termasuk Amanda tetap hidup" kata Vian dengan susah berpikir apakah Rose bisa di percaya atau tidak.
SRRUUK! Ia menarik sebuah laci dan terdapat sebuah foto.
"Aku minta maaf.... Amanda "