The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 77 : Suara Hati (4)



Sebelumnya.....


Aku Vandro, umurku 24 tahun.


Ya, aku adalah anak didik Andra, yang diamanahkan untuk menjaga satu-satunya keluarga sedarah nya.


Sehabis dari mengantar Amanda, keesokan hari pada pukul 01.00 pagi, aku menonton rekaman Pertengkaran Rafa dan Ayahnya, di situ Mood ku langsung ngga enak dan ingin mencari udara segar, tapi mendengar suara gedor-gedoran di gerbang dan langsung memeriksanya.


"Sudah! jangan! dia ini keluarga Presdir! keluarga Raja!" ujar Vandro yang melindungi Rafa.


"Lepas!" ujar Rafa.


"Kenapa? dia tidak punya wewenang disini" kata orang berhoodie.


"Cepatlah pergi!! sebelum dia tahu!!" Seru Vandro.


"Huh! dia tetap tidak mau patuh!? apakah aku harus melawannya!?..." batin Vandro.


"Baiklah, karena kau yang berwenang, aku akan biarkan" kata Orang berhoodie itu sambil pergi.


"Cepatlah!"


"Huh!!! sudah kubilang berapa kali lepas!!!" ujar Rafa sambil mendorong Vandro.


"Huaa!?"


BRUK!


"Ternyata kau si Vandro!! ngapain lagi kau Hah!!?" tanya Rafa membentak.


"Sepertinya ada orang berteriak tadi"


"Nera!! " batin Vandro.


"Ayo! cepat pergi!" ujar Vandro sambil membawa Rafa.


Setelah Aman....


"Huh! apa-apaan kau!!? mana Amanda!? OG itu!" ujar Rafa.


"Hah!? apa? kau ingin menyakitinya lagi!?" tanya Vandro.


"Bau obat tidur berkapasitas besar tercium dari mulut Rafa... " batin Vandro.


"Aku kesini buat memastikan!" kata Rafa.


"Memastikan? memastikan apa!?" tanya Vandro.


"Kau anak didik Andra! pasti juga tahu Fakta! kenapa Amanda itu mirip sekali dengan tanteku!?" tanya Rafa.


"Hah!? apa maksudmu!?" tanya Vandro.


Rafa memperlihatkan sebuah Foto dari kantong jaketnya dan mengarahkan telunjuknya ke seorang wanita di sebelah Arif.



"Ini Tante Afifah, aku hampir lupa wajahnya! dia itu Istri Paman Arif sekaligus ibunya Andra dan Ana, Andra berusia 7 tahun, dan Ana berusia 3 bulan, kenapa si Amanda itu mirip sekali dengan Tanteku!?" tanya Rafa.


"Amanda itu sebenarnya siapa!? dia sendirinya bilang sedang mencari kakaknya! dia juga sedang mencari keluarganya, Amanda itu memang hanya orang yang mirip saja, atau dari keluarga Tanteku? atau jangan-jangan dia itu Ana!?" tanya Rafa.


Vandro hanya terbelalak tidak bisa berkata-kata.


"Ana udah lama ngga di temukan! kemungkinan dia masih hidup bukan!? Andra selalu menanggung semuanya sendirian! Ana ngga ketemu! Andra butuh adiknya!" ujar Rafa sambil menangis.


"Sebenarnya kau itu berpihak ke siapa Rafa!? kenapa kau jadi simpati dan peduli ke Andra? kenapa.... " batin Vandro agak sedih menatap Rafa.


"Dan sekarang Paman ingin menghentikan pencarian Ana! jadi masih ada kemungkinan kalau Ana itu masih hidup bukan!?" tanya Rafa.


"Jadi... biarkan aku menemuinya! sekarang! kau ngga usah menghalangi!" kata Rafa ingin bangkit.


"A... Aduh! kepalaku!" ujar Rafa.


