The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
NSE 2 : Adventure in the jungle of carnage



Di Mobil Vandro dalam perjalanan pulang dari kantor....


Amanda terlihat merenung....


"Kenapa Amanda?" tanya Vandro melihat Amanda memandang ke arah jendela di sampingnya.


"itu... Deathcore forest kan?" tanya Amanda.


"Iya... benar, apa itu mengingatkan mu akan sesuatu?" tanya Vandro.


"Ya.... kenangan lama"


"kenangan dimana pertama kali aku bertemu dengan para lupin itu" batin Amanda dengan tersenyum.


4 Tahun yang lalu....


University International Helvetia.....


"Masa sih? pelajarannya susah? rasanya gampang aja tuh"


Namaku Amanda Dallena, salah satu Mahasiswi perkuliahan di Universitas internasional Helvetia, usiaku 15 tahun, bisa di bilang sangat muda, bahkan aku adalah satu-satunya mahasiswi di kampus itu yang paling muda.


"Ah! kamu mah otak Genius! mana ada yang bisa ngalahin!"


Ia adalah Nina, lengkapnya Eza Nina Falesia, ia adalah Putri perusahaan besar Falesia, sahabat yang paling aku sayangi dan sangat berharga bagiku, ia berumur 16 tahun, karena ia hanya berbeda bulan dari ku.


"Otak Jenius sih, makanya bisa masuk TK sampai kuliah yang semuanya internasional! apalagi yang di kelola di kota Helvetia!"


Ia Zaki, lengkapnya sih.... Muzakki Al Farisi, ia juga anak konglomerat perusahaan besar AF group, teman baikku dan Nina dari TK sampai sekarang.


"Kamu Iri ki? makanya belajar dong"


Dan yang terakhir adalah Erlan, lengkapnya Erlan Ramanathan. Ia di golongkan anak yang rahasia! karena tidak ada yang tahu identitas orang tua Erlan yang sebenarnya! tapi orang tua kandungnya pernah ku temui sekali saat TK.


"Eh! tau gak? Di kampus tenyata ada yang lihat penampakan hantu perempuan di toilet" kata Zaki.


"Hahaha, masa? paling siswi yang kebelet" kata Nina.


"Eh! serius! mukanya Rata!" kata Zaki.


"Eh!!? serius Zaki!" kata Nina.


"Duh! pada bicarain apa sih? mending nyelesain jurnal Farmasi yang di kasihin Miss Monik tadi, kan banyak tuh, lagi pula kita akan libur 3 minggu karena akan ada persentase Senior" kata Amanda sambil memakai Headphone


"Wah, ngga capek apa? otak kamu Nda?" tanya Zaki.


"Dia pinter, jadi bisa" kata Erlan yang duduk di sebelah Amanda berhadapan dengan Nina serta Zaki.


"Lanjutin cerita penampakan yang tadi Ki! penasaran nih!" kata Nina.


"Ya! ada lagi! yang lihat penampakan hantu dikelas kita! mukanya juga rata sih" kata Erlan.


"Dan satu lagi! ini insiden penampakan yang dilihat Bu Maya" kata Zaki lagi.


"Hah!!? serius!? Bu Maya lihat penampakan!?" tanya Nina.


"Iya! saat itu...." Zaki mulai bercerita.


Bu Maya yang ditugasin untuk pulang terakhir, dan satpam semua hanya ada di pintu masuk kampus, dan saat beliau ke gudang.... ada pensil yang keluar dari gudang!


"Lah!? padahal kan Gudang bagian celah bawah pintunya kan kecil! kecoa aja ngga bisa lewat!" kata Nina.


"Iya! dan setelah itu.... " kata Zaki.


Beliau akhirnya masuk untuk memeriksa jika ada yang ngga beres, tiba-tiba....


"Ada Hantu siswi perempuan yang berceceran darah! dan pingsan di tempat deh" kata Zaki.


"Ih! serem" kata Nina, sedangkan Erlan hanya mengikuti Amanda menyelesaikan jurnal.


"Oh ya! ada lagi!... " Nina lanjut untuk bercerita.


Saat sore, Petugas kebersihan Kampus membersihkan halaman belakang, dan menyapu ranting panjang pohon, ternyata yang disitu bukan akar pohon, tapi Rambut!


"Eh! beneran!? oh ya! terus.... " belum sempat Zaki bercerita...


"DORR!!" Amanda dan Erlan mengagetkan mereka berdua.


"AAH! kalian!!" kata Nina dan Zaki.


"Hahaha, serius banget, kita aja udah selesai se jurnal, aku tinggal tulis kesimpulan di Laptop, Amanda udah selesai semuanya lho!" kata Erlan.


"Hah!? serius Nda!?" tanya Nina.


"Ya, soalnya di kelas dan di berikan soal, sudah selesai, dan akhirnya aku lanjut menulis sebagian jurnal, jadi cepat selesai" kata Amanda.


"Ya! tapi kalian malah ngagetin kita! lagi seru-serunya cerita!" kata Zaki.


"Hihi, maaf deh! oh ya, besok kita udah libur, mau jalan-jalan kemana?" tanya Erlan.


"Aha!! aku tadi dapat ini! informasi di Laptop!" kata Zaki.


"Ng? Informasi apa ki?" tanya Nina.


"Ini! Hutan Deathcore! mau ke sana ngga?" tanya Zaki.


