The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 4 Chapter 25 : Arfah ( Arif & Afifah ) love story (2)



Di Anjurkan membaca chapter ini sambil mendengar lagu 'Bunda'


Selamat membaca jangan lupa like, Favorit, dan rate ya


"Lalu,... apakah itu pertama kali Ibu bertemu Ayah dulu?" tanya Amanda.


"Oh! tidak! saat itu,.. kami di hutan kematian, entah kami beberapa kali sering bertemu, aku terlalu judes-judes nya sih, hehe... aku juga sering sekali pergi ke taman bunga di pusat kota, Arif saat masih kecil beberapa kali ke situ! aku sering di bully oleh anak-anak nakal" Kata Afifah mulai bercerita.


Flashback...


Afifah sedang membaca buku.


"Hei!"


"Eh?"


"Siapa kau? sedang apa disini?" tanya seorang anak lelaki.


"Aku sedang membaca buku, kenapa?" tanya Afifah.


"Minggir! gadis berambut jambu air sepertimu tidak cocok disini!" kata seorangnya lagi.


Arif disitu hanya memperhatikan.


"Memangnya kenapa?!" tanya Afifah.


"Lho?! kau berani membentak?" tanya mereka dan mendorong Afifah.


"Ukh!!! Menyebalkan, Dasar...!!!"


******


"Oh ya Ana, apakah kamu bisa nebak? apa kelanjutan cerita?" tanya Afifah lagi.


"Em.. aha! Ayah pasti datang dan membantu ibu!" kata Amanda.


"Salah! jadi... "


******


Afifah meringkus mereka semua dengan rambutnya yang berdiri bagaikan Medusa.


"Menyebalkan!! kurang kerjaan banget gangguin orang!! emang ngga ada kerjaan lain apa?! ngga pernah belajar ya!? ngga pernah sekolah!? emangnya setelah kayak gini pulang-pulang kau merengek minta Es krim sama Emak mu?!" Seru Afifah.


*******


"Dan aku!! saking kesalnya menghajar mereka semua sampai babak belur! tapi disitu aku sampai lega sekali! jika saja tidak ada tindak hukum, maka aku pasti sudah menjadikan mereka adonan cilok!" kata Afifah sambil tersenyum dan menggeram tangannya sampai urat-urat kesalnya terlihat.


"A... Aku sepertinya sekarang mengerti, kenapa Ayah dan Kak Andra ketakutan saat berhadapan dengan ibu dengan mode Medusa merah muda ini" batin Amanda agak merinding.


"Lalu... "


******


Arif melihat Afifah.


"Apa yang kau lihat?!!?!" bentak Afifah.


Arif yang kaget langsung memalingkan wajahnya, tapi memperhatikan Afifah dari ekor matanya.


Dan juga... saat kami telah menikah, dan di tanya kapan punya anak, ya kami jawab saja seperlunya... tapi teman Ayahmu benar-benar membuat kami tertekan!!


"Hei! Arif! Afifah! kapan punya anak nih! hehe"


Arif dan Afifah menatap nya dengan tatapan tajam menekan.



Flashback Off...


"Eh... "


"Kenapa bu?" tanya Amanda.


"Sayangnya... rantai yang ku gunakan untuk menahan Ryu mulai terputus satu persatu, sebaiknya cepat jika tidak maka kamu ngga akan bisa mengontrolnya" kata Afifah.


"Baik! aku akan kembali!"


Amanda langsung mencoba mengawasi dari tempatnya dan Afifah berada, yaitu alam bawah sadarnya.


"Buat dia tidak berkutik, Rantai ku yang terpasang padanya tersisa satu" kata Afifah.


"Ng! baiklah! Uchuu Ankoku Ninpou!!!"


Ryu yang menghindari serangannya.


"Aku tidak akan membiarkanmu! Baiklah!" Amanda mengambil dari sakunya sebuah tali dan melakukan segel tangan dengan cepat.


"Eh? itu... " gumam Afifah.