"Huh! kenapa!? karena Paman Adimas dan Ayahku yang menyebalkan itu! ingin menghentikan pencarian Ana! mereka bilang aku tidak berguna! tidak membantu apa-apa dalam pencarian Ana, aku ingin sekali membuktikan! setidaknya aku mendapatkan jawaban dari Amanda" ucap Rafa tapi ambruk karena pusing yang begitu kuat dari obat tidur.


"Aku mengerti perasaanmu" kata Vandro.


"Apa!? kau itu selalu beruntung! ngga usah sok peduli padaku!" kata Rafa.


"Ngga, kau sama denganku, yang harus melalui sebuah rintangan untuk mendapatkan yang kita inginkan!" kata Vandro meninggikan suara.


"Jadi! tunjukkanlah kepada Ayahmu! kalau kau itu hebat! bisa di andalkan! berguna! buat Ayahmu menyesal karena telah membuang sebuah berlian yang berharga! lakukan hal itu!!!" Seru Vandro sambil mencengkeram kerah baju Rafa.


"A.... aku" Rafa berhenti bicara dan pingsan karena obat tidur.


"Hah! dasar, bisa ngga sih? jangan menyelesaikan sesuatu hanya dengan meminum sesuatu?" ucap Vandro langsung menggendong belakang Rafa.


Keheningan berlangsung beberapa saat....


"Kau sudah menemukannya Rafa, berbahagialah, karena kau telah menemukan nya" bisik Vandro pada Rafa yang tertidur.


Akhirnya Vandro diam sejenak dan membawa Rafa ke rumah sakit yang sepi agar tidak ada yang mengenali Rafa, memang meski Rafa tidak pernah muncul dan wajahnya di sembunyikan dari media...


Pukul 04.00....


Vandro terlihat tengah tidur di ruang tunggu pasien karena menunggu Rafa.


"Pak! permisi, anda tidak apa-apa kan? di sini bukan tempat buat tidur" kata cleaning service.


"Eh!? maaf... lho!? saya tidur di sini rupanya" kata Vandro.


"Lho!? Rafa mana!!? jangan bilang..." batin Vandro.


DRAP! DRAP! Vandro berlari di tangga juga lantai rumah sakit untuk menemui resepsionis.


"Maaf Mbak! Hah!... Hah!" Vandro akhirnya sampai di resepsionis dan tanpa sadar menunjukkan wajah tampannya.


Banyak Suster dan pengurus perempuan merona kagum melihat Vandro, bahkan ada yang mimisan sampai pingsan.


"I... iya? ke... kenapa mas?" tanya Mbak Resepsionis itu.


"Pasien atas nama Rafa kemana ya?" tanya Vandro.


"Oh, yang mana ya?" tanya Mbak Resepsionis itu.


"Yang masuk pukul 01.30 pagi tadi" kata Vandro.


"Oh... katanya udah pergi" kata Cleaning service tadi.


"Apa!? bagaimana bisa... " batin Vandro.


"Makasih Mas! Mbak!" kata Vandro berlari dan meninggalkan Rumah sakit itu.


"Ya Mas.... berkunjung lagi lain waktu ya" kata Mbak-Mbak mesum itu.


"Woi! kerja!" Seru manager rumah sakit.


"Ba... Baik!"


DRAP! DRAP! Vandro terus saja berlari.


"Gawat! jika dia terlepas! jika sampai dia berhasil bertemu Amanda, ia bisa membocorkan dan memberitahu kepada Amanda bahwa Rafa adalah Saudara sepupunya! bagaimana sekarang!!? Rafa! kau dimana!!? Gawat.... " batin Vandro.


Sementara itu di tempat Andra...


"Tuan, semua berkas yang dibutuhkan siap dan tuntas semua, Sembilan juga selesai menangkap Bagas Abifandya, sekarang sedang dalam tempat Aman" kata Radith.


Andra terdiam di kursi mobil dengan tangan di atas kepala.


"Apa rasanya kita pulang Tuan?" tanya Radith.


"Ng.... ku rasa kau benar, ya sudah saatnya kita pulang, siapkan keberangkatan pesawat untuk esok hari Radith"