"Hm? hutan Deathcore? Hutan inti kematian?" tanya Amanda.


"Iya! disana banyak katanya keramat! dan hewan berbahaya! itu bisa membuat kita melalui rintangan! dan katanya jika berhasil, kita akan menemukan sebuah bangunan mewah apalah itu!" Jelas Zaki.


"Ng? biar kulihat bangunan yang kau maksud?" tanya Amanda sambil meraih Laptop Zaki dan membuka salah satu bukunya.


"I... Itu Kastel Aeinstein!!" kata Amansa.


"Ka.... Kastel" Zaki memotong kata-katanya.


"Aeinstein!?" tanya Nina.


"Ya! itu adalah Kastel yang terkenal tidak ditemukan karena berada di tempat terpencil, tapi baru-baru ini ada berita kalau seorang wartawan yang sedang mencari misteri menemukan kastel itu di Deathcore Forest, dan menghilang, tim kepolisian dan tim pencari telah dikirim tapi ia tidak ditemukan di manapun" kata Amanda.


"Dan lagi, Kastel itu adalah Kastel yang dibangun ribuan tahun yang lalu! Kalian tahu sendirikan? kalau Deathcore Forest sendiri terkenal sangat angker dan banyak sekali hewan buas? makanya di larang sekali membangun pemukiman dan tempat tinggal di daerah itu" Jelas Amanda.


"Wah! kalau begitu ayo kita pergi ke sana!!" kata Nina.


"A.... Apa!?" tanya Amanda, Erlan, dan Zaki.


"Iya! banyaknya rintangan dan sesuatu seperti itu, akan membuat liburan semakin bagus bukan!?" tanya Nina.


"I... Iya, itu menurutmu.... tapi bagaimana dengan orang tua kita?" tanya Erlan.


"Haaah! pasti tidak boleh!" kata Mereka berempat bersamaan.


Saat mereka pulang kerumah....


"Se.... Serius ibu!?" tanya Amanda.


"Ma... Mama!?" tanya Erlan.


"Benarkah Umma!?" tanya Zaki.


"Ini sungguhan, Mi!?" tanya Nina.


"KALIAN AKAN MENGIZINKAN KAMI!!??"


"Ya, asalkan.... " kata Aliza.


"Kalian.... " Elly mengatakan sesuatu.


"Memperbolehkan kami..." Aisyah ibu Zaki sedang mengajukan sebuah syarat.


"Untuk.... " Clara akan mengatakan sesuatu kepada Nina.


"BERLIBURAN REUNI IBU DI SINGAPURA" Kata Mereka berempat.


"A.... Apa!?"


Malam Harinya....


Dirumah Amanda....


"Ng!! Ya begitulah, eee!? mereka mengatakan hal yang sama kepada kalian!?" tanya Amanda di kamarnya memegang Laptop sedang Video Call dengan teman-temannya.


"Aku bahkan sangat terkejut mereka membiarkan kita ke sana hanya untuk reuni.... Ibu-ibu? " kata Zaki.


"Ngga apa-apa deh, mereka itu suda berusaha sebaik mungkin untuk merawat kita, jadi biarkan saja" kata Amanda.


"Iya sih, oh ya! mereka pergi besok ya?" tanya Nina.


"Begitulah, jadi kita akan berangkat besok juga" kata Erlan.


"Bagus! bagaimana jika kita mengajak Professor Hirata?" tanya Amanda.


"Hm.... Kau yakin?" tanya Nina.


"Ya, karena aku yakin Professor selalu bekerja dan menciptakan penemuan baru, mungkin ia butuh hiburan" kata Amanda.


"Aku akan kerumah Professor sekarang" kata Amanda.


"Dah"


"Tu... Tunggu Nda!" kata Mereka tapi terlambat karena Amanda sudah mematikan Video call di Laptopnya.


Di rumah Professor Hirata....


"Ini di sini dan.... "


Tok! Tok! Tok!


"Aduh, siapa malam-malam berkunjung begini?" tanya Hirata.


Ceklek!


"Iya?" tanya Hirata.


"おやすみなさい!はかせ!"


Oyasuminasai! Hakase!


( Selamat Malam! Professor! )


Kata Amanda.


"み。。。みこさん?"


Mi...Miko-san?


( Miko?)


tanya Hirata.


"おげんきですか ? たずねてきました!"


Ogenkidesuka? Tazunete kimashita


( Bagaimana kabarmu? aku datang berkunjung).


Kata Amanda sambil masuk ke dalam rumah Professor.


"わたしわげんきです,みこ"


Watashi wa genkidesu, Miko


( Aku baik-baik saja, Miko)


Kata Hirata menutup pintu.


"Sebenarnya, Alasan aku kesini adalah untuk mengajakmu pergi bersama kami, Professor" kata Amanda.


"Hah? memangnya kemana?" tanya Hirata sambil meminum airnya.


"Ya... kami akan menelusuri Deathcore forest" kata Amanda.


SEMMBYUUUR!! Air tiba-tiba muncrat dari mulut Hirata.


"Ohok! Ohok! Ohok! kenapa!? bukan kah itu berbahaya!? kalian tidak dilarang orang tua?" tanya Hirata.


"Ng... Kita akan bercerita di ruang bawah tanah ya Professor" kata Amanda.


Di Ruang bawah tanah....


"Ale??? Aliza-san dan yang lainnya pergi reuni wanita!?" tanya Hirata.


