
"REY!!! " batin Toni kaget.
Saat Toni akan memutar balikkan motornya untuk mengejar Rey, tiba-tiba ada seperti asap yang menyelimuti mereka.
"Hah!? warga biasa membuat asap!? ngga! itu tudung cakar naga nya!" gumam Toni.
"Mana Rey!?" tanya Toni sambil celingak-celinguk.
"Huh!" Toni langsung menekan alat komunikasi telinga yang memang di pasangkan tombol pengaktifan nya di luar helm, sedangkan untuk bicara dan mendengarkan semua nya ada di dalam helm, hanya tombol pengaktifan nya saja yang di luar helm.
Di tempat Nera dan Andra...
"Ya? ada apa kau menghubungi ku, Ton?" tanya Nera.
"Nera! sekarang aku sedang mengejar Rey...!" kata Toni.
Deg!
"Apa!? terus bagaimana!?" tanya Nera.
"Ya, ada beberapa anggota geng gadungan melepaskan tudung mereka dan menyebarkan bom asap, sepertinya ini untuk memutar balikkan keadaan, setelah membuat bom asap, mereka yang bersalah akan meninggalkan kelompok kita bersama para aparat negara dan kepolisian, aku akan mencari Rey" kata Toni di Earphone.
"Cih! Rey si pembuat masalah ini!" Nera kesal akan hal itu.
Lanjut ke tempat kondisi Amanda...
"Duh! sepertinya akan sulit untuk lewat sini!" kata Bima yang membawa mobil.
"Heee!!? gimana kau tahu aku lagi bertengkar ma Ayahku!?" tanya Rafa.
"E... Eh!? Pa... Pak Supir yang bilang" kata Amanda.
"Ni dua orang juga berisik temen... perasaan aku cuma bilang kalau Rafa kabur deh... hm, sudahlah" batin Bima.
"Oh ya! apakah kita bakalan ke AR group? kita bisa di jemput pakai helikopter kan? bukannya di atap AR group ada pendaratan helikopter?" tanya Amanda.
"Tidak bisa, di situ sangat banyak kerusuhan, tidak mungkin mau lewat sana" kata Rafa.
"Kalau ke Apartemen dan menemui Tuan Raja bisa apa ngga?" tanya Amanda.
"Itu juga ngga bisa, bahkan harus melalui terowongan yang harus melewati salah satu Spot kerusuhan" kata Bima.
"Eh!? bagaimana keadaan Pak Vandro dan Vian!? apakah mereka baik-baik saja!?" tanya Amanda.
Di Tempat Vandro...
Vandro sudah pingsan terkapar karena kalah oleh Rey.
"Heh! akan ku balas kau!" Z akan menginjak Vandro untuk membalaskan pembalasan.
DUK! Vian melempar salah satu sepatunya dan mengenai Z sebelum Z sempat menginjak Vandro.
"Hei! apa yang mau kau lakukan!?" tanya Vian.
"Pak Polisi! tangkap pelayan itu salah satu anggota geng cakar naga yang melukai teman-temanku! tangkap dia!" kata Vian.
"Apa!? hei! jangan lari! kembali!" Polisi itu langsung mengejar Z yang lari.
"Gawat sekali! Vandro dan salah satu Staf ini pingsan! mereka perlu penanganan medis segera! mana Amanda!?" tanya Vian kepada salah satu staf lagi yang ikut bersamanya.
"Kalau ngga salah tadi dia bersama orang yang namanya Rafa" kata Staf itu.
"Apa!? gawat, tas Amanda juga ada bersamaku!" gumam Vian.
Tap! ada yang menepuk bahu Vian.
"Aku menemukan mereka!"
"Eh?? Radith!?" tanya Vian kaget.
Sementara itu di mobil Rafa...
"Huh! Ayah juga nyebelin banget!" kata Rafa.
"Rafa, Ayahmu sangat marah mengetahui apa yang kau perbuat di rumahnya, tapi dia ingin memperbaiki hubungannya dengan dirimu" kata Bima.
"Eh? ngga! pasti karena ibu! atau karena adikku Rafi!" kata Rafa.
"Rafa! Sudah lah!" kata Bima.
"Bodoh amat bima!" kata Rafa.
"Rafa!!!"
"Sudah diam lah Bima! aku begini padamu karena kau seharusnya membelaku! kau juga yang paling dekat denganku!" kata Rafa.
"Eh... Em... begini, Kak Rafa sebenarnya mau bilang apa ke aku? mau bicara apa?" tanya Amanda.
"Apa!? " batin Bima.
"Aku harus mengalihkan perhatian dengan hal ini.. " batin Amanda.
"Itu! kau pernah bilang kan? kalau kau sedang mencari keluarga asli mu?" tanya Rafa.
"Ya?"
"Dan nama 'Amanda Dallena' mungkin itu pemberian dari keluarga angkat mu kan?" tanya Rafa lagi.
"Ya? lalu?" tanya Amanda.
"Aku kesini untuk memastikan"
Rafa menoleh dan menatap Amanda.
"Apakah kamu... Sepupuku yang hilang? Aliana Jahzara Ameera?"