
Di hari Jumat pada tanggal merah....
10\= Amanda Dallena
"Hah! Hah! Hah!" Amanda berlari kecil dan kecapean.
"Hah!? Pak Randi!" kata Amanda sambil menghampiri Randi yang terduduk dan berlumuran noda merah.
6\= Randi
"Uhuk! Uhuk! saya... tidak apa-apa kok! tapi mungkin akan langsung baikan dengan.... " Randi belum selesai melanjutkan kata-katanya.
"Baiklah Pak Randi! berjuanglah!" kata Amanda yang langsung berlari.
"He... hei! tunggu!" Kata Randi.
Kemudian....
"Hah! itu Kak Rahmat dan Kak Vanora!" batin Amanda.
7\= Rahmat
"Sudahlah Van, pergilah selamatkan dirimu sudah berakhir untukku" kata Rahmat yang terkurung di sel dan berlumuran noda.
3\= Vanora
"Tapi aku ngga bisa meninggalkan kamu disini sendirian!" kata Vanora dengan pipi merona.
DEG, DEG.
"Wah, Rahmat lagi terlihat seksi" batin Vanora.
"Memangnya kenapa ngga bisa?" tanya Rahmat.
"Ka... karena aku, su.... su.... " belum selesai Vanora bicara.
"Kak Vanora! Kak Rahmat!" Seru Amanda yang langsung menghampiri mereka.
"Amanda kamu datang, cepat bawa Vanora pergi" kata Rahmat.
"Ka... kamu ngga mau aku disini?" tanya Vanora.
"Ayo Kak Vanora! sebelum terlambat!" kata Amanda.
DOR! Suara tembakan yang keras mengenai tepat di kepala Vanora dan berlumuran Noda hijau.
"Ternyata kau disitu, Vanora Out!" kata Seseorang di atas atap.
"Wuaa! Kak Vanora kena tembakan! siapa!? hah!? jadi kalian peneror nya!? saat di garis start semuanya menyebar, jadi gak tahu siapa peneror nya" kata Amanda sambil mengarahkan kepalanya ke atas.
5\= Nera
"Yes! benar! kami adalah peneror nya dan kalian akan kami bantai!" kata Nera yang memegang balon berisi cat warna.
4\= Toni
"Sekarang hanya tinggal menemukan 2 orang lagi. Bersiaplah, jangan sampai nyawa kalian melayang hanya melihat wajah tampan ini" kata Toni yang memegang Tembakan mainan yang diisi dengan balon sebagai pelurunya.
DOR! DOR! Balon demi balon hampir mengenai Amanda dengan sigap Amanda akhirnya lari.
"Kyaaa!" teriak Amanda sambil berlari.
"Cepetan lari dan berlindung Amanda!" kata Vanora.
"Seharusnya kamu ikut Amanda tadi" kata Rahmat.
"Ngga apa-apa Mat, aku rela. Kita bisa ngobrol berduaan~" kata Vanora.
Sementara itu Amanda berlari.
"Cih! susah juga mengenai Amanda yang larinya gitu, katanya kena Asma" gumam Toni.
"Ketua, ambil alih penembak" kata Toni.
"Kamu merencanakan sesuatu?" tanya Nera.
"Ya, untuk menjatuhkan si Pemain Bintang" kata Toni sambil menatap Amanda dengan tatapan tajam sambil tersenyum.
"Masukkan Peluru kedalam senjata, dan arahkan bagian depan, kita akan mengeluarkan penjaganya" kata Toni sambil mengambil senjata.
"Tembak!"
DOR! Peluru balon cat di tembakkan dan hampir mengenai Amanda.
"Hah!?" kaget Amanda.
"Waaa! ngga sempat menghindar!" batin Amanda sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangan.
Pes!
"Eh!? ngga kena?" batin Amanda sambil membuka mata.
2\= Vandro
"Kamu ngga apa-apa Amanda?" tanya Vandro yang selesai menangkis Balon itu dengan kain.
"Benarkan ketua? penjaganya keluar" kata Toni.
"Pak, Vandro!?" tanya Amanda.
"Saya kemari untuk membawa yang selamat! ayo kita pergi dari sini dan memenangkan permainan!" kata Vandro.