"Begitulah...oh ya! apa Professor mau ikut?" tanya Amanda.


"Ah... Aku... "


"Ayolah! disana banyak hewan! mungkin saja bisa di ambil DNA nya untuk di teliti dan di jadikan riset" kata Amanda.


"Wah! ide yang bagus! aku juga sudah membuat alat ini! cobalah!" kata Hirata.


"Alat macam apa ini?" tanya Amanda.


Setelah beberapa saat....


"Alat yang bagus! boleh aku bawa besok tidak?" tanya Amanda.


"Boleh, Miko tapi aku tidak bisa ikut ya" kata Hirata.


"Eh? kenapa?" tanya Amanda.


"Aku ngga bisa bilang karena untuk menyelesaikan penemuan obat penangkal racun Optik 294,1 untuk Ethan-kun, bukan?" batin Hirata.


"Kau.... sedang mencari alasan ya Professor?" tanya Amanda.


"Ha? eh.... itu.... ngga kok! aku hanya takut hutan saja, lagipula aku kan sudah renta" kata Hirata.


"Hm.... baiklah, aku juga kan tidak memaksa" kata Amanda.


"Oh ya, ini aku membawa brownies buatanku, karena tadi sedang bersiap untuk besok dan ibu serta ibu-ibu yang lainnya telah berangkat tadi ke bandara" kata Amanda.


"HAH!? SECEPAT ITU!?" tanya Hirata.


"Begitulah, aku pulang dulu ya Professor" kata Amanda.


"Ya... Bye Miko" kata Hirata.


Blam!


"Maaf Miko, aku tidak bisa memberi tahu kalau Ethan-kun terminum racun, malam ini juga aku harus memberikan obat penangkal racunnya untuk persiapan mu besok" batin Hirata.


Keesokan harinya....


"Halo! maaf terlambat" kata Erlan.


"Kok bisa kamu terlambat Erlan?" tanya Amanda.


"Ya... Emmm... "


Sebelumnya...


"Ethan-kun, penangkal ini hanya sementara, sekitar 32 jam hanya bertahan, jadi pulang lah sebelum terlambat dari hutan, untuk jaga-jaga, bawa pil penangkal tambahan ini" kata Hirata.


"Ba... Baik Professor"


Flashback Off..


"Ayo! kita berangkat" kata Zaki.


"Ya!" kata Nina.


Grep!


"Amanda, aku ingin bilang sesuatu" kata Erlan sambil menahan tas Amanda.


"Ng? apa?" tanya Amanda.


"Begini.... apakah kau ingat tentang di SMA di taman bunga?" tanya Erlan dengan wajah sedikit merah.


"Ng? kapan?" tanya Amanda.


"Ah... tidak apa-apa, tidak usah dipikirkan" kata Erlan.


"Baiklah, ayo kita jalan" kata Amanda.


"Hm.... kau tidak ingat ya?" batin Erlan dengan murung.


Sesampainya di tujuan....


"I.... Ini!? Deathcore forest!?" tanya Zaki.



"Se... serem!!!" kata Nina.


"Kita.... harus tetap masuk! tidak mungkin berhenti di tengah jalan! Professor Hirata ada disana!" tunjuk Amanda.


"Ng? katanya ngga mau ikut" kata Zaki.


"Aha, maaf aku berubah pikiran" kata Hirata.


"Baik! ayo kita jalan" kata Nina.


10 menit setelah berjalan....


"Hah! capek! mana hutan terus lagi!" kata Zaki.


"Ngga usah merungut, kita belum menemukan kastel Aenstein itu!" kata Nina.


"Baik Nona Muda! ayo kita jalan!" kata Zaki yang langsung bersemangat.


"Kenapa tiba-tiba kau bersemangat sekali Zaki?" tanya Erlan.


"Hm.... sepertinya obat dariku terlalu manjur" batin Nina memandang Zaki dengan tersenyum.


"Sekarang.... menurut informasi kita harus melewati jembatan ini" kata Amanda.



*Glek!!*


"Me... menyeramkan" kata Nina.


"Maklum, disini sudah jam 16.00 sore, makanya terkadang berkabut" kata Amanda.


"Ayo! cepat kita ke Kastel itu! dan mencari wartawan itu juga!" kata Erlan.


"Duh! susah jalannya!"


"Hati-hati!! dibawah jembatan ini mengalir sungai yang sangat deras, begitu kalian jatuh... maka... sudah tamat riwayat" kata Amanda.


"Aaaaa"


"Hati-hati Professor!" kata Nina.


"Iya!" kata Hirata.


Setelah selang 10 menit mereka harus melewati jalan jembatan itu dengan hati-hati agar untuk memastikan tidak ada halangan di depan jalan, dan.....


"Alhamdulillah!!! sampai!" kata Amanda, Erlan, Nina, dan Zaki.


"Fyuuh! aku hampir kena serangan jantung!" kata Hirata.


"Sudah! kita harus....hah!?" tanya Erlan.


"Kenapa Er-....Hah!? i.... itu" kata Amanda memandang tepat di depan mereka.


"Gerbang!?" tanya Nina.



"Ya... sepertinya kita sudah dekat!" kata Erlan.


"Itu! disudut kanan! patung burung!?" tanya Zaki.


Amanda mendekati itu.


"Ya..... kurasa kau benar, dilihat dari kualitasnya dan seberapa kerasnya.... ini sudah ada sekitar ratusan tahun yang lalu" kata Amanda memperhatikan patung itu.


