The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 97 : Tanya



Bunker lingkar dalam malam hari...


Di Ruang tengah....


Amanda sedang mengerjakan tugas di komputernya dengan serius, Andra sedang bermain konsol dengan santai.


"Dek" ujar Andra.


"Kenapa kak?" tanya Amanda sambil meminum susu kaleng.


"Adek sudah ada calon buat pendamping hidup belum?" tanya Andra sambil menatap layar TV di konsol yang dia mainkan.


"SEMBYURRR!!!! Uhuk! Uhuk!" Amanda kaget.


"Kak Andra bicara apa?! aku kan masih 19 tahun!" ujar Amanda.


"Justru itu, bahkan ada yang menikah pada umur 18 tahun lho" kata Andra.


"Eh?! memang itu ya legal umur minimal untuk menikah?" tanya Amanda.


"Begitulah"


"Lah?! terus hanya karena aku sudah melewati minimal, kak Andra pengen jodohkan aku sama siapa?!" tanya Amanda.


"Ya... bukan gitu dek, hanya tanya saja" ujar Andra.


"Astaghfirullah, kak Andra bikin kaget saja!"


"Maaf"


"Padahal aku kan sudah punya orang yang ku suka" gumam Amanda.


"Heh?! siapa!? kenalin dong!" kata Andra.


"Kak Andra!! ngga usah mengada-ngada!" Seru Amanda malu.


"Kenalin aja,... pelit banget" ujar Andra.


"Hiiy!! gini nih kalau sikap kepo di pelihara!" kata Amanda sambil mencubit pipi kakaknya.


"Iya... maaf" kata Andra dengan reaksi memelas tapi lucu.


Pipi Amanda agak memerah melihat kakaknya yang menjadi imut.


Amanda akhirnya pergi ke ruang kumpul anggota, dia berencana untuk bersama Nera nonton film.


"Nontonnya seru juga sih kak" ujar Amanda.


"Iya,... bener, mana cemilannya habis pula" ujar Nera.


Tiba-tiba Randi lewat.


"Lho? Ran! ngapain?" tanya Nera.


"Ya mau ambil Bean beg lah! kau ambil terus sih dari ruang tamu!" ujar Randi.


"Sorry sorry" ujar Nera.


"Oh ya Ner... "


"Apaan?"


"Kau kapan mau punya pasangan? masih jomblo, gini nih kalau sombong di pelihara" ujar Randi.


BUGH! Nera melempar bantal padat pada muka Randi.


"Yah... dan gini nih kalau bego di pelihara!" kata Nera dengan kesal.


"Ampun!!"


"Kau sih! ngapain ngurusin hidup orang?!" tanya Nera.


"Ha.. ha, kenapa ya hari ini? selalu membahas tentang calon? dan pendamping hiduplah, apalah" batin Amanda yang terheran.


"Eh ya! kak Toni gimana kak Nera? udah bisa pulang?" tanya Amanda.


"Kenapa?"


"Itu... si pembuat masalah ada di sini, bahaya kalau bisa beradu dengan Toni, apalagi dia aja udah kurang ajar padaku, apalagi dengan Toni!" kata Nera.


"Se... Sepertinya benar, Dasar... " ujar Amanda.


"Bahkan Apartemen ini akan berkesan seperti Apartemen pembantaian jika Kak Toni dan Rafa-Nii bertengkar" batin Amanda.


"Tapi, dimana Pak Vandro? lama ngga kelihatan" ujar Amanda.


"Vandro sedang ada di ruangannya, sebaiknya jangan di ganggu" kata Randi.


"Oh, ya udah... aku ke kamar dulu ya kak, Pak" kata Amanda.


"Ya"


No. 10....


"Hmf... " Amanda menghembuskan nafas pelan, sambil melangkah menuju lift kapsul dan membawa beberapa kertas tebal.


Ruang kerja Andra....


"Kak Andra"


"Ada apa?"


"Aku ingin memberikan ini"


"Ng? apa ini? semacam berkas?" tanya Andra.


"Aku akan memberikan ini, jika kak Andra mau menjawab pertanyaan ku secara jujur" kata Amanda.


"Dia Serius" batin Andra.


"Tentang apa?" tanya Andra.


"Apakah kak Andra mengetahui tentang Organisasi Night Darkness?" tanya Amanda.


Andra hanya berkeringat dan terdiam.


"Aku hanya meminta jawaban kak! iya atau tidak?" tanya Amanda.


"Haaah... baiklah kakak kalah, iya, kakak tahu tentang Organisasi itu" ujar Andra.


"Lalu kenapa? dan juga membawa berkas?" tanya Andra.


"Berkas ini adalah informasi Organisasi yang telah ku kumpulkan menjadi satu, Kak Andra harus memenuhi yang ku pertanyakan karena ini masalah serius, aku akan memberikan berkas ini jika urusan ku selesai" Jelas Amanda.


"Ng? sebuah tantangan ya?"


"Kenapa? apakah kak Andra ngga berani?" tanya Amanda.


"Tentu saja tidak, baiklah... sekarang apa yang kamu inginkan dek?" tanya Andra.


"Pertama, aku ingin agar kak Andra menceritakan tentang Organisasi itu yang kakak tahu"


"Lalu?"


"Kedua, aku ingin kita bekerja sama dalam mengolah informasi Organisasi itu"


"Itu saja?"


"Benar, apakah kakak keberatan?"


"Sejujurnya dek, ini bisa saja membahayakan nyawamu" kata Andra.


"Tapi mengorbankan nyawa demi menghancurkan Organisasi itu jauh lebih penting!" kata Amanda.


"Bagaimana caranya kau akan mengorbankan nyawa tapi kalau kamu sendiri saja tidak bisa menjaga dirimu?" tanya Andra.


"Lho? apa maksud kakak kalau kakak lebih mampu daripada aku?" tanya Amanda.