"Hahaha! jangan.... terlalu.... PERCAYA DIRI!!" teriak Toni yang melompat dari atas dan langsung melemparkan tali yang diikat dengan balon cat dan akhirnya mengikat kaki Vandro dan menimbulkan Noda.
BRUK! Vandro terjatuh karena kakinya sudah terkunci.
"Pak Vandro!" kata Amanda yang berniat untuk menghampiri Vandro dan menolongnya.
"Pergi Amanda! didepan ada Vian! kamu dan dia harus pergi untuk mencapai Finish line yang dijaga oleh Pak Andi di gerbang masuk tamu utama! Kalahkan Tim B!" kata Vandro.
"Baik Pak!" kata Amanda.
"Randi, Rahmat, Vanora, Vandro sudah Game Over, sekarang giliran si pemain bintang kita" kata Toni yang langsung mengejar Amanda.
"Waaaa!" teriak Amanda yang langsung berlari.
"Duh! Vian mana sih!?" gumam Amanda sambil melihat ke arah kiri dan kanan.
"Hahahaha" tawa Toni yang membuat Amanda bergidik ngeri.
"Glek! Kak Toni makin deket!" batin Amanda.
"La la la" Vian yang tinggal 25 meter lagi sampai ke Finish sedang memegang Laptop dengan santai.
"Hah!? Vian! Pas sekali!" gumam Amanda.
"Peluru Balon Cat ini tinggal 2, lempar secara bersamaan saja" batin Toni.
"HIYA!" Toni melemparkan bola itu dan hampir mengenai Amanda.
"VIAN! TUMPUKKAN KEDUA TANGANMU!" Teriak Amanda.
8\= Vian
"Buat apa?" tanya Vian.
"Lakukan Saja!" kata Amanda sambil berlari kearah Vian.
"Seperti ini? WAA!?" Kaget Vian melihat Amanda yang melompat menggunakan kedua tangannya dan berhasil menghindari balon Cat.
"Apa!?" Tanya Toni tidak percaya.
"Mustahil!?" kata Rahmat dan Vanora secara bersamaan.
"He... hebat" gumam Randi dan Vandro yang hampir Kompak.
PLOK! Alhasil peluru balon cat itu tidak mengenai Amanda dan....
Penjaga Rosement\= Pak Andi
"FINISH! Permainan dimenangkan oleh Tim A!" kata Pak Andi karena Amanda sudah pergi duluan ke Finish dan menang.
Diruang makan utama....
"Ok Tim A menang, tapi karena Amanda yang memenangkan permainan, jadi ia yang akan menentukan" kata Pak Andi.
"Ya! aku sudah putuskan kalau kita semua akan Makan malam di Rooftop Rosement!" kata Amanda.
"Ya! beberapa hari yang lalu, aku sudah mendapatkan Voucher tiket gratis belanja makanan instan mewah!" kata Amanda.
"Hah? itu sih terlalu biasa" kata Vian.
"Tidak! makanan instan ini sudah bagus sekali! dengan berkomposisi bahan yang mengandung zat yang membuat lezat, praktis membuatnya, dan juga halal, serta menyehatkan! ini adalah kesempatan! nanti aku akan pergi belanja dan kita akan makan bersama di Rooftop atap Rosement dengan pemandangan yang indah dari atas" kata Amanda dengan bersemangat.
"Wah, itu sih bagus sekali" kata Nera dan Vanora yang memang suka makanan yang Praktis, mewah, lezat, gratis, dan juga sehat.
"Iya, Bapak juga setuju dengan pilihan nak Amanda" kata Pak Andi.
"Kami juga!" kata Randi dan Toni secara bersamaan.
"Kurasa itu tidak masalah" kata Vandro dan Vian hanya mengangguk kan kepala saja.
"Baik! kita sudah tentukan kalau kita akan Makan malam di Rooftop Rosement" kata Amanda.
"Jadi, kapan kita akan mengadakannya?" tanya Vandro.
"Bagaimana jika hari Rabu tanggal 20 Januari pada malam hari? karena menurut Info, akan ada bintang jatuh dan bulan purnama tepat pukul 20.00 lho!" kata Amanda lagi.
"Lho!? tanggal 20 Januari itu bukannya...... " batin Vian.
"Wah! kamu tahu banyak ya Nak" kata Pak Andi.
