The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 29 : Story



"Em... Pendapat kak Riri ya? sebelum itu, lepasin dulu tanganmu dari tanganku! bukan Mahrom!! sudah berapa kali aku bilang Vian!?" Seru Amanda.


"Ma... Maaf" ujar Vian.


"Katanya sih... Kak Riri ngga ada rasa familiar, katanya sedikit.. katanya pernah lihat kamu di media? tapi dimana nya itu katanya lupa" jawab Amanda.


"Gitu ya?" gumam Vian.


"Memangnya kenapa kamu bertanya gitu?" tanya Amanda.


"Ng... Ngga kok" kata Vian.


Sementara itu di bunker bawah tanah....


"Pak Andi, bagaimana dengan Erlan? katanya dia juga latihan sebagai Shinobi kan?" tanya Andra.


"Begitulah Nak Andra, dia sudah memasuki tingkat Uchuunin" ujar Pak Andi.


"Tingkat Uchuunin? Tingkat ninja kelas atas yang sudah bisa di panggil Sensei ya?" tanya Andra.


"Begitulah, Nak Erlan juga sudah menguasai jurus-jurus dari klan nya, tapi nak Andra, melihat jurus murni klan nya Nak Erlan.... " Pak Andi menghentikan kata-katanya.


"Kenapa Pak Andi?" tanya Andra.


"Terbukti jurus itu memiliki aliran energi Cakra dari sistem kundalini murni, karena pengguna jurus Energi sistem itulah yang menarik Ryu dari tubuh nak Afifah saat dulu" ujar Pak Andi.


DEG!!!


"Ja.... Jadi maksud Pak Andi.. " Andra memberhentikan kata-katanya.


"Ya, sistem kundalini energinya memang bisa digunakan oleh Klan yang berbeda-beda, sebenarnya sistem kundalini beserta macam-macam cakra nya tidak ada dan tidak berlaku dalam Shinobi, tapi karena berpikir bahwa itu akan berguna, jadi cakra pengeluaran energi beserta sistem kundalini di manipulasi menjadi jurus" Jelas Pak Andi.


Catatan : Bagi yang masih bingung apa itu kundalini, bisa cari di google, yang lainnya itu hanya pemikiran author, alias hanya imajinasi


"Lalu... Pak Andi... tentang... " Andra memberhentikan kata-katanya.


"Ya, lebih tepatnya... salah satu anggota Klan Kitagawa, Klan Nak Erlan dan keluarganya... salah satu anggota klan itulah yang menggunakan jurus sistem kundalini untuk menarik Ryu dari tubuh segel Nak Afifah untuk menjadikan Ryu sebagai Energi untuk membuka kotak Pandora, kejadian insiden di dimensi ninja yang menyebabkan kematian Nak Afifah dan Nak Arif 19 tahun yang lalu" Kata Pak Andi.


"Apa!!?"


Keesokan harinya di kantor....


"Kenapa Wildan? kenapa tiba-tiba minta ketemuan di Rooftop?" tanya Vian.


"Ah... aku dari dulu sebenarnya ingin bicara, kalau kau berkenan" ucap Wildan.


"Baiklah, ku harap hal ini bisa ku dengarkan" ujar Vian.


"Ok, 2,5 tahun yang lalu... seorang anak perempuan berumur 5 tahun sakit karena tumor otak, dia di rawat di rumah sakit, dia selalu minta pada kakaknya untuk membelikan sebuah buku tentang kerajaan dan orang bangsawan karena dia sangat mengidolakan dan menyukai Pangeran dari Kerajaan Verheaven, sahabat Raja Aliandra dulunya" kata Wildan sedang bercerita.


Vian sedang mendengarkan.


"Jadi? apa yang ingin kau tanyakan dari cerita tadi?" tanya Vian.


"Sebenarnya,... si kakak adalah aku, dan si adik adalah Fani, adikku, aku ingin tanya... apakah kau adalah si Pangeran itu?" tanya Wildan.


"Apa maksudnya? tentu saja jawabannya bukan, tidak wajar kan? kenapa seorang Pangeran perlu berada di sini jika ada istana?" tanya Vian menyangkal.


"Hahaha, begitu ya? iya... aku memang bodoh, mana mungkin seorang Pangeran begitu" ujar Wildan menyembunyikan rasa kecewanya.


"Lalu? adikmu bagaimana sekarang?" tanya Vian.


"Oh... Adikku Fani.... " Wildan menghentikan kata-katanya.


"Adikku Fani,.... dia sudah berada di tempat yang lebih baik, dan aku yakin dia sudah gembira dan bahagia di sana" ujar Wildan tersenyum formal.


Vian tahu artinya itu.


"Wildan.... aku" batin Vian.


"Baiklah, kalau gitu.. hari ini aku sudah order makan siang untuk kita di restoran ku" kata Wildan melihat reaksi Vian mulai sedih.


"Baiklah, ayo" ujar Vian pada wakilnya itu.


Sementara itu....


"Baik... sabar ya kakak-kakak" kata Amanda.


"Aku sudah meminta Vian untuk Pose lain, akhirnya dia ingin yang formal aja" batin Amanda.


TAP! Ada seseorang yang tangannya mencegah Amanda.


"Hei! sedang apa kau!?" tanya orang itu, ya... dialah wakil divisi IT.


"Pa... Pak Wildan!?" tanya Amanda kaget.


"Pak Wildan mengganggu rencana ku dan Vian... Dasar" batin Amanda.


"Apa yang kau lakukan!? kau mengambil foto Vian!?" Seru Wildan sambil memegang lengan Amanda dengan kuat.


Sedangkan para karyawan perempuan itu langsung pergi.


"Hei! kalian jangan pergi!" ujar Wildan.


"Pak Wildan... saya harap anda melepas tangan saya sekarang" ujar Amanda.


"Apa!? sudah tidak tahu tempat! mengambil foto orang sembarangan! sekarang minta di lepas pula!" ujar Wildan.


"Apa!? saya tidak tahu tempat!? gara-gara anda, rencana saya jadi berantakan! dan artinya sudah jelas! yang tidak tahu tempat adalah anda!" kata Amanda dengan marah.