
"Amanda!! Andra!! ayo! kalian harus bangun!!!" kata Vian.
Amanda yang terus menangis dalam tidak sadar, sedangkan Andra kejang-kejang dan gerak-gerak tidak sadar.
Di Dimensi...
"Ana!! ayo kita pergi!!" kata Andra.
"Kak Arka maaf,.. aku tidak bisa menyelamatkanmu, aku akan menjaga kak Ningsih dan keponakanku Mira, akan ku capai impianku" ucap Amanda sambil menangis.
"Amanda!!! Andra!! bangun!!"
"Fokuskan jiwamu dengan suara Randi juga Vian!" kata Andra sambil menggenggam tangan adiknya dan mulai terbang untuk menuju portal yang mulai menutup.
"Baiklah... terimakasih banyak kak, Arka" ucap Amanda sambil menutup matanya dan mulai mengikuti Andra.
Di luar istana...
"Ah! lihat itu mamas genderuwo!! mereka sudah selesai" ujar Jiwa Erlan.
"Sepertinya begitu, ayo... kita pergi juga, aki tua itu tidak bisa bertahan lama untuk mempertahankan portal" ucap Rangga.
"Ok! Ayo!" Jiwa Erlan duluan menyusul Andra dan Amanda.
"Baiklah... selamat tinggal ya Pascal, tak ku sangka dua keturunan Fujiwara itu berhasil mengalahkannya, yah... buah memang tak jatuh jauh dari pohonnya" ucap Rangga sambil memasuki Portal bersamaan dengan hancur nya dimensi itu.
JDUAR!!!
Sesampainya di Dunia nyata...
"Mereka datang!!" kata Pak Andi, Pak Andi mempunyai keahlian melihat makhluk astral, sedangkan Vian mempunyai Turquoise.
Jiwa Amanda dan Andra sudah kembali ke raga mereka masing-masing.
"Ah! syukurlah... Ng? Eh?! Ra... Randi!! tunggu! kami sudah bangun!!" kata Andra melihat Randi membawa ember isi air, dia berniat ingin melemparkan Amanda dan Andra air jika tidak bangun-bangun.
"Wah! kalian sudah bangun ya? eh!? Amanda? kau kenapa menangis?" tanya Randi melihat Amanda berlinang air mata.
"Huaa!! Pak Randi!! Vian!! Hiks! Hiks!" Amanda terduduk sambil menutup matanya dengan menangis keras.
"A.. ada apa!? Andra?" tanya Vian sambil mendekati Amanda.
"Kami,.. berhasil mengalahkan Pascal, tapi sayangnya.. Arka, kakak yang pernah merawat Amanda, tidak berhasil kami selamatkan" ucap Andra sambil menunduk tanda dia sedang berduka.
"Apa?!" tanya Vian dan Jiwa Erlan bersamaan, sedangkan Pak Andi dan Rangga hanya menunduk dan merasa kasihan melihat Amanda menangis.
"Huaa!!! Hiks! Hiks!" Amanda terus menangis keras.
2 hari kemudian...
"Eh! denger-denger,.. kayaknya lu mau weekend dimana nih?"
"Ya ngga tahulah bro, ng! psst! lihat tuh! ada cewek imut! cantik banget sumpah!"
Amanda sedang berjalan dan menghampiri sebuah pohon.
"Ah! Lu ini masalah cewek aja kuat amat"
"Btw, ngapain si cewek itu di depan pohon diem sendirian?"
Amanda menatap pohon itu.
"Em... Rangga, kamu disini kah?" tanya Amanda dan Silent-nya langsung bersinar hijau.
"Hoaaam!! apaan sih!? ganggu orang istirahat aja! masih siang tahu! kalau nanti kah kecapean dan kagak bisa lanjut puasa jangan salahin gw!" kata Rangga.
"Tapi... kok bisa tahu? aku lagi disini?" tanya Rangga.
"Yah,.. Auramu sangat khas sih" ucap Amanda.
"Iya ya, kan kau punya Silent"
Keheningan berlangsung beberapa waktu.
"Em.. kok diem?" tanya Amanda.
"Maksudnya Erlan?" tanya Amanda.
"Hng"
"Ngga kok, aku sudah mengambil semua energi Batu Mustika Delima Merah Erlan jadi dia tidak akan aktif sampai aku mengisi energinya kembali" Jelas Amanda.
