The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 74 : Suara hati (1)



"Begitu ya... saya turut berduka atas kematian orang tua Erlan, dia pasti akan sangat syok" ucap Zaki.


"Begitulah, saya ingin pesan kalau anda jangan memberitahu nya, jika ingin bertanya padanya yang berhubungan dengan topik ini usahakan jangan, tapi jika anda ingin bertanya padanya katakan dengan topik lain" ucap Andra.


"I... iya, apakah kabar Amanda baik-baik saja?" tanya Zaki.


"Amanda? kenapa bisa tahu tentangnya? apakah kau memiliki sebuah hubungan dengannya?" tanya Andra.


"Ah.. begini, saya teman Amanda, Erlan, dan Nina anak konglomerat keluarga Falesia, kami berempat sudah bersahabat sejak TK, Erlan dan Amanda sudah dekat, jadi kami menganggap Erlan dan Amanda sebagai Saudara" kata Zaki.


Andra terdiam....


"Kakak salut padamu Ana, banyak sekali orang-orang yang sayang padamu... " batin Andra.


"Begitu ya? apakah kau... pacarnya Amanda?" tanya Andra.


"Ah.. ha, Yang mulia anda bisa saja, saya sudah menyukai seseorang sudah lama, tapi maaf bukan Amanda, karena sepertinya Erlan lah yang cocok dengan Amanda karena mereka terlihat dekat lebih dari hubungan persahabatan" ucap Zaki.


"Tapi saya tidak menyangka kalau Erlan seorang Pangeran" kata Zaki sedikit ragu dan berat hati.


"Ng? kenapa?" tanya Andra heran.


"Karena.... "


Jawaban Zaki membuat Andra terkejut dan sedikit berpikir lagi.


Di Villa Ameera...


"Hai! aku berkunjung!" ucap Adimas.


"A... apa?" tanya Adimas agak ngeri melihat Rafa dan Azka duduk di kursi menatap tajam padanya.


"Apa? sudah enak menghukum kami kan? kenapa berkunjung?" ucap Azka.


"Tau nih paman! aku mau berenang dulu ah!" kata Rafa beranjak dari tempatnya dan pergi ke kolam renang.


"O.. ok, Hati-hati Fa" ucap Adimas.


"Sebenarnya aku kesini karena mau bicarakan sesuatu padamu, Azka" ucap Adimas.


"Bicarakan apa?" tanya Azka.


"Sebelum itu, kau habis demam ya?" tanya Azka.


"Ya... begitulah!" ucap Azka.


Setelah 15 menit Rafa berenang dan membersihkan diri, dia menuju kamarnya tapi melewati kamar Azka dan Adimas yang pintunya agak terbuka...


"Huft! hubungi Amanda dulu ngga ya?" pikir Rafa.


"Lagi ngomongin apa sih?" pikir Rafa agak menguping.


"Bagaimana jika kita menghentikan pencarian Ana saja? sudah lama sekali Ana ngga ketemu, bahkan kalaupun dia telah tiada, seharusnya jasadnya di temukan, tapi apa?" ucap Adimas.


DEG!


BRAK! Rafa membanting pintu.


"Apa... maksudnya!!?"


Sebelum kejadian itu,


di Rosement malam Hari....


"Ng? apa? mau mengajakku ke Wall mu?" tanya Amanda.


"Ya, ini" kata Vian menyodorkan sesuatu.


"Ng? apa ini? Earphone?" tanya Amanda.


"Buat apa?" tanya Amanda.


"A... oh! mau dengerin kabar Kak Rafa hari ini ya?" tanya Amanda.


"Iya! udah, cepetan! keburu malem!" kata Vian.


"Ok..."


Akhirnya mereka ke Wall Vian, dan mengawasi apa yang dilakukan Rafa lewat kamera pengawas Ponsel Amanda yang di bawa Rafa.


"Hei Vian, meski begitu... ngapain pakaikan aku Kantong Plastik Hitam??" ujar Amanda yang di tutup mukanya dengan kantong Plastiknya hitam.


"Aku ngeri liat tampang mu dari deket" ujar Vian.


Akhirnya mereka mulai menonton.


"Kak Rafa menguping ya?" pikir Amanda.


"Begini... sebenarnya aku juga ingin membicarakan tentang yang dulu dengan Bagas Abifandya" kata Adimas yang berbicara di rekaman.


"Ba.. Bagas Abidandya!! itu yang di cari sembilan! masih di ungkit? entahlah.... " batin Vian.


"Bagaimana jika kita menghentikan


pencarian Ana saja? sudah lama sekali Ana ngga ketemu, bahkan kalaupun dia telah tiada, seharusnya jasadnya di temukan, tapi apa?" kata Adimas di rekaman.


Amanda dan Vian tetap melihat rekaman dengan seksama...


BRAK! Rafa membanting pintu membuat Azka dan Adimas kaget, begitu juga Amanda dan Vian yang memperhatikan rekaman.


"Apa... maksudnya!!?" tanya Rafa kaget.


"Kenapa mau hentikan pencarian Ana!? kalian kenapa menyerah!? kita anggota kerajaan! seharusnya bisa menemukannya bagaimanapun caranya!" ujar Rafa.


"Rafa! seenaknya saja masuk! keterlaluan! tidak tahu diri masuk dan membentak begitu saja!" Seru Azka berdiri.