"Makko Ryudan!!!" Serangan yang bertolak balik itu langsung menukar posisi antara Amanda dan serangannya dan langsung mengenai Ryu.


BRUK!


Amanda berhasil mengalahkannya dan kembali ke Afifah.


"Ibu... "


"Hebat, jurus itu... "


"Iya, itu jurus andalan Ayah lho!" kata Amanda.


"Ya, Ana... Ibu ingin memberitahu sesuatu" kata Afifah.


"Ya?"


"Sebenarnya, Ibu adalah Terano Ryu" kata Afifah.


"Aku tahu kamu tahu dari buku teleportasi, tapi bedanya aku adalah Terano Ryu yang pertama"


"Eh?!"


"Sebenarnya, salah satu alasan aku dibawa ke Dimensi itu bukan hanya misi, tapi mereka akan memakai satu Shinobi untuk di jadikan wadah agar Kara yang berada di dimensi itu tidak bertambah kuat, jadi Dimensi itu dapat cepat di hancurkan" kata Afifah.


"Ja... Jadi-.. "


"Itu benar, aku tidak bisa berbuat apapun hanya pasrah karena misi" kata Amanda.


"Ibu... Ayah, kalian terlalu berusaha keras" kata Amanda.


"Begitu... Oh ya! tahu gak, Liontin yang kamu pakai adalah hadiah ulang tahun pernikahan dari Arif untukku" kata Afifah.


"Eh?! serius?!" tanya Amanda.


"Benar, sedangkan tali kalungnya dari tali yang di gunakan Arif untuk teleportasi, meski ini terlihat seperti Liontin kupu-kupu biru biasa, tapi ini memiliki arti" kata Afifah.


"Memangnya apa?" tanya Amanda.


"Karena, menurutku dan Arif, kalau kupu-kupu biru adalah... "


..."Kupu-kupu Pemersatu"...


...-The Unifying Butterfly-...


"Oh gitu, eh tahu gak! Cita-citaku dulu ingin menjadi seorang pemimpin kerajaan! dan Arif juga punya impian yang sama, dan lucunya aku malah menjadi istrinya hahaha! Arif dulu punya julukan juga! kata Afifah.


"Hihi gitu ya, emangnya apa?" tanya Amanda.


"Julukannya adalah, Pangeran dibalik bayangan hitam"


"Julukan yang tak biasa" kata Amanda sambil duduk tapi goyang-goyang tidak tenang karena gembira bisa bertemu ibunya.


"Ana, apakah kamu menerimanya?" tanya Afifah.


"Maksudnya?" tanya Amanda.


"Ya, apakah kamu menerima Arif?" tanya Afifah.


Amanda mengangguk semangat, Afifah menatap Putrinya dengan tersenyum.


"Aku menyayangimu dan Andra, benar-benar... " ucap Afifah, Amanda hanya salting karena itu


"Coba sekarang tebak! jika kamu menempatkan Medusa merah muda yang mengerikan dan Pangeran dibalik bayangan hitam bersama, ?" tanya Afifah.


"Hmf... " Amanda langsung berdiri.


"Kalian akan mendapatkan Raja dibalik bayangan hitam dan Ratu merah muda!" kata Amanda berdiri.


"Itu keren!! Dasar...." ujar Afifah.


"Hihihi" Amanda hanya cengar-cengir karena itu.


"Pemimpin kerajaan.. ya? Impian Andra dan Impianmu Ana, adalah kelanjutan dari mimpi Kaito maksudnya Arif dan mimpiku" ucap Afifah.


"Tentu saja! aku dan kak Andra tidak akan membiarkan mimpi kalian sirna" kata Amanda.


"Begitu.. ya" Afifah agak menunduk sambil tersenyum.


"Oh ya! Ibu, tolong ya... jika bertemu Ayah nanti, sampaikan salam ku dan kak Andra, kami berhasil mengalahkan Pascal!!" ujar Amanda sambil membantu Afifah berdiri dengan mengulurkan tangannya.


Afifah kaget.


