
"Nak Andra... "
"Iya Pak Andi?" tanya Andra.
"Apakah nak yakin? untuk memberikan Nak Ana misi dadakan bersama Nak Edward?" tanya Pak Andi.
"Saya hanya ingin agar mereka bisa saling akrab saat misi, meski begitu... kita harus menemukan 'dia' kan?" tanya Andra.
"Eh? 'dia' siapa?" tanya Pak Andi.
"Pembunuh berantai pasukan, agen, polisi serta mata-mata khusus... terkenal di dimensi astral dan memiliki darah keturunan Jack the Ripper dan kerabat lama Edward" kata Andra.
"Jangan bilang... " Pak Andi menghentikan kata-katanya.
"Ya.. pemimpin Organisasi Rebellion" kata Andra.
"Ray the Ripper"
*****
"Itu... mereka... tewas"
Edward hanya acuh tak acuh saja.
"Maafkan aku!!! ini salahku karena memandang remeh... benar kata Kapten, jangan menyesali pilihan yang kau pilih" batin Amanda dengan menutup matanya sambil menunggangi kudanya.
"Jangan teralihkan! menyelamatkan Dr. Randi dan membawanya kembali ke markas adalah prioritas utama! jangan membuat keputusanmu berubah!" kata Edward.
"Maafkan aku..."
"Kapten!" kata Crish.
"Kenapa?" tanya Edward.
"Itu! kami melihat Dr. Randi yang di bawa menggunakan gelembung air astral!" kata Crish.
"Cepat! korban ada di depan! laksanakan! Crish dan Elizabeth, kalian berusahalah untuk mengalihkan puaka air! kau... tetap bersamaku" kata Edward dengan melirik Amanda.
"Baik kapten! laksanakan!" kata Crish dan Elis langsung menggunakan tali pemanjat dan menggunakan tenaga astral untuk dapat bertapak di pohon dan mengalihkan puaka air.
Randi semakin lemas karena tenaganya di serap.
"Pak Randi!!" Amanda berseru melihat Randi yang pucat.
JDAK!!! Sayangnya... Elis tidak memperhatikan dan dimakan bersama dengan tenaganya oleh makhluk astral, sedangkan Crish terluka parah dan harus segera dapat perawatan medis.
"E... Elis!!!" Seru Amanda.
Sedangkan Randi sedang sekarat karena jiwanya harus membutuhkan asupan energi.
"Ukh! Maafkan aku kapten!" kata Amanda sambil melompat tinggi dari kudanya dan pergi ke dahan pohon setinggi 12 meter.
"Hoi!! ck!" Edward berdecak kesal melihat Crish dan Elis juga Amanda.
Amanda langsung berlari dari pohon dan loncat untuk menebas pedang dengan sangat keras.
"HIAA!!!!"
CRAASH!!!!
BRUK! satu pocong berhasil di tumpas.
"Pak.. Pak Randi!! Kembalikan... " Amanda terus berlari mengejar si puaka air.
"Kembalikan sahabat kakakku!!!" Seru Amanda dengan menebas pergerakan kaki astral si puaka air.
CRAASH!!!
"Ukh... meski setelah ku tebas kakinya, itu membuatnya kehilangan keseimbangan... tapi, pedang untuk berperang seperti ini bahkan langsung patah, aku harus menggunakan pedang Fujiwara! Eh?" batin Amanda sambil teringat sesuatu.
"Tidak bisa... jika ku gunakan, maka pedang satu-satunya peninggalan Ibu dan Ayah akan hilang" batin Amanda sambil menyimpannya di saku pedang nya dan mengambil mata pedang lain yang ia bawa.
TAP! Amanda berhenti di sebuah pohon.
JDAR!!! Puaka air menyerang Amanda tapi Amanda berhasil menyingkir lalu melompat dengan tali pemanjat.
Si Puaka air langsung pergi sambil membawa Randi.
"Tunggu!!! Eh!?" tanya Amanda saat melihat ada lengan yang merangkul perutnya sambil melompat dan pergi membawanya.
"Apa... Apa yang kau-.. " belum selesai Amanda bicara.