"Apa!? aku tidak tahu diri!? kalian lah yang tidak tahu diri! Ana adalah bagian dari keluarga Ameera! Andra butuh adiknya! begitu pula dengan Ana! dia butuh kakaknya! aku saudara sepupunya juga membutuhkan Andra dan Ana sebagai saudara sepupu!" Bentak Rafa.


"Meski sudah lama Ana di culik... seharusnya kalian jangan menyerah! dasar bodoh!" ujar Rafa.


"Eh!!? Ana!? adiknya Raja!? maksudnya!? kenapa dadaku terasa sesak..." batin Amanda sambil menyingkirkan kantong plastik itu dan memikirkan semua cerita dongeng Sembilan saat di Mall.


(Season 2 Chapter 55)


"Terserah apa mau mu ya Rafa!! ini urusan kami! kamu ngga usah ikut-ikutan!! ngga ada urusannya sama kamu!" ujar Azka.


"Udah Azka, Rafa, kenapa malah bertengkar!? ingat hukuman!" ujar Adimas.


"Apa!!? ngga ada urusannya sama aku!? Andra dan Ana adalah saudara, saudaraku! Andra kakak sepupuku, Ana adalah adik sepupuku! itu sudah jelas bukan!? sudah jelas kenapa aku ikut-ikutan bukan!? Ayah ngga berguna! selalu saja bilang kalau aku ngga bisa jadi raja! padahal aku berguna!" Seri Rafa.


"Makanya belajar! seperti adikmu Rafi!" ucap Azka.


"Ayah selalu saja membandingkan aku dengan Rafi! menyebalkan! kenapa memangnya!? aku bisa memilih jalanku sendiri untuk bisa berdiri! ayah ngga berhak memerintah ku!!!" Seru Rafa lagi.


"Andra dan Ana jauh lebih baik! karena mereka anak-anak Paman Arif! mereka bibit unggul! pantas saja Andra hebat! tapi malah menanggung semuanya, juga kehilangan Ana!" ucap Rafa.


"Durhaka kau sama Ayah yah!? ayah sudah capek-capek jadi tulang punggung keluarga! dan kau selalu saja bergaul dengan orang-orang yang tidak berpendidikan itu! Rafa! kau itu seorang Pangeran! membawa nama keluarga besar Ameera! seharusnya berpikir!" ucap Azka sambil mendorong Rafa.


"Heh, benarkan? jika tidak ada aku... maka mungkin Ayah, Bunda, dan Rafi tidak akan repot mengurus dan peduli padaku! seharusnya aku ngga usah di lahir kan saja!" kata Rafa.


"Sudah Ayah bilang berhenti bicara seperti itu!!" Seru Azka sambil menampar keras Rafa hingga Rafa terdorong jatuh tersandar duduk di dinding dan membuat Ponsel Amanda jatuh dari genggamannya, sialnya, Bingkai Foto besar yang berada di atasnya tersenggol dan akan menimpa Rafa.


"Rafa!!!! Awas!!!" Teriak Adimas.


BRAK!! CRAANG! Foto itu menimpa Rafa dan membuat kepala Rafa berdarah.


"Apa-apaan pertengkaran keluarga ini!?" gumam Vian yang masih mengamati.


****


"Rafa! kamu berdarah! ayo kita keruang rawat!" ujar Adimas yang menghampiri Rafa.


"Rafa" gumam Azka.


Rafa menyentuh kepalanya dan melihat kepalanya yang berdarah.


"Kenapa!? kenapa ayah ngga pernah membelaku!? kenapa Ayah selalu memarahiku!? aku selalu saja di marahi dan tidak di perbolehkan ini dan itu! sebenarnya aku ingin sekali dipuji dan di semangati meski sekali! aku tidak pernah di puji! oleh siapapun atas semua usahaku, tidak pernah menerima kata Terima kasih!" kata Rafa sambil menangis tapi berusaha membendung air matanya.


Rafa berdiri karena duduk membuat kepalanya sakit.


"Memangnya.... aku harus bayar berapa!!? agar Ayah mau memuji dan menyemangati ku!? biar ku bayar meski dengan nyawaku agar mungkin aku bisa mendengar kata memuji dan menyemangati keluar dari mulut Ayah! Untuk yang terakhir kalinya jika itu harus di bayar dengan nyawa! memangnya aku harus bayar berapa, Ayah!!?" Seru Rafa mengusap Air matanya dengan lengannya, Azka hanya mematung tak tahu harus bagaimana.


"GUH!" Rafa kesal menatap Ayahnya dan berlari menuju pintu luar.


"Rafa!!!" Seru Adimas.


"Azka!! apa yang kau lakukan lagi di sini!? kejar putramu dan minta maaf sana!!" perintah Adimas, Azka hanya terdiam di tempatnya.


Di teras Villa....


"Bima!!! mana kunci mobil!?" tanya Rafa tapi berteriak.


"Oh, bentar ya.. nih kuncinya Fa" kata Bima yang sedang menelpon seseorang.


"Emang mau dibuat ap-.... Eh!? Rafa!!! mau kemana!?" tanya Bima melihat Rafa menerobos, bahkan 40 Prajurit hanya tercengang tidak mengerti.


Sementara itu kondisi Amanda dan Vian....


"Bima! kemana Rafa!?" tanya Adimas di rekaman.


"Dia pergi dengan mobil, Pangeran, memangnya ada apa?"


"Wah.... Ponsel nya tertinggal, ini untung apa buntung ya? hei, kita ngga tahu rencanamu ini berhasil atau.... Eh!? kamu kenapa?" tanya Vian ke Amanda.


"Hu.. Hu... Hiks! hiks!"