"Hm.... kalau begitu... jangan bilang ini" kata Erlan.


"Ya...mengarah ke Kastel Aeinstein, ini masih perkiraan" kata Amanda.


"Ayo! kita masuk! tunggu apa lagi!?" tanya Hirata.


"Tunggu! tidak ada kunci! bagaimana!?" tanya Nina.


"Hm, tentu pakai kawat" kata Amanda sambil mengeluarkan kawat klip kertas dari kantongnya.


Klik! crrrk! tang!


"Terbuka!" kata mereka.


"Ayo kita masuk!" kata Hirata.


"Kalian tetap waspada, agar tidak ada hal yang berbahaya" kata Erlan.


"Te.... Teman-teman" kata Nina sambil menunjuk kebelakang dan membuat mereka berbalik dan membuat jantung berdegup sangat kencang karena melihat sesuatu yang sangat tidak terduga ada di belakang mereka berlima.


"Ha... Ha.... Ha... " mereka terbata-bata karena gugup.


GRRRAAAOUWWW!!! suara yang sangat keras.



"HARIMAAAAU!!!! LARIIII!!!" Teriak mereka.


GRAAAUW!!!


Mereka lantas berlari sekuat tenaga, bahkan Professor harus berlari seperti ia memenangkan lomba lari maraton.


"Ha... Harimaunya masih ngejar!!" kata Zaki.


"Kyaa! harimaunya makin dekat!!" kata Nina yang melihat harimau itu tinggal 8 meter mendekati mereka.


"Kita.... harus apa!? cepat pikirkan sesuatu Erlan!!" kata Amanda sambil berlari.


"Eh... hm.... Aha! lemparkan makanan persediaan kita!" kata Erlan.


"Tapi! apakah kau mau kita kelaparan!!!??" tanya Zaki yang masih berlari.


"Kau mau Mati, atau mau kelaparan Hah!?" tanya Amanda.


"I... iya! lemparkan semua nah! makan nih harimau! opor ayam buatan Umma Aku!!!" kata Zaki dan melemparkan bekalnya.


Alhasil karena Harimau itu tidak waspada, bekal makanan Zaki malah menabrak mukanya dan membuat muka harimau itu menjadi berantakan karena opor.


"Pfft!!!! WAKAKAKAKA" Zaki tertawa melihat hal itu.


"Kita sebaiknya melemparkannya saja! biar harimau itu sibuk memakannya!" usul Amanda.


"Ok! ayo!" kata Nina.


"Professor! kau juga!" kata Erlan.


"Eh!? ta... tapi ini ikan bakar!" kata Hirata.


"LEMPAR SAJA PROFESSOR!! JIKA TIDAK KITA SEMUA AKAN DI TERKAM!" Teriak mereka.


"O... Ok! jangan teriak begitu pada orang tua!" kata Hirata sambil melemparkannya.


"Berarti, Professor mengakui kalau kau memang sudah tua" kata Erlan.


"Sudah! Harimaunya sibuk! ayo kita pergi!" kata Amanda.


"Ya!" kata Mereka.


Selang berlari menghindari harimau 15 menit....


"Hah!!! untung kita sudah sangat jauh!" kata Nina.


"Benar! dan sekarang kita sudah sampai ke tujuan kita" kata Amanda menatap di depan mereka.


"I... itu... Kastel Aeinstein!?" tanya Hirata.


"Sepertinya"



"Kenapa mengerikan!? kalau kita ngga bisa keluar bagaimana!?" tanya Nina.


"Tenang, aku sudah meminjam alat penemuan Professor Hirata, ini adalah alat kamera pelacak yang sudah memang ku letakkan di setiap tempat yang kita lewati, termasuk.... " Amanda menghentikan kata-katanya.


"Ja... jangan bilang... kau juga menempelkannya ke Harimau itu!!?" tanya Zaki.


"Ya... Harimau selalu berjalan kemanapun, jadi kita bisa lihat tempatnya" kata Amanda.


"Kita ke Kastel itu dulu, jangan sampai ada orang" kata Hirata.


"Ya, tetap waspada" kata Erlan.


Sesampainya di Kastel....


"Pintunya besar sekali" kata Nina.


Tok! Tok! Tok! Amanda mengetuk pintu.


"Permisi, apakah ada orang?" tanya Amanda.


"Permisi.... " kata Nina.


ZRAANG! Amanda membuka pintu dan masuk.


"Amanda! apa yang kau lakukan! pemilik rumah ini pasti bangsawan! kau akan di hakimi!" kata Zaki.


"Jika ia seorang bangsawan, itu artinya di Kastel ini ada Pengawal dan semacamnya" kata Amanda sambil memeriksa.


"Yang ia katakan sangat benar" kata Erlan dan langsung masuk.


"Amanda, tolong cari saklar ya" kata Erlan.


"Ya... Dapat!" kata Amanda.


PETS!


"Tidak ada siapapun" kata Zaki.


"Aku... tidak tahu" kata Hirata.


BZZZT! BZZZT! Ada suara dari speaker yang tidak tahu dimana asalnya.


Mereka berlima saling merapat di tengah-tengah Aula ruangan.


"Selamat datang di Kastel Aenstein semuanya, hebat sekali bisa sampai kesini"


"Si... siapa itu!?" tanya Zaki.


