The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 20 : Curiga



No. 2


Ceklek!


Blam!


"Hah! Aku bahkan tak menyangka jika masa lalu Andra seperti itu" kata Vandro.


"Tapi aku masih bertanya-tanya, apakah Randi tahu? kalau Andra punya Adik Perempuan? umur Amanda sekarang sudah 19 tahun, umur Andra 27 tahun, mereka selisih 8 tahun, apakah Randi tahu?" batin Vandro.


"Hah! sebaiknya aku tidur"


Keesokan harinya pada malam hari....


"Wah! aku bahkan sama sekali tidak bisa menyangka, kalau Kak Sembilan akan menunggu di gerbang utama AR group!" kata Amanda.


"Ya, sekalian pengen jalan-jalan" kata Sembilan.


"Apaan jalan-jalan!? kenapa sampai ngajak aku segala!? sampai pakai borgol segala juga!" kata Vian yang tangannya di borgol dengan tangan sembilan.


"Itu karena kamu ngga mau ikut Ian" kata Sembilan.


"Jika Ian berontak terus, nanti saya datangin setiap malam di kamarmu lho" kata Sembilan.


"Ih! iya iya!" kata Vian.


"Wah, berubah pikiran nih? Manda nanti di sana makan sepuasnya ya, saya traktir" kata Sembilan.


"Wah, makasih banyak kak" kata Amanda yang tidak sadar kalau ada yang melihat mereka bertiga.


Di dalam restoran....


"Wah, makanannya enak banget! kapan-kapan kesini lagi deh, bareng Kak Nera atau Kak Fika" kata Amanda.


"Ya! I.... imuttt!!" kata Sembilan.


"Berisik! ada dua orang yang berisik didepan ku, mana bisa aku makan tenang!" kata Vian sambil mengunyah makanannya.


"Eh, aku ke kamar mandi sebentar ya" kata Manda.


...__________...


Srrr!!! suara keran cuci tangan yang Amanda gunakan untuk mencuci tangannya.


"Apa yang Kak Vanora maksud ya tadi pagi?" batin Amanda.


Flashback on setelah selesai bercerita dengan Nera....


"Huaa! ngantuk! baru cerita sebentar ngga kerasa udah pagi aja" kata Nera.


"Iya kak" kata Amanda.


"Lho? Amanda langsung kerja ya?" tanya Nera.


"Begitulah Kak, Kak Nera ngga kerja?" tanya Amanda.


"Eh? kamu belum tahu ya? Aku ini pengacara!" kata Nera.


"Wah! pengacara!?" tanya Amanda.


"Pengacara: Pengangguran banyak Acara" kata Nera.


"Hah?"


"Hihi, bercanda! aku bukan pengacara, tapi pernah belajar tentang hukum sih, aku mau lanjut tidur" kata Nera.


"Ya kak, moga mimpi indah" kata Amanda.


"Hm!"


Di ruang makan....


"Lho!? kak Vanora baru balik?" tanya Amanda.


"Halo Amanda! mau kerja ya?" tanya Vanora.


"Iya kak! wah, Kak Vanora banyak bawa jajan ya, dan baru pulang setelah 3 hari, jadi designer sibuk ya?" tanya Amanda.


"Ya! bawa aja ke kantor kalau mau, ngga sesibuk yang kamu kira sih, aku juga bawa jajan karena Vandro suka banget sama jajanan ini, dan ini ngga dijual di pasaran lho! makanya tadi aku sempat beli" kata Vanora.


"Wah, makasih kak" kata Amanda.


"Boleh kok Kak"


"Waktu Acara ulang tahun mu itu, kamu dan Vandro duduk berdua, kalau boleh tahu.... kalian membicarakan apa?" tanya Vanora.


"Oh, kami sedang membicarakan Pangeran Aliandra kak" kata Amanda.


"Pangeran Aliandra? si Vandro lebih sering bicara tentang beliau ya?" tanya Vanora.


"Oh ya Kak Vanora! dari dulu aku penasaran banget! apa sih rasanya punya saudara kembar? apakah bisa telepati seperti yang dibicarakan orang-orang?" tanya Amanda dengan mata berbinar.


"Aha, pertanyaan berdatangan" kata Vanora.


"Ngga kok biasa saja ngga bisa telepati sih, enak ya kalian bisa mengobrol berdua dengan bebas, kalau aku sih harus ada orang ketiga atau ramai-ramai" kata Vanora sambil menundukkan kepala tapi tersenyum.


"Eh, maksudnya gimana kak? apakah Kak Vanora dan Pak Vandro sedang bertengkar?" tanya Amanda dengan tatapan khawatir.


"Hahaha, bertengkar normal kayak saudara kembar biasa kok! ya, bahkan permintaan maaf pun ngga ada artinya lagi" kata Vanora dengan pelan.


"Wah, saya yakin Andlo bakalan maafin kok! jangan murung ya Van-Van" kata Sembilan dengan wajah manja yang membuat wajah Vanora pucat.


"Kenapa wajah Van-Van begitu? Van-Van takut ya sama wajah saya yang nan imut ini? takut imutnya tertandingi?" tanya Sembilan.


"Si... Siapa yang tertandingi!? tahu ngga? alasan kenapa semua nya ngejauhin kamu!?" kata Vanora sambil kuda-kuda.


"Eh, Manda mau berangkat kerja ya?" tanya Sembilan.


"Iya, Manda?" tanya Amanda.


"Kalau begitu mau saya antar?" tanya Sembilan.


"Wah! boleh kok kak! tapi kak Sembilan juga kerja di AR group kantor pusat, oh ya! soal Kak Al-" belum selesai Amanda bicara.


"Yang itu jangan bicara disini ya, nanti aja, ok Manda?" tanya Sembilan.


"Oh.... Ok" kata Amanda.


"Oh ya, kue apa ini nan imut?" tanya Sembilan yang ingin melihat salah satu bingkisan.


"I... itu nanti aku yang ambilin!!" kata Vanora.


Tapi....


Gedebuk!! Vanora terpeleset karena terburu-buru.


"Wah, Van-Van terpeleset sampai bunyi 'Gedebuk!' Van-Van ngga apa-apa?" tanya Sembilan.


"Kak Vanora, sini ku bantu berdiri" kata Amanda.


"Ngga apa-apa Nda, makasih"


Flashback off, lanjut ke Sembilan dan Vian....


Saat Amanda masih di kamar mandi....


"Hm, imut ya Manda, saya juga sudah membaca laporan tentangnya dan juga kondisi kakinya, kasihan sekali, apalagi perlakuan mu ke Manda, Ian. Bukankah ia mirip dengan orang yang kau cari?" tanya Sembilan.


"Daripada soal bocah itu, kita bahas saja tentang ini, aku sudah dapat data yang Andra minta, aku bahkan hampir terlambat mengurus pekerjaan kantor ku hanya karena ini" kata Vian.


"Ya, itu karena saya yang minta, ini Prioritas utama" kata Sembilan.


"Ya"


Dikamar mandi....


"Ng... kayaknya Vian dan Kak Sembilan sudah lama menungu deh" kata Amanda.


"Duh! darahnya banyak banget yang keluar! lukanya juga terlalu dalam kayaknya yang di tangan! kalau yang di leher ku rasa tidak apa-apa" kata Pelayan Restoran.


"Silahkan pakai tisu ini Mas!" kata Amanda.


"Wah, makasih saya minta ya" kata Pelayan itu.


"Ambil semuanya aja ya mas" kata Amanda dan langsung pergi.


"I... Iya"


Amanda pergi menuju ke Sembilan dan Vian dengan tidak sadar pelayan itu terus menatapnya.