"Hanya suka browsing sih Kek" kata Amanda.
"Aku juga sengaja mengadakannya pada hari minggu, karena bertepatan dengan hari istimewa ku" batin Amanda dengan tersenyum.
Setelah semuanya Mandi dan sarapan, mereka berkumpul di ruang makan utama....
"Ng? kamu pakai jilbab yang langsung Amanda? tumben, tadi saat kita bermain, kamu pakai yang segi empat kan?" tanya Vandro.
"Kamu jeli amat Dro, aku bantu cariin style baru buat Amanda, tapi katanya ngga mau" kata Vanora.
"Kapan-kapan aja kak, aku belum siap buat jilbab baru. Aku sempat kaget saat Kak Vanora tiba-tiba manggil ke kamarnya dan memintaku untuk memakai beberapa hasil desainnya, aku hanya mencoba beberapa Jilbab" kata Amanda.
"Vandro, kamu mau ngga? rambutmu ku potong dan ku style baru?" tanya Vanora.
"Kayaknya ngga dulu deh Van, rambutku masih pendek" kata Vandro.
"Sepertinya juga terlihat bagus dan mahal serta mewah, semoga ngga terlalu norak untukku" kata Amanda.
"Ngga kok, Ba-.... " belum selesai Vandro bicara.
"kalau memang kelihatan jelek, gunting aja compang-camping jilbabnya nanti tempel sana-sini kayak gelandangan itu lho" ejek Vian dengan santai.
"Oh! jadi kalau ini rambut ini ku babat abis, kamu mau tempelin sana-sini begitu!?" kata Vanora sambil menarik rambut gondrong Vian dan mengambil gunting besar.
"Wwwaaaah! taruh gunting itu cewek gorila!!! DROOO!!" Teriak Vian.
"Huh!" Amanda agak kesal mendengar ejekan Vian.
"Hahaha sabar, Vian hanya bercanda Kok" kata Vandro.
"Dasar Cewek Gorila!" kata Vian yang ngambek.
"hmm" Amanda bergumam sambil tersenyum.
"Walau Vian begitu, aku sudah cukup bersyukur masih bisa bicara dengan Vian sekarang tanpa ada ketegangan, dan hubungan kami sebagai sepasang Partner tidak seburuk yang kukira. batin Amanda dengan tersenyum.
"Syukurlah kalian bisa bicara seperti biasa lagi, semoga kalian makin akur ya" kata Vandro sambil duduk disebelah Amanda.
Ah ya benar juga, aku sudah menuntaskan kesalahpahaman ku dengan Pak Vandro. Dan sehari setelah kembali ke Rosement beliau membelikan ku HP baru dan juga Casing yang lucu, padahal aku sudah menolak tapi Pak Vandro tetap bersikeras,
"Apakah kamu bersenang-senang?" tanya Vandro.
"Ya!" kata Amanda dengan tersenyum puas.
"Eh! ngomong-ngomong, hebat lho Amanda tadi! kamu bisa lompat gitu Nda, sampai peluru balonnya meleset dan nabrak tembok" kata Nera.
"ahaha, biasa saja kok kak Nera" kata Amanda.
"Tapi kamu ngga apa-apa kan? kok asmamu ngga kambuh?" tanya Vanora.
"Ngga kok Kak, soalnya aku udah minta obat pencegah Asma dari dokter kenalan ibuku dulu. Aku minta obatnya karena memang hanya dia yang punya" kata Amanda.
"Oh, begitu" kata Vandro mengerti.
Ruang kesehatan.....
Tok! Tok! Tok!.
"Silahkan masuk" kata Randi.
"Permisi, katanya Pak Randi manggil?" tanya Amanda.
"Ya, silahkan masuk Nda" kata Randi lagi.
Amanda pun masuk kedalam, ia memperbaiki sedikit jilbabnya yang miring.
"Ayo kita lihat hasil medical check up kamu" kata Randi.
"Oh, tentu Pak!" kata Amanda.
"Kalau mau, saya akan buatkan jadwal konsultasi dengan dokter spesialis tulang yang ahli dengan lutut, dan masalah dengan lutut kananmu yang retaknya memang tidak terlalu parah, tapi berpotensi jika lutut kananmu sering terbentur, jatuh, atau lain sebagainya yang mengganggu perkembangan pemulihan lutut, maka akan mempersulit penyembuhan.Jadi saya akan memasangkan alat bantu lutut yang besi tapi anti pecah, agar tidak terjadi seperti alat yang lalu supaya lututmu terlindungi meski terbentur" Jelas Randi.