"Hahahaha, ingin tahu siapa aku? kalian harus melalui rintangan yang ada, yang sudah aku siapkan! jika kalian berhasil melewati rintangan dan mengalahkanku... maka kalian akan tahu siapa aku sebenarnya, hantu atau manusia"


"Dasar! kita di permainkan!" kata Erlan.


"Oh ya, si kakek tua itu akan jadi sandera, tim akan ku bagi menjadi 2 "


SRAANG!!


"PROFESSOR!!!" Seru mereka tiba-tiba Hirata terkurung di sebuah sel.


"Hm.... kalian bisa menyelamatkannya setelah mengalahkanku"


SWIIT! SRRUUNG! KLAP! Tiba-tiba lantai yang dibawah kaki Hirata terbuka dan mengirim Hirata dan sel itu ke bawah tanah.


"Professor!!" kata Mereka.


"Kalian harus bisa mengalahkan dirinya!!" kata Hirata beserta tertutupnya lantai itu.


"Ok... permainan harta karun... dimulai! "


TIIIT! PETS! Lampu tiba-tiba mati.


"Apa yang terjadi?.... WAAA!!!" Teriak Nina yang tiba-tiba suara teriakannya menjauh.


"Hah!!? Nina!!!" Seru Amanda.


"Nina!!" panggil Zaki.


"WAAA!!" Teriak Zaki yang juga suaranya menjauh.


"Hah!!? Zaki!!" Seru Erlan dan Amanda.


PETS! Lampu kembali menyala.


"Ya, itulah tim yang sudah kubagi, sekarang selesaikan atau kalian tidak akan bisa keluar dari Kastel ini, salah sendiri datang kesini"


"Erlan, kita harus segera menyelesaikan ini!" kata Amanda.


"Ya, jadi... apa misi yang perlu kami selesaikan?" tanya Erlan.


"Menarik, sekarang tekan tombol merah itu"


Tombol yang tiba-tiba muncul begitu saja di depan Amanda dan Erlan.


"E.... Erlan" Amanda agak ketakutan.


"Jangan khawatir, aku akan pastikan kita akan keluar dari sini aku janji" kata Erlan dan mau menekan tombol nya.


"Aku juga mau tekan" kata Amanda.


"Apa?"


"Kita harusnya berjanji bersama-sama, untuk membebaskan Professor dan juga Nina serta Zaki, dengan menekan tombol ini, itu artinya aku sudah berjanji dan janji harus di tepati! ayo kita bersama menekan tombol ini, Erlan" kata Amanda.


"Ah... ya!" kata Erlan mengiyakan dan bersama Amanda langsung menekan tombol.


Klik!


"Ng? tidak terjadi apapun" kata Erlan.


"Hm... kau yakin? "


Tiba-tiba....


SREEK! Tiba-tiba ada benda seperti kapsul yang mengurung Erlan dan Amanda, bahkan kapsul itu tanpa celah.


"A... apa yang!?"


"Hm... selamat tidur"


Psss!!! ada gas dari dalam kapsul itu menutupi Amanda dan Erlan.


"Ukh!!! Ohok!" Erlan merasa sesak.


"Uhuk! Uhuk! Aku... tidak... bisa... ber... na... pas!" kata Amanda.


"A... Amanda!" rintih Erlan melihat Amanda yang sudah pingsan duluan.


"Ti.... dak.... Ah" Erlan akhirnya terikut pingsan karena gas itu.


Sementara itu Nina dan Zaki....


"Ng.... aku dimana?" tanya Zaki.


"Ah! Aku ingat! Ni... Na!! Nina! bangun Na!" kata Zaki.


"Ah... ada apa? apa yang terjadi?" tanya Nina.


"Aku ngga tahu! ayo! kita pergi dari sini!" kata Zaki.


"Tidak segampang itu kalian bisa pergi dari sini tim B "


"T.... Tim B?" tanya Zaki dan Nina.


"Ya, Tim A teman kalian yang lain sudah kubuat bergelut dengan mimpinya dengan gas tidur"


"A.... Apa yang kau lakukan kepada mereka!!?" tanya Zaki.


"Oh.... tidak melakukan apa-apa, hanya mengajak bermain harta karun, begitu juga kalian"


"Be... bermain harta karun?"


"Permainan yang mereka harus selesaikan adalah permainan mencari harta karun dengan mengumpulkan teka-teki, kalau kalian harus bisa memainkan permainan menghindari Zombie"


"Me..." Nina memberhentikan kata-katanya.


"Menghindari.... Zombie katamu!?" tanya Zaki.


"Ya.... tapi tenang saja, setelah kalian berhasil dan lolos, semua tim akan bersatu dan menyelesaikan permainan berkelompok yang nanti akan ku tentukan, Ok cukup bertanya sekarang, permainan menghindari Zombie bisa kalian masuk di ruangan berpintu merah, melanggar akan di korbankan satu nyawa diantara 2 tim, ok permainan.... Dimulai!! "


Lanjut ke Amanda dan Erlan.


"Ng? aduh! ta... tanganku diikat!!?" tanya Erlan.


"Ini.... seperti gudang, dimana ini? Hei! Amanda! bangun!" kata Erlan melihat Amanda masih menutup mata.


"Ng? ke... kenapa disini? ta... tanganku di borgol di tiang kayu ini! bagaimana sekarang?" tanya Amanda.


"Tenang, aku akan membukanya dengan peniti" kata Erlan.