Akhirnya mereka berdua dengan tali pemanjat langsung berayun dari satu pohon ke pohon lainnya untuk mengejar puaka air yang membawa Randi.
"Sudah di bawa selama ini... di sambil juga di serap tenaganya, mungkin dia sudah mati" kata Edward.
"Belum... dia belum mati!" kata Amanda.
"Aku tidak terlalu yakin, karena orang hanya bertahan sambil di serap tenaganya sekitar 30 menit, belum dapat di prediksi dia masih hidup" kata Edward.
"Aku mempunyai pendapat dia masih hidup!!" Seru Amanda.
Edward melihat Amanda.
Flashback...
"Dr. Randi? anda darimana? dan.. kenapa ada aura aneh pada anda? seperti aura Mana yang kuat sekali" kata Edward.
"Ah... aku sedang mengajari murid ku, anu... Aura nya kuat sekali ya?" tanya Randi.
"Kurang lebih begitu, karena auranya menempel pada anda" kata Edward.
"Ini adalah Aura Amanda, aku mengajarinya ninjutsu medis dan pengobatan Astral... memang auranya kuat sekali karena dia Terano" batin Randi.
Flashback Off....
"Ah... Begitu ya, aku mengerti... pantas saja aku seperti pernah merasakan auramu saat bertarung denganmu sebelumnya, apakah kau adalah murid Dr. Randi?" tanya Edward sambil berbalik untuk bicara dengan Amanda
Amanda terbelalak.
"Jadi... apakah kau terlalu antusias untuk menyelamatkannya?" tanya Randi.
"Saya.. akan berusaha!" kata Amanda.
"Kalau begitu baiklah... sasaran kita ada di depan, ayo!!" Seru Edward dan langsung maju ke depan begitu si puaka air ada di depan mata.
"Ba.. Baik kapten!" kata Amanda.
Edward langsung melompat dan mengatur pegangan pedangnya dan mulai menebas.
CTRANG!!!! Putaran pedang Edward benar-benar sangat cepat.
"HIA!!" Dia menebas bagian kaki, wajah, dan tangan puaka air sampai-sampai pergerakannya hampir tak dapat di lihat mata biasa. Saking terlalu di penuhi Amarah di saat bertarung, matanya langsung menjadi warna merah.
"Cepat sekali... bahkan Silent-ku belum terlalu cukup untuk melihat secara penuh tenaganya, entah bagaimana hasilnya misalkan kami bertarung tadi" batin Amanda.
Percikan darah astral si puaka air menciprat ke wajah Edward.
"L.. Lho? matanya itu.... apakah aku tidak salah lihat? atau karena aku kecapekan saja? kenapa itu seperti... Silent? tapi tidak mungkin, aku tidak merasakan aura anggota Fujiwara ada di dalam dirinya" batin Amanda.
"Ah!!"
"Titik lemah makhluk astral terdapat pada inti energinya yaitu berada di dada sebelah kiri! aku akan menebasnya dari belakang!" batin Amanda.
"HAAA!!!!"
Puaka air tahu dan akan menyerang Amanda dengan tangan astralnya agar Amanda terpental.
"Eh!? Berhenti!!" kata Edward.
Saat Amanda akan menebasnya.
TUK!! Edward mendorong Amanda agar tidak terkena serangan puaka air.
"Kapten Edward!"
TAP! Karena tidak berhati-hati, kaki Edward langsung salah urat karena itu.
"Ukh!" Edward langsung pergi menuju depan puaka air yang kehilangan kesadarannya dan menebas tubuh astral si puaka air dan mengeluarkan Randi dari sana.
"Pak Randi! Eh?" kata Amanda.
"Tubuhnya sangat pucat, jika kita tidak segera menanganinya dengan medis atau pertolongan pertama, dia mungkin tidak akan selamat" kata Edward dengan dingin.
"Tidak... mungkin" gumam Amanda.
"Sekarang, kita harus mundur dulu... misi selesai, untuk para korban, kita akan menyerahkan pada para Agen, sekarang mundur dulu!" Kata Edward.
"Ba.. Baik Kapten"