The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 93 : Bermain peran



"Hari ini... kalian akan belajar tentang insidental, dimana kalian akan berperan menjadi TTK, pasien, yang meracik obat, dan Apoteker" Jelas Adin.


"Baik kak!"


"Ok... Putra, dan Amanda akan menjadi TTK depan, untuk Apoteker akan ada di dalam untuk meracik"


Mereka menyusun tempat yang sudah di arahkan.


"Baiklah, sekarang waktunya, Action!"


Pasien datang, Imran berpakaian seperti Bule luar negeri.


"Excuse me, could you please help me?"


( Permisi, bisa tolong bantu saya?)


"Yes!? Yes!?" tanya Putra panik.


"I got jet lag, I feel dizzy after travelling from Japan to Helvetia"


( Saya kena Jet lag, saya merasa pusing setelah perjalanan dari Jepang ke Helvetia )


Kata Imran dengan bahasa Inggris.


"Hah!? Apa!? cepet bener ngomongnya aku kaya denger jet-jet gitu, pesawat jet?" batin Putra.


"J... Jet?" tanya Putra.


"Yes!"


"And then i felt a bit nauseous. Maybe that's why i have trouble sleeping and sleep my body"


( Dan saya merasa agak mual. Mungkin itulah saya tidak bisa tidur dan mengistirahatkan badan saya)


kata Imran lagi memainkan perannya.


"I Don't know medicine to take, i have been using motion sickness drugs. But it didn't work"


( Saya tidak tahu harus minum obat apa, tapi sudah coba obat mabuk perjalanan. Tapi ngga ngaruh apa-apa).


"Can you recommend any medicine that suit me?"


( Bisakah anda memberi saran yang cocok untuk saya?)


"Pfft! muka Putra" bisik Adin tertawa kecil karena melihat wajah Putra kebingungan.


Tuk! Tuk! Amanda mengetuk lengan Putra dengan pulpen.


"Dia pusing karena perjalanan dari Jepang ke Helvetia, mual dan susah tidur juga sudah minum obat mabuk tapi ngga mempan" Jelas Amanda menerjemahkan.


Putra terdiam..


"Ka... Kalau gitu, Amanda aja deh yang layani kak Imran" ujar Putra langsung sembunyi di belakang Amanda.


"Eh!? ba.. Baiklah"


"Tunggu, ini Kak Imran!? kok aku bisa ngga tahu? mungkin gara-gara aku jarang memperkuat Silent ku kali ya? bahkan aku saja belum mengenal bagaimana Aura kak Imran" batin Amanda.


"Cmon! Hurry up! or I'll go somewhere else instead!"


( Cepatlah! atau saya akan pergi ke tempat lain!)


kata Imran memerankan perannya.


"We're really sorry! we have the medicine, please wait for a moment!"


( Maafkan kami! obatnya ada, mohon tunggu sebentar)


kata Amanda.


"Put! kalau kayak tadi keluhannya di kasih obat tidur kan?" bisik Amanda.


"Iya, pasien sehabis dari perjalanan tapi keluhannya masih ada, berarti di kasih obat tidur, selama perjalanan dia susah tidur kan?" bisik Putra.


"Iya"


"Tolong sarankan juga ke pasien untuk berjemur di bawah sinar matahari setelah tidur, 1-2 hari jet lag berkurang" Jelas Putra sambil berbisik.


"Ok!"


"Hello!!! I'm dying here!!!"


( Halo!!! Saya sekarat nih!!!)


kata Imran sambil memukul meja.


"We're teribbly sorry sir"


( Kami benar-benar minta maaf, pak)


kata Amanda.


"This is a sleeping pill that we recommend for you"


( Ini obat tidur yang kami sarankan untuk anda)


ujar Amanda.


"Sleeping pill?"


( Obat tidur?)


tanya Imran si bule.


"Yes, Considering you have trouble sleeping during the trip, this will help


you rest at the hotel later"


( Iya, mengingat anda sulit tidur selama perjalanan, ini akan membantu Anda istirahat di hotel nanti)


Jelas Amanda.


"What if this medicine doesn't work?"


( Gimana kalau obat ini tidak mempan?)


tanya Imran.


"Oh, You can visit the pharamacy, closest to the hotel and ask the pharmacist for other alternative medicines there"


( Oh, Anda bisa berkunjung ke apotek terdekat dengan hotel dan minta lah alternatif pada Apoteker di sana)


Kata Amanda dengan cepat, tapi menurutnya tidak karena Amanda memang sudah fasih.


"Ng? kenapa tiba-tiba diam?" batin Amanda.


"Bisa bicaranya lebih lambat?" kata Imran.


"E... Eh? kok ngga pakai b. english?" pikir Amanda.


"Maaf aku ngga bisa menangkap apa yang barusan kau katakan, bisa bicara lebih lambat? soalnya serasa ngomong sama native speaker" tanya Imran sedikit berisik.


"O-... Oh, baiklah" kata Amanda.


"Sebenarnya yang paling ahli dalam bahasa disini siapa sih?" tanya Adin.


Harga diri Imran sebagai kakak tingkat yang setara dengan Adin tersentil.


Selebihnya, Amanda menjelaskan yang Putra katakan.


"Pelan-pelan dong" bisik Imran.


Akhirnya Imran pulang dengan membawa dua obat.


"Aku harus latihan listening lagi" batin Imran.


"Thank you very much, get well soon" ujar Amanda.


Flashback Off....


"Yah, lumayanlah"


"Lumayan gimana!? kau yang dari tadi ngomong!" ujar Putra.


"Lah!? yang nyuruh layani kak Imran tadi siapa!?" tanya Amanda.


"Err... "