The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 102 : Confession (1)



"Amanda dan Radith sedang dalam perjalanan kemari, apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan dengan kenyataan? aku ngga boleh lari dari kenyataan, ini adalah jalan hidupku" batin Andra.


"Aku... ingin ketemu Ayah dan Ibu sekali lagi... "


Dalam mimpi yang penuh dengan sendirian...


"Lho? Andra? kamu ngapain disini?" tanya Arif.


"Pa... Papa!?" tanya Andra.


"Andra? kamu ngapain ada disini sayang?" tanya Afifah.


"Ma... Mama" Andra membendung air matanya.


"Kenapa? kenapa Mama dan Papa... terlihat ngga merindukan aku!? kenapa kalian biasa saja!? kalian ngga sayang sama Andra!!" kata Andra.


"Kenapa kami harus sedih? apa Andra sedang kesulitan? jika iya kami mungkin bisa bantu" kata Afifah.


"Aku... ngga tahu harus apa Ma.. Pa.., semuanya terlalu berat buat Andra! Papa dan Mama tahu kan? Andra kehilangan Ana saat penculikan masa kecil? Andra, sulit untuk memilih, bahkan saat Andra melihat Ana di monitor, Andra sudah merasa kalau Ana sekarang bukan lah adik yang Andra kenal, dia telah menjadi Amanda, bukan Ana, bahkan ngga ada yang bisa Andra percaya bahkan keluarga sendiri! Paman Adimas selalu ingin menggali rahasia, dan mencari tahu informasi mengenai Papa, Mama, Andra dan Ana!" Jelas Andra yang langsung mengadukan masalahnya.


"Lho? kenapa? meski Ana itu begitu, dia hanya terpengaruh oleh seiring berjalannya waktu dan dunia kan?" tanya Arif.


"Andra tahu Papa! tapi sebisa nya Paman Adimas ngga usah gitu! urusan orang lain selalu ingin dia gali! Papa dan Mama ini sebenarnya gimana!? kalau Papa dan Mama kenal Paman Adimas seharusnya tahu kan!? di nasehati dong! Andra capek! lelah!!! ngga tahu harus gimana!" kata Andra.


"Beda lagi sama Papa dan Mama yang hebat! kuat! selalu pantang menyerah dan lebih berpengalaman!! kenapa Mama dan Papa pergi duluan!!? jadinya Andra kan yang harus nanggung semuanya kan!!? Andra selalu kesulitan! Andra iri sama Ana yang bertemu dengan orang-orang yang sayang padanya! meski sederhana tapi sayang! Andra sendirian! kesepian!" ujar Andra sambil menangis.


"Lho? kenapa? bukannya Andra ada Ana? sekarang Ana ketemu berkat usaha Andra kan? ada masalah apa yang membuatmu gusar?" tanya Afifah.


"Mama!! bukannya tadi Andra sudah bilang!? Ana sekarang sudah menjadi orang lain!!! dia bukan Ana yang Andra kenal!!" teriak Andra yang menangis yang membuat mimpi itu bergema.


"Kalau gitu... Papa tanya, kenapa Andra mencari Ana sampai ketemu?" tanya Arif.


"Eh!?" Andra kaget hingga matanya terbelalak.


"Itu.... " Andra tersadar dan perlahan-lahan tenang.


"Tenangkan dirimu Andra, itu karena kau memiliki rasa sayang seorang kakak dalam dirimu, itulah yang membuatmu tetap mencintai Ana meski dia terlihat seperti orang lain" ucap Afifah sambil mengelus rambut Andra.


"Andra, ingat! meski kalian terpisah, ataupun saling membenci sebagai sesama saudara, walaupun kita rukun seandainya Papa dan Mama masih hidup... kita berempat bisa hidup bersama, itu kami impikan juga! Ana punya mimpi yang besar, walaupun Andra dan Ana kehilangan kami berdua, tidak ada yang dapat mengubah kenyataan kalau di dalam darah kalian mengalir darah keluarga kerajaan" kata Arif tersenyum disusul senyum Afifah.


"Tapi... Andra takut ngga bisa Pa... Ma, Andra takut gagal" kata Andra.


"Ngga, Andra dan Ana kalian anak Papa dan Mama yang sangat Mama sayang" kata Afifah.


"Karena itu percayalah! kalau Andra dan Ana... adalah anak kami yang membanggakan" kata Arif dan Afifah sambil tersenyum, Andra menatap mata mereka yang penuh kasih sayang itu.


"Eh!!? Ma! Pa!! Jangan pergi! bantu Andra bicara ke Paman! bantu Andra menyelesaikan semuanya! Jangan Pergi!! jangan tinggalkan Andra!!!... Eh?" Andra tersadar kalau ada seseorang yang memegang tangan nya mencegahnya menyusul kepergian Arif dan Afifah.


"Jangan pergi.... kita masih ada tugas di dunia ini.. kita belum selesai,... kita belum diizinkan menyusul mereka,... kita masih ada tugas" kata Seorang perempuan berjilbab yang memegang tangan Andra, dan menatap nya dengan tatapan agak serius.



"Ana... " Andra menangis mendengar hal itu, dengan munculnya cahaya yang menyadarkannya dari mimpinya.


"Hah!!?" Andra langsung bangkit dari kasurnya, dan ingin mengusap air matanya, tapi rupanya dia telah menggenggam tangan seseorang tanpa sengaja karena mimpi.


"Ng?"


"Ng.. anu, Yang mulia, anda tiba-tiba menggenggam tangan saya, saya tidak tahu kenapa... tapi maaf sudah lancang, begini... anu... " belum selesai Amanda bicara.


"Tolong panggil aku dengan namaku saja" kata Andra.


"Eh?" Amanda heran.


"Karena... akulah kakak kandungmu"