The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
BONUS! CHAPTER 6 bagian 2



Di Kastel Verheaven....


Jam 04.30 setelah sahur...


Erlan sedang mempersiapkan perlengkapan ke Carna untuk syukuran ulang tahun Rafa.


KRING! KRING! ada bunyi telepon di Ponsel Amanda.


"Duh.. siapa yang telepon ya?" batin Amanda.


"Oh.. Rafa-niichan"


"Assalamu'alaikum Nii-san?" tanya Amanda.


📱"Wa'alaikummussalam... gimana? udah berangkat?"


"Ah, nanti jam 10.00 kami sampai, gak apa ya? soalnya Andika bahkan belum bangun" kata Amanda.


📱"O.. Oh, yah.... Nii-san paham, Hati-hati saat perjalanan ya"


"Terimakasih, maaf ya"


📱"I... iya"


TIT!


"Nii-san kenapa ya? kok kayak sedih? padahal hari ini hari ulang tahunnya" batin Amanda.


Setelah menempuh perjalanan pesawat 3 jam, dan menaiki mobil...


"Andika lagi tidur tuh di kursi belakang" kata Amanda.


"Ya ya... baiklah, kasihan dia saat di pesawat tadi" kata Erlan.


Sampai tak sadar, di tas Amanda Ponsel Erlan berbunyi.


"Akhirnya sampai.. eh?" tanya Erlan.


"Kenapa Erlan?" tanya Amanda.


"Apakah kamu mengundang orang untuk syukuran Rafa?" tanya Erlan lagi.


"Ng? ngga tuh, hanya kita.. dan Andika aja, gak ada yang lain" kata Amanda.


"Lalu... itu apa?" tanya Erlan melihat banyak orang berpakaian baju putih dan hitam, menggunakan gamis dan baju koko.


"Ayo turun, firasat ku tidak baik" kata Amanda.


"Ah! sampai juga kalian!" kata Daniel.


"Pa.. man? kenapa tiba-tiba?" tanya Erlan sambil membawa tas perlengkapan bayi dan menggendong Andika yang baru bangun.


"Paman sudah menelponmu tadi! tapi tidak di respon" kata Daniel.


Amanda hanya terus berjalan memasuki Apartemen di susul Daniel dan Erlan.


Para wartawan tengah berkumpul dan bukannya mendekati Amanda untuk wawancara, melainkan menatapnya dengan rasa iba karena Amanda tidak tahu yang sebenarnya.


"Dan saat Paman ingin mengirimkan makanan, tiba-tiba.... "


Amanda memasuki kamar Rafa.


"Dia sudah tidak ada" kata Daniel.


Amanda kaget melihat Rafa yang sudah di baluti kain putih dan ada pengajian disitu.


"Innalillahi wa innailaihi raji'un" kata Erlan saat mendengar itu dari Pamannya.


"Nii... Nii-san!!" kata Amanda.


"Rafa-Nii.... ka.. kami sudah datang! hiks... maafkan aku! seharusnya kami berangkat lebih awal!!" Seru Amanda sambil menangis.


Erlan mendatangi Amanda dan melepaskan Andika yang ingin merangkak.


"Sst... jangan menangis, ikhlaskan saja ok?" kata Erlan yang menahan air matanya sambil memeluk Amanda.


"Huaa... ini salahku Erlan... " kata Amanda.


"Jangan seperti itu, jika Rafa melihat kita... dia mungkin akan berat hati untuk kembali ke Rahmatullah" kata Erlan, sedangkan Daniel hanya kasihan dan menangis diam melihat menantunya.


"Eh?" Erlan melihat Andika yang merangkak sambil menggigit robot dan membawanya mendekati Rafa yang sudah tidak bernyawa.


"Man... bot.. o.. bot... ngan.... i... dur" kata Andika.


"Sst..., jangan Andika... Paman, sudah gak ada sayang" kata Erlan sambil menangis dan menggendong Andika agar tidak mengganggu.


"Man? i.. dur?"


Amanda hanya mengelus Andika yang tertidur pulas sambil melihat bulan yang terang.


Daniel melihat menantunya yang sedang sedih lalu memberi isyarat pada Erlan.


*Bicara batin*


Daniel : "Cepat! hibur!"


Erlan : "Gimana!?"


Daniel : "Awas saja kalau Ana nangis ku suruh kau dengan dia pisah ranjang!"


Erlan : "Maaf!! baiklah!"


"Ah ya... tadi kamu belum makan apa-apa setelah buka puasa, ini?" tanya Erlan sambil membawakan piring berisi sepotong kue bolu coklat dengan taburan almond dan strawberry.


Amanda mengingat bahwa kue itulah yang diinginkan Rafa.


"Hiks... Ukh, Dasar... "


"Jangan ditahan, menangis saja.... jika ditahan akan jadi penyakit, lampiaskan saja aku akan menemanimu yang terluka... hingga kau bahagia, aku akan menemanimu dan mendengar kamu bercerita, menangis tertawa" kata Erlan.


"Erlan... ini salahku, andai saja aku menyadari kalau Rafa-Nii sedang sedih karena membutuhkan pertolongan karena dia sedang usus buntu... harusnya aku menyadari kalau dia butuh pertolongan" kata Amanda.


"Itu bukan salahmu, aku yakin... Rafa hanya tidak ingin kau tergesa-gesa, jadi dia memaklumi mu... dia pernah berkata padaku bahwa dia ingin berhutang budi padamu dengan tidak merepotkan dirimu ataupun membuatmu kaget seperti hal ini karena dirimu telah melindunginya saat insiden cakar naga" kata Erlan.


"Jadi... makan dulu ok?" tanya Erlan.


"Baiklah... "


Andika terbangun dari tidurnya.


"Ng? Andika mau?" tanya Erlan.


"Jangan Andika, Andika makannya bubur aja" kata Amanda.


Andika langsung mengambil sendok dari kue itu dan mengarahkannya pada Amanda.


"Bu... Mam"


"U... Untuk Ibu?" tanya Amanda sambil menatap Erlan.


Erlan hanya tersenyum sambil mengangguk pada Amanda.


Amanda mengingat saat Rafa masih hidup.


"Barakallahu fii umrik babu sister!"


"Aku bukan babu sister!!"


Saat Rafa mendekatkan telinganya ke perut Amanda.


"Wah! dengar! keponakanku menendang lho! hahaha! aku harap bisa melihatnya"


Disaat juga saat Andika bermain di kolam renang bersama Rafa.


"Andika! rasakan lemparan pamungkas Majapahit!!!"


Amanda menyuapkan sendok yang di berikan Andika dan memakannya sambil meneteskan air mata bahagia dan berharap Rafa tenang di sana.


Flashback Off...


"Paham?" tanya Erlan.


"Pfft... "


"Kenapa?" tanya Erlan lagi.


"Pfft... Ba.. Babu sister?" tanya Andika.


"Kau sama saja!!"


Berlanjut makan malam...


"Kita syukuran karena Ayah pulang" kata Amanda.


"Yey!"


Amanda duduk di sebelah Andika, Erlan di sebelah Erika, dan si kembar saling berhadapan.


"Nah Bu... makan.. aaa~~" kata Andika menyuapkan kue bolu coklat dengan taburan almond dan strawberry.


Amanda menatap Andika dan ada bayangan Rafa, memang benar kalau Andika menuruni sedikit wajah Rafa, dia terharu dan memakan kue dari Andika.