
"Lho? Zeydan?" tanya Andika yang berumur 14 tahun.
"Ng? Andika-senpai?" tanya Zeydan yang berumur 12 tahun sambil memegang konsol game.
"Senpai? kenapa gak kak aja gitu?" tanya Andika.
"Idih! males" kata Zeydan.
"Sewot amat"
"Terserah!"
"But,... why are you there?" tanya Andika.
"Sok Sok bahasa Inggris tapi gugup ketemu bule" kata Zeydan.
"Ih! Eh, emangnya game apa yang kau mainkan?" tanya Andika.
"Game ini... mau coba? aku punya satu konsol lagi" kata Zeydan memberikannya pada Andika.
Andika dan Zeydan akhirnya memainkannya.
3 Jam kemudian...
"Wah!? udah jam 17.00!? aduh! harus cepat pulang! Zeydan! aku bawa pulang Konsol mu ya! pinjam!" kata Andika.
"Kenapa buru-buru sih? pinjam gak apa, tapi kenapa buru-buru?" tanya Zeydan.
"Ntar ibuku nyari!"
"Takut?" tanya Zeydan.
"Ya iyalah! marahnya itu udah kayak medusa! bye! Assalamu'alaikum!" kata Andika.
"Y.. ya, Wa'alaikummussalam" kata Zeydan.
Di Istana malam hari...
"Pa.. Paduka ratu, anda tidak perlu memasak" kata pelayan.
"Tidak apa... saya sudah terbiasa, kalau begitu, tolong siapkan air minum ya" kata Amanda.
"Se.. segera!"
15 menit kemudian, semua makanan sudah siap..
"Lho? Erlan? sudah pulang rupanya" kata Amanda yang melihat Erlan duduk di meja makan bersama Amir, Umar, dan Erika.
"Ya, kamu masak lagi? kan udah dibilangin jangan, gak capek?" tanya Erlan.
"Haha... udah biasa gimana lagi coba? Dasar.... " kata Amanda.
"Andika dimana?" tanya Erlan.
"Dia belum keluar dari kamarnya?" tanya Amanda melirik Amir dan Umar.
"Wah,... tadi kami sudah panggil, tapi dia bilang 5 menit lagi" kata Amir yang berusia 13 tahun, setara dengan Umar.
"Baiklah... ibu akan memanggilnya" kata Amanda.
"Tidak usah Ma, Eri saja" kata Erika yang berusia 12 tahun.
"Gak apa Erika, lagipula kamar kakakmu dekat kok"
Sesampainya di kamar Andika...
Tok! Tok! Tok!
Tok! Tok! Tok!
Di dalam kamar...
"Aku tidak lapar! bentar aja!" kata Andika sambil fokus bermain konsol game, Andika sengaja menahan pintunya dengan meja, kasur, dan kursi.
"Makan hanya membuatku badmood untuk bermain game" gumam Andika.
JDUAR!!! dengan sekali tinjuan tiba-tiba pintu, dan yang menahannya hancur karena itu, bahkan pelayan yang di luar sangat kaget dan takut.
Andika reflek langsung berdiri dan melihat semuanya hancur dan ada kepulan asap.
DUK! DUK! DUK! DUK! Ada langkah kaki seseorang yang mendatanginya, Andika melihatnya diantara kepulan asap.
"Terlalu cepat seratus tahun bagimu... untuk bisa melawan ku! Dasar... " kata Amanda dengan Silent-nya yang memerah karena marah.
Andika langsung panik dan kaget.
"He.. Hentikan Andika! julukan untuk ibumu itu menuruni mending nenekmu dulu, si Ratu medusa merah muda" kata Erlan yang juga ketakutan melihat Amanda.
KRK! Urat kesal Amanda langsung muncul.
"Kau akan... makan malam bukan!? BENAR BUKAN!?" bentak Amanda sampai suaranya bergema.
"I.. IYA BU!! Bbr.... bbr... " Andika langsung ketakutan.
Di meja makan...
"Makan cepat" kata Amanda.
"Tapi aku belum lapar!" kata Andika.
"Ng???" tanya Amanda yang Silent-nya aktif kembali.
"Bbrr..... se... seram" kata Andika, Amir hanya memeluk Umar dengan ketakutan, Erika hanya ketakutan diam.
"Habiskan makananmu! Ibu akan ke rumah Zeydan untuk mengembalikan konsol gamenya dan berterimakasih karena meminjamkannya" kata Amanda.
"A.. Ah! Bu! aku masih mau main!" kata Andika.
"Apakah pekerjaan rumahmu sudah kau selesaikan???" tanya Amanda sambil tersenyum mengintimidasi.
"Si... Silahkan kembalikan bu, aku sudah puas bermain" kata Andika yang merinding tingkat atas.
"Ok, Erlan... titip anak-anak ya" kata Amanda.
"Ya sayang"
KLAP! Pintu dapur di tutup.
"Tuh kan! gara-gara kak Andika kayak gini! aku jadi gak bisa nonton tv karena dilarang Mama!" kata Erika.
"Bahkan kami tidak boleh bermain PS! padahal kami baru pulang dari Arab Saudi!" kata Amir dan Umar setuju dengan Amir.
"Duh! kalian tidak tahu kah!? bahkan kalau Ibu marah, rumah bisa hancur di buatnya" kata Erlan.
"Sungguh!?" tanya mereka berempat.
"Yah, Ibu kalian dulu sebenarnya ingin di jadikan atlet karate karena kepintaran dan kekuatannya yang di atas rata-rata, tapi ia menolak" kata Erlan.
"Eh!?? kenapa?" tanya Mereka berempat lagi.
"Hmf... aku rasa, kalian perlu bertanya sendiri padanya" kata Erlan sambil bertopang dagu tersenyum dan menatap foto pernikahannya dengan Amanda di meja.