"Makasih banyak Pak Randi tapi sepertinya untuk konsultasi belum mau cek, lagipula ngga terlalu mengganggu" kata Amanda.
"Ya baiklah, saya tidak memaksa tapi jika sudah siap silahkan beritahu saja saya, saya disini untuk membantu" kata Randi.
"Ah, apakah biaya rumah sakit dan obat, dan sebagainya alat yang membantu penyembuhan benar-benar ditanggung Pak Randi?" tanya Amanda.
"Tidak, Andra yang menanggung semuanya selama kalian masih anggota Rosement, sebagian Alasannya juga saya disini untuk menjadi jembatan untuk tenaga medis yang dia butuhkan" jelas Randi.
"Oh? ngomong-ngomong soal itu, apakah Pak Randi dan Pangeran kenal dekat?" tanya Amanda.
"Hm, saya sih sudah kenal lama dengannya.... Dari masa kuliah, sebelum masuk Rosement ini" kata Randi sambil mengambil salah satu dokumen.
"Oh, sudah kenal lama ya? berarti Pak Randi dan Beliau sudah lama berteman bukan? kalau begitu apa alasan Pak Randi bisa ada di Rosement?" tanya Amanda.
"Yah, yang hanya bisa saya beritahu adalah karena ia membutuhkan saya karena mungkin saya bisa dipercaya dan seperti yang saya jelaskan tadi, salah satunya karena saya dokter yang bisa menjadi jalur komunikasi antar dokter-dokter lain yang ia butuhkan,lagipula ia menjadikan saya Ambisius terhadap dunia ini" Jelas Randi lagi sambil membaca dokumen yang ia ambil.
"Eits, saya tahu apa tujuanmu, tapi kalau kamu memang mau tahu tentang saya lebih jauh lagi, kamu harus mau kencan dengan saya dulu, bagaimana?" tanya Randi yang mendekatkan wajahnya ke Amanda.
"Makasih udah cerita-cerita Pak" kata Amanda.
"Kok, berasa ditolak ya?" tanya Randi dengan suara kecil.
Malam hari di Rosement Jam 20.00.....
"Lho? kamu tumben keruang berkumpul Dro? Ada apa?" tanya Nera.
"Aku mau tanya, apa kau mengurus kelompokmu dengan baik selama Andra tidak ada disini?" tanya Vandro.
"Yah baik kok, begitu pula yang menjaga di Rosement, memangnya ada apa?" tanya Nera dengan tersenyum.
Vandro hanya menatap Nera dengan tatapan heran yang memusuhi.
"Kenapa kau menatap ku dengan tatapan tidak percaya? apakah ada hal yang perlu ku ketahui?" tanya Nera dengan menatapnya menantang.
Vandro kembali menatapnya....
"Tidak, aku hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja. Aku kan supervisor di Rosement" kata Vandro.
"Yah kalau urusanmu itu saja baiklah, oh ya aku mau nonton Movie Horor, mau ikutan ngga?" ajak Nera.
"Ngga makasih, aku mau tidur" kata Vandro sambil berjalan pergi.
"Good Night Vandro, Have a nice dream" kata Nera dan berakhir menatap Vandro dengan tatapan datar.
Berlanjut ke pukul 1.30 pagi....
"Wuah! aku ngga bisa tidur! kedapur ambil snack apa ya?" tanya Amanda.
"Ng? itu Kak Nera dan Kak Toni lagi di beranda Rosement lantai 2, dan ini wilayah perempuan, kok bisa ya Kak Toni masuk sini tanpa di tegur Pak Andi?" tanya Amanda pelan.
"Sepertinya pembicaraan serius" pikir Amanda karena melihat Nera dan Toni sangat terlihat kesal dan serius sampai-sampai tidak memperhatikan Amanda disitu.
Dan akhirnya pembicaraan mereka berdua berakhir dengan Toni pergi dari wilayah perempuan dengan melompat dari beranda.
Nera menatapnya dengan tatapan menyeramkan.
Bersambung.....