The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
BONUS! CHAPTER 5 bagian 2



"Jadi... kenapa kau memanggilku Zayn? jarang ada orang yang memanggilku begitu" kata Zeydan.


"Ng? benarkah?" tanya Erika.


"Ya... gitu deh" kata Zeydan dengan dingin.


"O.. Oh"


Keheningan berlangsung beberapa saat dan membuat keduanya saling canggung.


"Em... lalu, kenapa kamu panggil aku, Eri?" tanya Erika.


"Yah gak apa-apa, karena dari kata 'Eri' sih" kata Zeydan.


"Oh, hihi! Dasar... " kata Erika.


"Apakah kamu sedang heran?" tanya Zeydan.


"E.. Eh!? gimana bisa tahu!?" tanya Erika.


"Soalnya tadi kamu bilang 'Dasar' kan?" tanya Zeydan.


"Tapi kan gimana kalau aku saat ini sedang tegang? malu, takut, kaget, dan semacamnya? kan?" tanya Erika.


"Emang kau sedang Tegang, malu, takut, dan kaget ya?" tanya Zeydan.


"Ngga! bener sih.. cuman heran aja, kenapa bisa tahu" kata Erika.


"Itu karena sudah biasa" kata Zeydan.


"Eh?"


"Aku sudah biasa mendengarmu mengatakan kata 'Dasar', jadi bisa membedakanmu dalam mengatakan 'Dasar' dalam ekspresi yang berbeda-beda" Jelas Zeydan tanpa menatap Erika dengan pipi merona.


"Eh? lho? pipimu merah ya Zayn?" tanya Erika.


"Gak! itu cuman sinar matahari doang! salah lihat!" kata Zeydan.


"Tapi... aku bisa tahu kalau kamu bohong, dan jika aku marah... bisa saja aku gak terkendali" kata Erika.


"Ng? serius?" tanya Zeydan.


"Yap! bahkan kalau gak salah,.. gara-gara pernah saat pelantikan papaku, kakak Andika pernah buat aku marah,... dan Papa jadi korban hingga seharian, ketiga kakak laki-laki ku langsung ku buat hampir sekarat" kata Erika dengan polosnya.


"Su.. Sumpah, ni bocah atau medusa!?" batin Zeydan sambil bergidik ngeri.


"Memangnya tadi kamu heran kenapa sih, Eri?" tanya Zeydan.


"Heran aja, karena Zayn manggil aku Eri... sedangkan kak Andika memanggilku Yun-chan" kata Erika.


"Nama yang gak biasa" kata Zeydan.


"Ehem!! Anak-anak, tidak boleh bermain disini... nanti di tangkap orang jahat gimana?" tanya suara seseorang dari balik bayangan hutan.


"Ng? Paman siapa?" tanya Zeydan maju dan mengisyaratkan Erika agar di belakangnya.


"Tenang saja.... anggap saja aku ini,... Penyihir, ya.. anggap aku ini penyihir" kata seseorang.


"Dasar ya? Mika-san, cucumu maupun putrimu menuruni anda ya" batinnya, yah.. melihat dari batinnya saja... pembaca tahu kan? siapa dia?.


"Eri sedang takut" batin Zeydan.


"Katakan saja paman siapa!" kata Zeydan.


"Wah, kasar sekali bocah... aku adalah orang asing" kata Rangga dan berpikir kalau mereka akan terkesan dengannya.


"Berarti paman ini orang jahat dong" kata Erika dengan polosnya.


"HAH!?" Tanya Zeydan dan Rangga.


"Kata Paman Andra, orang asing berarti jahat" kata Erika lagi.


"Du.. Duh Eri, semua orang asing tidak semestinya jahat" kata Zeydan.


"Lho? gitu ya?" tanya Erika.


"Andra.. apa yang kau ajarkan pada keponakan mu!?" batin Rangga.


"Kalau begitu... baiklah, sampai jumpa" kata Rangga dan mengastralkan jiwanya kembali.


"Eh!? mana!? Paman tadi ngilang!" kata Erika dan Zeydan kaget.


******


"Jadi gitu ceritanya Ma" kata Erika mengadukannya pada Amanda.


"Rangga benar-benar ada-ada saja" batin Amanda.


"Ya udah... Erika gak usah takut lagi, main sana sama kak Andika" kata Amanda.


"Ya!"


Andika akhirnya mengajak Erika pergi bermain video game.


Amanda duduk sebentar.


"Hah... kerjaan semua sudah di kerjakan Erlan di Verheaven... aku hanya perlu mengurus sebagian" gumam Amanda.


"Capek?" tanya Rangga yang langsung memadatkan jiwanya.


"Gak kok"


"Oh gitu, btw.... kenapa kau masih memakai kalung figura itu di luar bajumu? ingin memperlihatkan itu pada orang lain? hah.. benar-benar ratu yang suka pamer" kata Rangga.


"Dasar! ini mengingatkanku saat aku sedang berkabung dulu" kata Amanda.


Rangga hanya terkejut dan wajahnya menjadi iba.


"Tenang saja... Bestari telah di segel, kita harus menjaga agar kotaknya tidak terbuka kedua kalinya... kau ingat kan? bagaimana kotak Pandora terbuka setelah 3 minggu setelah perang kehancuran dunia astral ketiga terjadi?" tanya Rangga.


"Aku mengerti... aku bahkan hampir tidak ingin mengingatnya lagi, tapi entahlah... aku tak menyangka itu membuatku menyadari bahwa ninja dari pasukan pemberantasan sekte dan organisasi sesat itu benar-benar kuat" kata Amanda sambil menutup bukunya.