
"Kak Andra... tahu khodam yang di berikan Kakek?" tanya Amanda.
"Ya, bagaimana?" tanya Andra.
"Meski ngga tahu asalnya, entah kenapa ini agak familiar, dari teman... tapi kok bisa ada di Kakek ya? hm,.. sudahlah, tidak perlu di pusingkan" kata Amanda.
"Vian... Vian, kau yakin kah? untuk menduakan jiwamu? adikku sekarang sudah menjadi lebih kuat dari sebelumnya..." batin Andra.
"Ya! entah kenapa dia adalah teman lamaku Erlan lho!" kata Amanda.
"Eh? lalu... ada apa dengan itu?" tanya Andra pura-pura kaget.
"Erlan! muncul ya" kata Amanda sambil melakukan segel tangan.
"Ninjutsu Tenma Tensei!"
"Ehm... apakah ngga apa kalau aku muncul?" tanya Jiwa Erlan.
"Ya, kak Andra dan aku bisa melihatmu" kata Amanda.
Andra menatap Jiwa Erlan dan sebaliknya.
"Kau yakin? Amanda tidak bertanya apapun padamu?"
"Aku sudah meletakkan note di kotaknya Andra, dan dia tidak bertanya lagi akan hal itu aku pastikan baik-baik saja"
*Percakapan batin*
"Baiklah, jadi?" tanya Andra.
"Anu, apakah dia boleh? tinggal di Rosement? dia khodam kan?" tanya Amanda.
"Tidak"
"Eh? kenapa?"
"Akan berbahaya karena khodam ini diaktifkan dengan Mana mu, jika Pascal dapat mencium auranya maka kau akan gampang di temukan dan yang akan kena imbasnya adalah kita yang ada di Apartemen, ini juga demi keselamatanmu" Jelas Andra.
"Andra... ini tidak dalam rencana, kau melindungi adikmu kan? apakah kau masih meragukan ku?" batin Jiwa Erlan.
"Baiklah, tak apa"
"Erlan, maaf ya... aku-.. "
"Tak apa, aku kan memang hanya ingin melindungi mu, aku juga bisa hilang dan tembus pandang tenang saja!"
Amanda tersenyum sedih.
"Dia sedang sedih tapi tersenyum untuk menutupi kesedihannya" batin Amanda.
"Baiklah kak, ngga apa tapi ngga apa kan? bagaimana jika aku berlatih? jika aku semakin lemah, maka Erlan boleh tinggal bersama ku tapi menetap di bros ku, karena aku pasti akan membutuhkan Erlan untuk menjagaku kan?" tanya Amanda.
Andra terdiam.
"Baik kak! lagipula kita kan harus bersiap untuk melawan Pascal!" kata Amanda.
Di lapangan latihan...
"Ng? ngapain kalian?" tanya seseorang.
Silent Amanda dan Andra langsung aktif, sedangkan Jiwa Erlan tidak, karena dia sudah bisa berinteraksi dengan para makhluk astral.
"Rangga?"
"Mamas Rangga?"
"Abang genderuwo?"
"Kalian ngapain?" tanya Rangga.
"Aku mau berlatih! mau bersiap melawan Pascal!" kata Amanda.
"Hah,.. baiklah aku akan mengawasi dari sini"
"Memangnya sebenarnya kakak ingin bertanya padamu, bagaimana caranya mengalahkan Pascal? bahkan si Rangga belum memberitahunya" kata Andra.
"Eh?!" Jiwa Erlan, Amanda, dan Rangga kaget sendiri.
GUBRAK!! mereka bertiga pingsan mendengar pernyataan Andra.
"Ya Ampun kak! Mamas Rangga udah ngasih tahu! duh! bahkan kak Andra sudah mengajarkan caranya padaku sejak lama!" kata Amanda.
"Gimana sih kau Andra-... maksudku Abang Andra" kata Jiwa Erlan.
"Duh, aku terlalu sering manggil Andra dengan namanya langsung saat berada di jiwaku sebagai Vian" batin Jiwa Erlan.
"Eh? jangan bilang.... "
"Iya, kita harus mengisi batu Mustika Delima merah dengan energi ku yang terbilang benar-benar besar, dan batu itu akan hancur dengan sendirinya" kata Amanda.
"Tapi gimana? bahkan kita tidak akan bisa mendekatinya jika dia terus melawan" kata Andra.
"Dasar Raja satu ini! kau kan sudah tahu? kalau si Jiwa itu juga punya batu Mustika Delima untuk dirinya bersemayam dari tubuh aslinya, sedangkan yang aku ambil itu, semua batu Mustika Delima merah ku ambil khusus dari alam astral! sedangkan Pascal memiliki batu yang sama" Jelas Rangga.
"Jadi,.. aku hanya perlu mengisinya di batu Mustika Delima merah milik Erlan dan berkonsentrasi memikirkan batu Mustika Delima merah Pascal" Jelas Amanda.
"Tapi bagaimana Jiwa Erlan juga hancur bersama Pascal?" tanya Andra.
"Tenang saja, aku punya dua... satu untuk cadangan dan satunya untuk ku pakai bersemayam" kata Jiwa Erlan.
"Kita pastikan ini berhasil!"
"Aku mengerti! kalau begitu, kita akan pergi selain malam jumat, katakan Mamas Rangga! dimana tempat Pascal berada!?" tanya Amanda.
"Dia... ada di,.... istananya"