The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 104 : Apa pilihanmu?



"Me... memilih? Ukh! aku tidak tahan lagi! dasar...." batin Amanda.


Setelah itu Ana menangis tanpa menjawab pilihan dariku.


2 Hari kemudian....


Hujan yang deras pada malam hari...


Andra terdiam menatap hujan yang deras dari jendela.


"Apakah Amanda sudah makan?" tanya Andra.


"Sudah Tuan, walau kemarin hanya sempat sarapan, tadi sudah makan siang juga malam" kata Radith memberikan laporan.


"Begitu ya? baiklah, kamu boleh pergi" kata Andra.


"Tentu Tuan, selamat beristirahat, Assalamu'alaikum" kata Radith sambil menutup pintu.


"Wa'alaikummussalam" kata Andra.


Andra menatap tangannya.


"Saya dan kamu adalah orang asing, karena kita sudah lama terpisah, tapi walau begitu, tidak akan ada yang bisa mengubah kenyataan, kalau di dalam darah kita mengalir darah keluarga kerajaan"


Aku,... tidak tahu bisa menjadi kakak yang baik atau tidak, itupun jika dia mau menerimaku sebagai kakaknya sedangkan aku... apakah aku bisa menyayanginya dengan kasih sayang seorang kakak?.


Akhirnya Andra dan Amanda agak sibuk dan sedikit melupakan tentang pilihan masing-masing... sibuk dengan urusan masing-masing.



"Ha... Hachu!!!"


"Sudah! Istirahat! aku tahu kau ada hal lain yang mau di urus! tapi istirahatlah sesekali! cuaca juga sedang tidak bagus" kata Randi.


"Sruk! aku ngga apa-apa kok, Ran" kata Andra yang terlihat mukanya merah, dengan memaki kompres di kepalanya.


Catatan : Andra merah mukanya karena demam guys.


"Oh ya, kau sudah memberitahu Amanda?" tanya Randi.


"Sudah, tapi sepertinya aku mengacaukannya" kata Andra.


"Hah!? kau emang ngelakuin apa!?" tanya Randi.


"Sudahlah! aku mau tidur!" kata Andra.


"Ni anak bener-bener" kata Randi sambil mengusap kepala Andra yang tertidur pulas.


"Aku akan memanggil Radith atau siapa untuk menemanimu" kata Randi.


Ceklek.


"Ng? kau... " gumam Randi.


****


"Kenapa Arif!!? mereka berdua adalah anak kita! Ana baru beberapa bulan sejak dia lahir, dan kenapa kau ingin Andra dan Ana yang menanggung itu semua!? untuk keseimbangan Kara!? untuk negara!? untuk kota!? kenapa Andra dan Ana yang harus menanggung itu semua!? kenapa kau ingin menjadi kurban untuk orang yang bukan kalangan bangsawan seperti diriku!!!? dasar..."


"Karena kita adalah keluarga..... "


CRAASH!!!


...________...


"Ng!!? Ukh! Uhuk! Uhuk! Radith? Randi? atau siapa? tolong ambilkan botol mineral di atas meja" kata Andra yang bangun dari tidurnya dan langsung pusing.


Ada seseorang yang memberikan botol mineral.


"Terimakasih... Eh!? Lho!? Amanda!?" tanya Andra kaget melihat Amanda dengan muka masam ada di dekatnya.


"Kenapa... ada disini?" tanya Andra sekali lagi.


"Saya dengar dari Kakek, kalau anda sedang sakit, jadi saya kemari untuk menjenguk sambil membawa bingkisan" kata Amanda.


"Pak Andi" jawab Amanda.


"Ha.. ha.. ha, begitu ya?" tanya Andra yang agak canggung, padahal di depan adik sendiri.


"Apakah anda baik-baik saja?" tanya Amanda.


"Ya... " kata Andra sambil tersenyum.


"Benarkah? tapi anda nampak kacau, apakah sakitnya serius? atau ada riwayat penyakit kronis? gangguan pada saluran pernapasan? atau saluran pencernaan?" tanya Amanda.


"Apakah dia khawatir...?" pikir Andra.


"Saya baik-baik saja, hanya demam biasa kok" kata Andra tersenyum.


"Apakah ada hal yang mengganggu mu?" tanya Andra.


"Anu.. begini, jujur saja saya masih ada rasa kesal pada anda, kalau saja waktu itu saya tidak selamat pada insiden geng cakar naga.... saya mungkin akan mati sia-sia tanpa mengetahui identitas saya yang sebenarnya" kata Amanda.


"Tapi sebenarnya saya mengerti... mengerti" kata Amanda sedih sambil menunduk.


"Amanda... " gumam Andra.


"Ini... ada brownies buatan saya, dimakan biar cepat sembuh" kata Amanda.


"Kamu ngga ingin disini dan makan bersama?" tanya Andra.


"Itu buat menemani anda yang sendirian disini" kata Amanda.


DEG!


"Perkataan mu itu... apakah kamu memutuskan mau pergi?" tanya Andra.


Amanda terdiam.


"Bagaimana bisa saya meninggalkan orang yang selama ini saya cari? walaupun saya ada rasa kesal pada anda.. tapi faktanya andalah kakak saya" kata Amanda yang membuat Andra kaget sekaligus lega.


"Saya pernah kabur sekali... tapi karena sekarang kebenaran ada di depan mata... saya tidak akan berpaling lagi"


Pak Andi... Randi... dan Radith tengah mendengarkan dari luar sekaligus lega.


"Seperti Happy Ending yang ku tulis waktu itu... hidup bahagia selamanya hingga mau memisahkan"


"Untuk itu.... aku harus berusaha agar itu terjadi... untuk menggapainya"


"Yang terpenting... saya minta maaf" kata Andra.


"Tidak apa-apa, saya tahu Anda berusaha keras selama ini" kata Amanda.


"Em... begini Yang mulia... apakah saya bisa bertemu Ayah dan Ibu kita?" tanya Amanda sambil tersenyum berharap.


"Eh... itu, maafkan saya, bukannya saya tidak mengizinkan, sebenarnya mereka sekarang sudah tidak ada, tidak lagi menginjakkan kaki di dunia ini saat 19 tahun yang lalu, lebih tepatnya saat usiamu 4 bulan" kata Andra sambil memperlihatkan sebuah foto.



"Ini foto kita berdua bersama mereka saat masih piknik" kata Andra.


Amanda memperhatikan Foto itu.


"Jadi... hanya kita berdua?" tanya Amanda sambil menatap Andra.


"Benar, seperti yang saya katakan tadi, mereka telah meninggal sejak kita masih kecil" kata Andra.


DEG! Amanda menatap kembali foto yang dia pegang.


"Ayah... dan Ibu asliku.... jadi sudah ngga ada" kata Amanda.


"Bahkan aku sama sekali ngga ingat kalian" ucap Amanda sambil menangis.


"Maaf, semoga ini bisa membuatmu merasa lebih baik" ucap Andra sambil mengelus kepala Amanda yang di tutupi jilbab.


Amanda menatap Andra dengan tangisan penuh kesedihan dengan perasaan yang sangat kehilangan.