
Di Mobil Rafa....
"Katakan! apa yang kau sembunyikan di Apartemen itu! kau itu sebenarnya pembantu, atau penghuni!?" tanya Rafa.
"Apakah kau mau!? fotomu dengan si Vandro itu ku sebar jadi berita skandal di Perusahaan!?" tanya Amanda.
"Atau kau mau usaha Laundry temanmu ku buat Bangkrut!?" tanya Rafa lagi.
"Masa bawa-bawa Kak Fika juga sih!?" batin Amanda.
Tangan Amanda di cegat Rafa agar tidak banyak bergerak, sebenarnya Amanda ingin melawan, tapi dia tidak ingin Vandro ataupun Fika jadi korban.
"Ng!? Ponselku ada di situ! dan beruntungnya kamera itu menghadap sini, mungkin Vian ataupun yang di sampingnya pasti tahu! bantuan akan datang dan ini kesempatan, sekarang apa yang harus aku lakukan? aku tidak bisa menggunakan beladiri ku disini" batin Amanda.
"Tunggu, apa yang akan Ryan lakukan!? ya! dia akan membalikkan situasi! misalnya jika dia sedang merahasiakan sesuatu, dia akan membongkarnya tapi dengan memberi informasi yang salah!" batin Amanda.
Dan aku akan meniru Ryan dengan hati-hati.
"Ba... Baik, aku akan cerita yang sebenarnya" kata Amanda.
"Ya, sebenarnya aku hanyalah Pembantu di sana, aku tidak tahu apa-apa lebih tentang Apartemen itu" ucap Amanda.
"Apa!!? hanya pembantu!? hanya Pembantu katamu!!?" bentak Rafa.
"I.. iya, begitulah" kata Amanda agak kaget.
"Si Rafa terlalu keras banget, kasian si adik ini, gimana sih kamu ini Rafa, Rafa" batin Bima tanpa berbalik, dia hanya melihat melalui kaca belakang.
Sementara itu Vian dan Vandro...
"Ck! aku harus pergi!" kata Vandro.
"Apa!? Vandro tunggu!" kata Vian.
"Apa!? dia sudah membentak Amanda! bahkan mengancamnya! aku sudah tidak tahan lagi!" kata Vandro sambil menggenggam engsel pintu.
"Jangan terburu-buru, dia mengaku sebagai Pembantu, tidak wajar kan? kalau seorang Anggota apalagi Supervisor tiba-tiba begitu saja menolongnya yang hanya seorang 'Pembantu' bukan? dia akan curiga akan hal itu nanti" kata Vian.
Vandro terhenti dan menunduk.
"Hah! kau benar Vian, maaf aku tiba-tiba gegabah" kata Vandro sambil memegang kepalanya.
"Tidak biasanya kau seperti ini, aku sudah meminta beberapa orang-orang Rahmat untuk berjaga di setiap sudut, tapi ternyata dia bersiaga di Parkiran, pantas saja" kata Vian memperhatikan lagi.
"Aku akan menghubungi mereka dulu, kau tetap fokus!" kata Vandro.
"Ya"
Kembali ke Amanda...
"Lalu apa hubunganmu dengan si Vandro ini!?" tanya Rafa.
"Ka... kami hanya sebatas supervisor dan juga Pembantu kok, kenapa? aku kan sudah bilang kalau aku ini hanyalah pembantu" kata Amanda.
"Huh! dasar, kita malah dijalan buntu!" kata Rafa.
"Pak Supir itu terlihat iba" batin Amanda melihat Bima.
Aku harus mengalihkan perhatian...
"Ng... Pak Supir, ini sebenarnya kita kemana ya? aku hanya khawatir akan di cari senior kantor nanti kalau pergi lama" kata Amanda.
"Hei!! lawan bicaramu ada disini!!! bukan dia!" bentak Rafa.