"Begitu ya, kau jadi ngapain kesini?" tanya Rangga.
"Itu, terimakasih ya.. karena mu, kami bisa mengalahkan Pascal" ucap Amanda.
"Tidak perlu berterimakasih, lagipula ini juga untuk balas dendam karena dia menghilangkan ragaku, tapi pada akhirnya... dendam kalian atas orang tua kalian sudah terbalaskan bukan?" tanya Rangga.
"Begitulah, tapi.. bagaimana kau bisa tahu? orang tua ku di bunuh Pascal dan menjadi musuh sekte dirgapati dan sekte Hebitsukai? apakah karena misi saat di dimensi Shinobi?" tanya Amanda.
"Bukan, aku kenal dengan kedua orang tuamu, lagipula... aku adalah pengawal pribadi ibumu" ujar Rangga.
"Lalu! kenapa saat itu kamu ngga membantu Ibu dan Ayah!? dengan begitu, mereka pasti masih hidup!" kata Amanda.
"Dulu aku belum sekuat sekarang, bahkan kau tahu? lebih mudah mengalahkan makhluk astral daripada manusia, ketahuilah... kalau manusia lebih berbahaya daripada makhluk astral" Jelas Rangga.
"Iya.. " ujar Amanda sambil menunduk.
"Kamu... masih ingin bertemu dengan pemuda yang jadi tahanan Pascal kan?" tanya Rangga.
"Yah, soalnya... semenjak aku ceritakan pada kak Ningsih, dan keponakanku Mira, kak Ning lumayan syok, tapi dia mampu menerimanya, aku jadi ngga enak hati" ujar Amanda.
"Terserah, kemarikan tanganmu" ujar Rangga.
Amanda melakukan seperti yang di suruh.
"Eh?! ini.. "
"Ya, itu adalah Batu Mustika Delima Merah, kau masih tahu kan? cara mentransfer energi? aku tahu dari raut mukamu masih ingin bertemu dengan kakak angkat mu, susah tahu ngga, nyari Batu Mustika Delima Merah di dimensi Shinobi yang kau hancurkan" ucap Rangga.
"Se... sekali lagi makasih!" ucap Amanda.
"Tak perlu begitu, kau masih butuh sesuatu?" tanya Rangga.
"Ah ya! ini... " kata Amanda.
"Ng? Batu pembangkit?" tanya Rangga.
"Kak Andra sudah mendapatkan beberapa bayangan kamuflase kepingan penting dari inti-inti penelitian khusus, ini... jika kamu aktifkan Batu pembangkit ini... maka kamu akan mendapatkan raga baru" Jelas Amanda.
"Anggap saja ini sebagai hadiah dan ucapan terimakasih sudah membantu kami" ucap Amanda.
"Dari reaksinya meski biasa... aku bisa melihat dia senang sekali'" batin Amanda sambil menghembuskan nafas heran.
"E.. Ehem! baiklah, jika kau memaksa aku akan mengambilnya" ucap Rangga yang salting.
"Hihi! iya, silahkan" kata Amanda.
"Asem,.. romansa-romansa saat ada gebetannya... ini ditikung namanya Woi!" batin Vian dengan kesal.
"Lho? ngapain mbak itu sendirian di pohon beringin?" tanya seorang ibu warung, maklum si ibu tidak bisa melihat makhluk astral seperti Rangga.
"Emang kenapa bu?" tanya Vian yang mengawasi dari meja makan lantai 2, dia ke warung hanya numpang WiFi, dia sedang puasa.
"Pohon itukan keramat mas, katanya akan menumbalkan satu gadis setiap tahun, semoga mbaknya baik-baik aja" ucap Ibu warung.
"Begitu ya... sepertinya dia ngga akan dimangsa" ucap Vian.
"Ng? maksud mas?" tanya Ibu warung.
"Karena selain dia adalah gadis yang super duper kuat, si makhluk ghaib akan ketakutan menghadapinya" kata Vian sambil bertopang dagu memperhatikan Amanda.
Meski si Ibu warung ngga ngerti, Rangga sedikit melirik keatas atap warung dan tersenyum, Vian membalasnya dengan senyuman.
Tamat....
✌✌✌✌✌
"Yey! kalian kena tipu! bukan the last novelnya! tapi pertarungannya lho! kalau gitu, saya selaku creator pamit, wassalamu'alaikum