Ckrrk! Ckrrk! tang! Borgolnya pun lepas.


"Terimakasih Erlan" kata Amanda.


"Sama-sama, sekarang ayo kita cari jalan keluar!" kata Erlan.


Tiba-tiba ada yang berputar dari arah lain dengan otomatis langsung memborgol tangan Amanda dan Erlan.


"Apa lagi sekarang!!? tangan kiriku terkunci!" kata Amanda.


"Hei! kenapa?" tanya Erlan.


"Kalian harus bisa menyelesaikan permainan teka-teki untuk mendapatkan harta karun, jika kalian bisa lolos, kalian akan bertemu dengan tim B, dan menyelesaikan sebuah permainan berkelompok, jika melanggar salah satu dari 2 kelompok itu akan terkorban nyawanya , dan juga diantara 2 tim itu ada yang harus bisa menekan tombol biru di suatu tempat yang ku sembunyikan".


"Ini... keterlaluan" kata Amanda dengan menggeram.


"A.. Amanda?" tanya Erlan dengan khawatir melihat Amanda sangat marah.


"Ng? kenapa? tidak setuju?"


"Kau bukan manusia" kata Amanda.


"Apa kau bilang? aku ini manusia, bukan apapun"


"Cih! Jika kau memang manusia, kau tidak punya hati nurani! kau bahkan malah mempermainkan nyawa orang-orang hanya demi kesenanganmu saja! kau egois! apakah kau tidak pernah berpikir kalau nyawa tidak bisa di beli!!? kau memang tidak punya akal!!" kata Amanda dengan marah.


"Tapi terimakasih karena telah memberi tahu kalau kau adalah manusia yang hanya suka mengandalkan, baik sekarang kita tidak perlu takut, terimakasih Amanda" kata Erlan.


"Ya rencana berhasil, ayo kita lanjutkan" kata Amanda dan langsung pergi dengan Erlan.


"Dasar kalian!!! menggunakan cara licik! "


"Sekarang aku tinggal menghubungi Nina dan Zaki lewat Earphone Wireless! " batin Amanda.


Keadaan Hirata....


"Duh! kenapa coba!!" kata Hirata.


"Hm.... selamat datang, Hirata Hajime"


"Hah!? da... darimana kau tahu... namaku!?" tanya Hirata.


Tap! Tap! Tap! orang misterius itu mendekati Hirata.


"Hm.... kau tahu kan? sudah lama kita tidak bertemu, dan kau sudah melupakanku?"


"Siapa memangnya...... Hah!!? ti... tidak mungkin!!!! KAU!!??"


Sementara itu Nina dan Zaki....


"Hah! Zombienya banyak sekali! tidak mungkin kita bisa menangani semua ini Zaki!!" kata Nina.


"Cih! andai saja ada diantara kita semua ada yang bisa menekan tombol biru!" kata Zaki.


Lanjut ke Amanda dan Erlan.....


"Duh! banyak sekali tempat aneh! kita turun dari atap ini! dan temukan petunjuk!" kata Erlan.


"Ya! kita gunakan tali ini!"


Srrrt!!!


"Em... kau temukan sesuatu?" tanya Erlan.


"Belum! Eh!? apa ini? Botol dengan... kertas!?" tanya Amanda.


"Apa!?" tanya Erlan.


"Akhirnya keluar juga... eng? tulisannya... Nomor 1?" tanya Amanda.


"Berarti.... ini bisa jadi kode!" kata Mereka.


"Amanda! aku dapat! kali ini ada dua! di semak-semak!" kata Erlan.


"Apa tulisannya?"


"Nomor 5 dan 7" kata Erlan.


"Ng... sekarang coba kita buka garasi ini" kata Amanda.


Greeeng!!!


"Wah! itu dia!! Awww! kakiku terasa


terbakar" kata Erlan.


"Apa!? ja... Jangan-jangan, Erlan! kau punya Korek api!?" tanya Amanda.


"Ya! ini! buat apa?" tanya Erlan sambil menyerahkan korek itu ke Amanda.


"Terimakasih, lihat saja dan saksikan" kata Amanda mengambil kertas dan membakarnya dan akhirnya menimbulkan asap.


Sss!!!


"Sudah kuduga! ada sinar laser! kita tidak bisa ke sana dengan adanya laser-laser ini!" kata Amanda.


"Jadi?" tanya Erlan.


"Jika ingin mengaktifkan sesuatu, pasti ada inti atau pusatnya, seperti pohon, untuk tumbuh, ia harus memiliki akar, itu berarti sama dengan laser ini, mempunyai pemicu nya, yaitu tuas ini!" kata Amanda sambil menarik sebuah tuas dan laser berhenti.


"Berhenti! sekarang ambil petunjuk berikutnya" kata Erlan.


"No... Nomor 2!!" kata Mereka.


Lanjut ke Nina serta Zaki.....


"Tembak mereka dengan senjata yang sudah disiapkan!" kata Zaki.


Dor! Dor! Dor!


"Fyuuuh! berhasil! kita dapat kunci! sekarang ayo kita buka kunci dan selesaikan misi berikutnya!" kata Nina.


"Ya!"


Amanda dan Erlan.....


"Wah! ada brankas! mungkin ini menjadi akhir dari misi kita!!" kata Amanda.


"Tunggu! ada suratnya!" kata Erlan dan membukanya.


Nina dan Zaki....