"Apa?!?" tanya Afifah.


"Hm!" Amanda hanya mengangguk.


"Wah!!!! Anak-anak ku memang benar-benar hebat!!!! Aku yakin! Arif akan bangga dengan kalian nanti! Eh?"


"Ada apa Bu?" tanya Amanda.


"Hmf... sepertinya sudah waktunya aku pergi, aku akan bergabung dengan Kaito sekarang" kata Afifah melihat tubuhnya yang perlahan berubah menjadi partikel-partikel.


"Maafkan Ibu, dan Ayah... karena telah menyegel Ryu di dalam kalian berdua, sampaikan permintaan maaf ini pada Andra, kami benar-benar orang tua yang membuat anaknya menjadi kesusahan, kami tidak pantas menjadi orang tua" ucap Afifah dengan menunduk.


"Kami... bahkan tidak bisa melihat kalian tumbuh dewasa lebih dari 19 tahun yang lalu saat itu, dan sebegitunya saja menyerahkan tanggung jawab kami ke kalian, maafkan aku... aku mewakili Arif untuk menyampaikan permohonan maaf, jadi wajar saja saat Andra bertemu Arif dia sangat marah" Jelas Afifah dengan menunduk.


"Jangan meminta maaf, justru aku dan kakak yang harus berterimakasih" kata Amanda.


"Eh?" Afifah menaikkan pandangannya.



"Karena Ibu dan Ayah memberikan banyak tekanan dan kesulitan, kami justru semacam Ikan salmon dan Hiu kecil lho! kami bisa bangkit karena 'Bergerak membuat Hidup, dan Diam membuat Mati' tanpa masalah dan tekanan, kami tidak akan seperti ini" Jelas Amanda.


"Meski kak Andra hanya menghabiskan waktu bersama kalian sampai usianya yang ke 7 tahun, dan aku yang sampai 4 bulan, itu bukan terlalu masalah, meski itu membuat kami tidak dapat merasakan kasih sayang orang tua lebih sih, hehe... Dasar.. " kata Amanda, sedangkan Afifah hanya dengan serius memperhatikan ucapan Putrinya.


"Tapi, aku mengerti, dan aku yakin kak Andra pasti akan mengerti juga kok! kalau Kak Andra dan Aku hidup karena Ibu dan Ayah rela memberikan hidupnya kepada kami! kalian memberikan kasih sayang penuh sebagai orang tua yang benar-benar sangat berharga! kalian mengisi kak Andra dan aku dengan cinta sebelum menyegel Ryu padaku dan kak Andra!" Jelas Amanda, sedangkan Afifah terdiam dengan air matanya yang tumpah.



"Dengan begitu! aku dan kak Andra berhak bangga! karena kami adalah anak 2 pahlawan! kami benar-benar sungguh bangga pada kalian! kami benar-benar sangat mencintai kalian! dengan itulah kami sangat senang bisa menjadi bagian dari kalian berdua! kami senang mempunyai kedua orang tua yang pemberani!" Jelas Amanda sambil tersenyum semangat.


Afifah mengedipkan matanya dan air matanya tumpah lalu mendekati Amanda dengan melebarkan tangannya.


"Apakah... kamu dengar itu? Arif? cinta kita telah sampai pada Andra dan Ana! mereka bilang senang karena menjadi anak kita! mereka gembira dan bangga dengan kita!mereka bahkan mengalahkan musuh kita! aku benar-benar bangga sekali dengan mereka kau tahu?" batin Afifah.


"Ana... " Afifah memeluk Amanda dengan menangis deras.


"Sampaikan kepada Andra juga! aku benar-benar mencintai kalian! terimakasih karena telah menjadi anakku dan Arif! kami benar-benar bersyukur mempunyai kalian! terimakasih Andra, terimakasih Ana, Terimakasih!! Terimakasih!!" Afifah menghilang dengan Partikel-partikel yang terpilah-pilah.


Amanda melepaskan air matanya setelah kepergian ibu kandungnya.