DUAK! Tanpa di sadari Amanda tidak sengaja meninju kaca jendela mobil sampai bolong, bahkan pengendara motor di sebelah mobil Rafa sampai bergidik ngeri melihat kejadian itu.
"A.. Ah!? maaf!!" kata Amanda yang kaget karena memang dia kalau sudah di panas-panasi cara untuk mendinginkan Amanda adalah orang itu harus meminta maaf, atau Amanda akan menghancurkan atau membuat rusak sebuah barang, dan pilihan terakhirnya adalah Amanda akan membuat orang itu babak belur.
*Glek* Rafa dan Bima bergidik ngeri melihat gadis kecil berkekuatan monster ada di mobil.
*Glek* bahkan Vian yang melihatnya langsung ketakutan dan langsung mengingat dirinya yang hampir di hajar Amanda saat SMA dulu.
"Ada apa Vian?" tanya Vandro selesai menelpon.
"Ng.. nggak kok... Ah.. ha.. ha.. ha" kata Vian.
Lanjut ke Mobil Rafa....
"Fa, janganlah terlalu keras, dek kamu ngga akan kami bawa kemana-mana, kita hanya putar-putar saja, asalkan kamu menjawab, maka tidak akan kenapa-napa, kamu akan kami turunkan dengan selamat jika kamu menjawab dan tidak membuat kami terluka" kata Bima.
"Hei! Bima!" kata Rafa.
"Sudahlah Fa! jangan terlalu gitu! bersikaplah dewasa sedikit!" kata Bima.
"Cuh! ok, kalau gitu apakah kau mengenal semua anggota yang ada dalam Map ini?" tanya Rafa.
"Eh!?" tanya Amanda.
"Foto-foto semua anggota ada disini, sebentar! kecuali, fotoku, Kak Sembilan, dan si nomor 1 tidak ada" batin Amanda.
"A... aku tidak terlalu mengenal mereka, tapi aku terkadang nimbrung bersama mereka dan para pembantu lain untuk bergotong royong bersihkan Apartemen sih" kata Amanda menyangkal.
"Perempuan ini.... dia memang terlihat seperti bicara yang sesungguhnya, tapi aku tidak boleh tertipu" batin Rafa.
Di Tempat Vian...
"Vian! aku akan pergi menggunakan mobil untuk membuntuti mereka, kau awasi dari CCTV, kurasa Amanda sudah sadar akan kita yang mengetahui keberadaan nya, dia sedang mengulur waktu" kata Vandro.
"Understood" kata Vian.
Kembali ke tempat Rafa...
"Begini, apakah kau tahu perempuan ini?" tanya Rafa menunjuk gambar Nera.
"Ng... saya kurang tahu" kata Amanda.
"Apaan sih!? dari tadi kurang tahu, kurang tahu! kau kan biasanya ada di dalam!" kata Rafa.
"I.. iya, makanya aku kan di dalam hanya buat kerja, makanya aku kurang tahu karena aku orang dalam, ha.. ha" kata Amanda.
"Ni anak lama-lama ngeselin juga, pinter bicara mulu" batin Rafa.
"Ok... Bagaimana jika kau menjadi mata-mataku saja?" tanya Rafa.
"E... Eh!? mata-mata?" tanya Amanda.
"Ya, kau menjadi mata-mataku, jadi hak mu, kau juga bisa mengajukan syarat, apapun yang kau inginkan selama kau ingin menjadi mata-mataku" kata Rafa.
"A... aku" Amanda gelisah, dia tidak tahu harus menjawab Iya, atau tidak.
Sementara itu di parkiran AR Group...
"Jangan Amanda! ulur waktu lagi!" gumam Vandro yang mendengarkan lewat Earphones sambil masuk ke mobil.
Lanjut ke mobil Rafa...
"Ok.... lagipula apalagi alasanku yang perlu menyembunyikan?" tanya Amanda.
"Eh? kenapa?" tanya Rafa.
"Karena aku benci banget, dengan mereka!"
Rafa : ?
Vian : !?
Vandro : *Kaget*