"Buka Nina! ada suratnya!"


Mereka sama-sama membuka surat itu, isinya.....


..."Selamat kepada kalian yang berhasil, sebentar lagi... terimalah tantangan selanjutnya.... bermain hutan pembantaian!!!"...


"Hu... Hutan pembantaian!?" tanya mereka.


"Erlan! buka brankas ini! mungkin kodenya adalah kertas-kertas yang tadi kita temukan!" kata Amanda.


"Ya! ok, kodenya 1-2-5-7!" kata Erlan sambil membukanya.


TET! Kode yang di masukkan Erlan salah.


"Apa!?"


"Mungkin.... Urutan angka yang kita temukan tadi!! 1-5-7-2!" kata Amanda.


TING! Kode yang dimasukkan benar.


"Berhasil! isinya kunci! ayo buka pintu ini!" kata mereka.


CEKLEK!


"NINA!"


"AMANDA!"


"ERLAN!"


"Hah? kenapa? aku tidak merindukan mu" kata Erlan yang langsung merubah suasana.


"Dasar Cowok Dingin!" kata Nina menjitak kepala Erlan.


"Sa... sakit"


"Selamat kepada semua Tim, sekarang silakan duduk di kursi itu, dan ikuti instruksi ku"


Tuk! mereka semua duduk.


"Nina! tadi sudah ku beritahu kan? kalau dia manusia?" tanya Amanda dengan berbisik.


"Ya!"


"Dan jangan coba-coba untuk keluar dari kursi itu"


"Hah? memangnya kena-..... Aaah!!!" teriak Zaki.


"ZAKI!!!"


"Ya, itu akibatnya, kalian akan di sengat listrik dari kursi itu jika coba-coba keluar"


"Cih! jebakan!" kata Erlan.


TIT! Amanda menekan tombol biru.


"A... AMANDA!?" tanya mereka.


"APA!?"


"Aku hanya penasaran dengan tombol tadi, dan aku berpikir kalau tombol penolong selalu berada di akhir, jadi aku bisa tahu kalau ini tombol biru yang dimaksud, kalian bisa berdiri sekarang teman-teman!" kata Amanda.


"Terimakasih Amanda" kata Nina.


"Sama-sama" kata Amanda.


"Sekarang..... Waktunya kabut!" kata Amanda dan melemparkan sebuah bom asap.


DOAR!


"Lari teman-teman!" kata Amanda.


"Da... darimana kau mendapatkan ini?" tanya Zaki.


"Aku memintanya dari Professor Hirata" kata Amanda.


"Aku tahu dimana dia berada, ikuti aku!" kata Amanda.


"Cih! aku tidak bisa melihat!"


BRAK! mereka mendobrak sebuah pintu.


"Itu! Professor!!!" kata Nina.


"Pro.... PROFESSOR!!!!" Teriak mereka yang melihat Hirata terkurung di sel tidak sadarkan diri.


"Eits.... jangan mendekat dulu, langkahi aku dulu"


"Cih!!! belum mau menyerah juga ya!?" tanya Erlan.


"Bagaimana jika kita duel karate?"


"Ka... Karate!? A.... Amanda" kata Zaki.


"Baiklah, aku menyetujuinya! jika aku menang, kau harus berjanji untuk melepaskan Professor Hirata, semua orang yang di sandera disini, teman-temanku, dan beritahu identitas mu! serta kau harus mau menyerah ke polisi!!" kata Amanda.


"Hm... begitu? kalau aku yang menang?"


haah." Aku.... ingin kau melepaskan mereka semua sebagai gantinya, kau dan aku akan tetap di kastel Aenstein" kata Amanda yang membuat kaget teman-teman nya.


"Hah!!?? APA!!? Amanda!!! Apa kau yakin!?" tanya Erlan dengan sangat kaget.


"Oh.... ok.... jika aku menang, kau akan menemaniku tinggal di Kastel Aenstein ini"


Pertandingan duel antara satu lawan satu.


"Hei gadis, aku akan memberimu satu petunjuk tentang diriku"


"A... Apa!?" tanya Amanda.


"I am a Man " kata orang itu dengan suara aslinya.


"A.... apa katamu!?" tanya Amanda.


"Jangan banyak membuang waktu, ayo kita mulai! " kata lelaki itu.


"HIYAAA!!!"


Amanda terus saja menyerang begitu juga 'lelaki' itu, dan mereka sama sekali tidak bisa menjatuhkan satu sama lain karena sama-sama kuat, sedangkan yang lainnya hanya bisa menunggu di dekat sel tahanan Hirata yang di jaga dengan 3 orang yang juga menjaga dengan pakaian hitam dengan masker, sama seperti yang sedang berduek dengan Amanda.


"Nona cantik, kau hebat juga ya, bisa menghindar bahkan tidak terluka" kata lelaki itu.


"Ya, karena ada ucapan seseorang yang selalu mengingatkan ku akan hal itu" kata Amanda sambil menyeka keringatnya yang bercucuran.


"Oh ya? jika berkenan, apakah aku boleh tahu? " tanya lelaki itu.


"Jika kau ingin menyelamatkan orang-orang yang kau anggap berharga bagimu, maka lakukan dengan keahlian yang kau punya, tapi jangan sampai keahlian itu dapat membutakan mu dari keadilan dan juga hal yang penting yang sebenarnya perlu kau tempuh di dunia ini.... sebelum kau pergi dari dunia ini... untuk selamanya" kata Amanda dengan menendang leher lelaki itu dan perkataan Amanda membuat mata lelaki itu terbelalak.


"Kata-kata nya.... seperti... pernah ku dengar" batin lelaki itu.


DUAK!!


BRUUK!!!


"Hah! hah! hah!" Amanda memandang lelaki itu yang sudah terduduk dan terlihat menyerah.


"Aku... berhasil" kata Amanda dengan terbaring.


"Hm.... hebat ya, kau bisa mengalahkanku Nona Cantik" kata Lelaki itu sambil berdiri.


CTIK! Dia membunyikan tangannya dengan kedua jarinya dengan mengisyaratkan sesuatu kepada teman-temannya.


"Hm... terimakasih ya, kau menang sekarang, kami akan memperkenalkan diri"


SRRUUK! mereka mendatangi lelaki itu dan menarik jubah.


"Kau bisa memanggil kami para lupin star, mungkin kita akan bertemu lagi nanti, kau bisa memanggilku Cepheus" kata Lelaki itu mendekati Amanda.


"Ce... Cepheus?" tanya Amanda di susul teman-temannya yang berlari mendekati Amanda.


"Begini, perkataanmu tadi mengingatkan ku kepada wasiat kedua orang tua ku yang telah tiada" kata Cepheus.


"Aku... benar-benar minta maaf jika tadi mengingatkan mu kepada orangtua mu" kata Amanda.


"Tidak apa, sebagai sesama umur, kita mungkin bisa bertemu lagi" kata Cepheus.


"Hei! cepat, kita harus pergi" kata Perempuan yang di sampingnya dengan memakai sarung muka topeng.


"Ya! jika itu terjadi kita tidak bisa apa-apa! masa menggunakan sulap?" tanya Perempuan yang di sampingnya lagi.


"Sudah, jangan bertengkar, perkenalkan, kau bisa memanggilku Perseus, yang tadi Cepheus, yang tadi Cassiopeia, dan terakhir Andromeda" kata Perseus.


"I... iya" kata Amanda.


"Oh ya, ambil tas ini, ini terisi semua barang-barang yang di perlukan untuk keluar dari hutan ini" kata Cassiopeia.


"Te... Terimakasih, kalian akan pergi?" tanya Amanda.


"Ya.... sebentar lagi matahari terbit, jika terbit, kami tak bisa apa-apa" kata Andromeda.


"Ok selamat tinggal" kata Perseus dengan melemparkan bom cahaya.


"Amanda!" panggil Nina.


"Kau tidak apa-apa Amanda?" tanya Erlan.


"Aku... tidak apa-apa teman-teman, terimakasih, ayo kita bebaskan Professor Hirata dan pergi dari sini" kata Amanda.


"Ayo!!!"


"Professor, apakah kau mengenal mereka?" tanya Zaki.


"Mereka Para Lupin yang suka mencuri Permata, dan selalu bertindak malam hari, di kelilingi sulap, dan juga lupin pada umumnya, dan juga mereka sepertinya masih muda, aku mengenal nya dan sangat kaget melihatnya karena aku pernah bertatap langsung dan memperkenalkan nama" Jelas Hirata.


"Ya Ampun" kata Erlan.


"Ayo! kita selamatkan siapapun yang ada disini! dan pulang kerumah!" kata Amanda.


"Yaaa!"


The End....


"Nanti! jangan The End dulu!"


"Nih! liat ni"


Sebelum The End....


"WAAAA!!!!" Teriak Zaki.


"SEMUA INI SALAHMU ZAKI!!!" Kata Nina.


"Ke... Kenapa aku!!!?" tanya Zaki.


"KAU YANG MEMBUAT HARIMAU ITU MARAH!! DAN SEKARANG IA MENGEJAR KITA LAGI!! INI SALAHMU!" Kata Erlan sambil berlari.


"K... Kita tidak punya umpan!" kata Hirata.


"Gimana nih!?" tanya Nina.



"Jangan banyak bicara! Ayo lari dulu!!!" kata Amanda.


Sementara itu Ibu-ibu...


"Enak tehnya ya Ibu-ibu" kata Clara.


"Iya, ngomong-ngomong... anak-anak sedang apa ya?" tanya Elly.


"Hm... kata Amanda mereka akan ke Deathcore Forest" kata Aliza.


"A...APAAA!!?? DEATHCORE FOREST!!!?" tanya mereka semua.


"Kupikir mereka bilang The Core House!!! kita salah karena terlalu bersemangat ingin ke Singapura!!!cepat pesan pesawat!!! pulang ke Helvetia!!" kata mereka yang membuat Villa milik keluarga Falesia menjadi sangat gaduh.


Flashback Off...


"Amanda? ada apa?" tanya Vandro.


"Ah! tidak apa-apa Pak Vandro, ayo kita lanjut" kata Amanda.


"Tentu, saya kira ada apa" kata Vandro.


BRRRRM!!! Mobil Vandro perlahan berjalan meninggalkan Deathcore Forest itu.


Di atas langit....


"Hm.... Anak yang bernama Amanda itu, ternyata anggota Rosement rupanya, perempuan yang memiliki banyak hal" kata Lelaki yang memakai layang terbang dengan pakaian lupin, Cepheus!.


"Ya, kenangan yang seru bukan? Amanda" kata Cepheus dan meninggalkan langit yang perlahan semakin menggelap.